Menu

Jejak Imigran Cina, dan Asal Usul Tionghoa Muslim di Madura

Jejak Imigran Cina, dan Asal Usul Tionghoa Muslim di Madura
Salah satu jejak Cina Muslim berupa kuburan dan prasasti nisan kuna di Batang-batang, Sumenep. (Foto/Mata Madura)
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Sejarah Madura, khususnya di bagian Timur bisa dikata lebih awal dari bagian Barat. Hal itu tidak lepas dari berkat kemajuan-kemajuan yang dicapai Aria Wiraraja setelah menjadi adipati di Sumenep pada abad ke 13.

Di masa itu ke belakang, transportasi masih sangat bergantung kepada transportasi laut. Oleh karena itu, minat para pedagang akan jatuh kepada lokasi-lokasi ramai, yang mana hal itu lebih memungkinkan mereka untuk berniaga. Jalur pesisir utara Jawa adalah pilihan yang sudah biasa dilalui armada pedagang internasional hingga ke perairan Lombok. Tak terkecuali pedagang Arab yang juga sampai ke Madura bagian Timur. Sudah menjadi lumrah, para penyeru dakwah menyertai perjalanan para peniaga dari Arab tersebut.

Nisan “Kiai” di Batang-batang

Galibnya, di mana-mana, orang-orang Cina biasanya beragama Konghucu atau Budha. Namun, belakangan banyak ditemukan agama mereka yang sudah berpindah ke Katolik maupun Protestan karena alasan-alasan strategis pragmatis, seperti keamanan dan ketenteraman, utamanya dalam berbisnis.

Di Nusantara, khususnya di masa-masa awal, orang-orang Cina juga dimusuhi oleh penduduk setempat termasuk penduduk karena perbedaan agama. Namun tidak di Madura.

Di sebuah perkampungan yang dikenal dengan pemukiman Radin di Desa Tamedung, Kecamatan Batang-batang, ada sebuah makam kuna yang masih original. Berdasar inkripsi batu nisan, makam itu diidentifikasi sebagai makam Kien Bie Seng.

Dari namanya, bisa diduga dengan tepat beliau bukanlah orang asli Nusantara, khususnya Madura. Beliau memang warga asing, tepatnya warga berdarah Cina yang hijrah ke belahan timur pulau Garam.

“Menurut keterangan para sesepuh, Kien Bie Seng ini adalah anak Kapitan Kien atau Keng, dari Kerajaan Sriwijaya,” kata Abdul Warits, salah satu peminat sejarah yang berasal dari Tamedung, pada.

Meski berdarah Cina, makam Kien Bie Seng menunjukkan ciri khas makam kuna Islam. Prasasti makam juga ditulis menggunakan paduan huruf arab dan carakan.

Warits sendiri menyebut Kien Bie Seng dengan awalan Kiai. “Jadi yang dikenal di sini beliau bernama Kiai Kien Bie Seng atau Bien Seng,” katanya.

Prasasti nisan memang tertulis Kien Bie Seng. Sehingga bisa saja kata Kien lambat laun dilafalkan menjadi Kiai. “Bisa jadi begitu (Kien menjadi Kiai; red),” imbuh Warits.

Warits mengaku tidak memiliki riwayat khusus tentang hal itu. Kemungkinan sebutan kiai pada Kien Bie Seng sebagai gelar ketokohan, yang tidak identik dengan gelar keilmuan di bidang agama. “Meski banyak tokoh-tokoh kiai di bagian timur Sumenep ini yang juga bernasab ke Kiai Kien Bie Seng dan Buju’ Nipa,” ungkapnya.

Selain nama, di batu nisan Kien Bie Seng, tertulis masa hidup beliau hingga akhir hayatnya. Dipadukan dengan keterangan Warits, beliau lahir di tahun 1602, dan wafat di tanggal 20 Shafar 1793 Masehi. Namun mengenai tahun lahir tersebut belum bisa dipastikan sebagai tahun Masehi. Karena Madura juga mengadopsi tarikh Jawa, seperti tahun Saka, yang merupakan paduan Masehi dan Hijriah.

“Juga ada tahun yang memakai sandi dengan huruf hijaiyah, seperti misalnya tahun wawu,” kata pemerhati sejarah di Sumenep, R. B. Nurul Hidayat.

Mengenai kisah hidup Kien Bie Seng tidak ada keterangan tertulis. Riwayat lisan di Tamedung sendiri, menurut keterangan Warits juga sangat minim. Hanya saja, menurut salah satu keterangan, di daerah tersebut juga disebut sebagai lokasi terdamparnya 6 tentara Tartar atau Mongol, yang salah satunya ialah kakek Lau Piango, arsitek Masjid Jami’ dan Keraton di masa Panembahan Sumolo (1762-1811 M).

“Muncul kemudian dugaan Kien Bie Seng ini salah satu dari 6 tentara itu. Namun apakah itu benar masih belum bisa dipastikan,” tambah Warits.

Keturunan Kien Bie Seng lantas berasimilasi dengan penduduk pribumi. Kemudian menyebar di bagian pesisir Sumenep atau pantura hingga Pasongsongan. Sementara yang ada di Tamedung, salah satu keturunan Kiai Bein Seing ada yang diperisteri salah satu ulama di sana, tokoh yang diyakini sebagai waliyullah di Sumenep, yaitu Buju’ Nipa.

“Keturunan beliau rata-rata dahulu dipanggil Radin atau Raden, karena konon Buju’ Nipa masih ada hubungan darah dengan keluarga keraton,” tutup Warits.

Masyarakat Cina Muslim Pasongsongan

Selain Batang-batang, justru ada masyarakat Cina di Kecamatan Pasongsongan. Komunitas Tionghoa ini beragama Islam, hidup di perkampulan muslim, dan berbaur dengan masyarakat muslim asli Madura.

Dalam sebuah studi umum, orang-orang Cina dikatakan selalu terdiskriminasi secara ras. Dengan begitu, secara pragmatis apabila ingin bertahan di daerah-daerah pedalaman, maka mau tidak mau harus menjalani akulturasi dengan budaya dan agama setempat. Sehingga bisa saja menjadi alasan perpindahan agama kepada Islam adalah karena alasan pragmatis.

Namun di Madura, salah satunya yang diperkuat oleh penelitian M. Ali Humaidi, tercatat bahwa orang-orang Cina di kampung Pasongsongan sudah muslim dari sejak nenek moyang mereka. Sehingga dimungkinkan, alasan diskriminasi ras yang berujung pada “keterpaksaan” berpindah agama, sangat kecil.

Dalam sebuah kisah, nenek moyang masyarakat Cina di Pasongsongtan bermarga King. Sehingga banyak dari keluarga mereka ini yang memakai “K”. Sehingga lebih membumi, seperti halnya “K” lain yang merupakan singkatan kiai.

Menurut ulasan Gayatri M, leluhur mereka bernama King Pangkeng, yang menurut cerita makamnya saat ini ada di Ampel Surabaya. Konon ia diambil menantu oleh kerajaan Sriwijaya yang kemudian mempunyai dua orang putri, yaitu Tiesi dan Caul. Caul dinikahkan dengan sepupunya yang bernama Biangseng. Akhirnya Caul meninggal dan kemudian Biangseng dinikahkan dengan adiknya yaitu Teisi. Dari pasangan Biangseng dan Tiesi kemudian dikaruniai anak bernama Cabun.

Setelah meninggal, Biangseng dikuburkan di Ampel dan diberi gelar Tumenggung Ongkowijoyo. Orang-orang Pasongsongan mengklaim bahwa Ongkowijoyo yang berguru langsung ke Sunan Ampel itu adalah nenek moyang mereka. Mereka menyebutnya dengan Buju’ Ampel.

Lalu, apakah ada hubungannya dengan Kien Bi Seng di Batang-batang? Nama King Pangkeng dan Biangseng memang ada sedikit kemiripan.

”Bisa jadi ada hubungan, karena kedua riwayat, baik dari Batang-batang maupun Pasongsongan, terdapat kaitan dengan kisah hubungan dengan Sriwijaya,” kata Abdul Warits, salah satu narasumber di atas.

RM Farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Olahraga

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: