Pemerintahan

Kapolda Jatim Berdarah Madura

×

Kapolda Jatim Berdarah Madura

Sebarkan artikel ini
Kapolda Jatim Berdarah Madura
Kapolda Jatim Irjen Pol Teddy Minahasa Putra

Pryadi Satriana

Bukan ‘ajaib’, tapi ‘aneh’! Mestinya ‘ndhak perlu seneng’, malah harus bertanya: Kok ‘aneh’? Ada apa ‘dibaliknya’? Kita seneng yg ‘aneh2’, tanpa mau mikir, tanpa mau tanya: ada apa dibalik ‘keanehan’ itu! Saya beri contoh lain spy jelas: ‘misteri’ pembelian ratusan pesawat Boeing & Airbus dari oleh Lion Air. Itu ‘aneh’. Lion kok bisa ‘beli’ pesawat sebanyak itu. Kredit pun ada aturannya, yg kalau ‘aturan umum dipakai’, tampak ‘aneh’ Lion bisa dapat ‘loan’ dari bank export-import di AS itu. Pinjaman dalam dollar itu! Ya, dalam dollar! Pembelian pesawat itu ‘menghidupkan’ ekonomi AS. Menyerap ratusan ribu tenaga kerja AS. Termasuk tenaga kerja dari supplier dari 43 negara bagian! Transaksi itu akan menyerap banyak tenaga kerja AS! Di kita: akan menguras banyak devisa! Siapa ‘dibalik’ Rusdi Kirana? Siapa ‘sleeping partners’ (baca: pemodal) Rusdi Kirana? Yg jelas pengusaha! Pengusaha ‘kelas paus’, ndhak lagi ‘kelas kakap’! Siapa dia? Si ‘Chaplin’? ‘Kapten Haddock’? Kombinasi keduanya yg mendukung capres tertentu? Jadi, saya mau mengingatkan Anda: jangan dukung capres yg didukung ‘pengusaha paus’! Ndhak ada ‘makan siang gratis’! ‘Modal disetor’ para ‘pengusaha paus’ itu ‘akan ditarik pada waktunya’, ingat itu! Ingat: Anies ‘ndhak punya modal’, seperti juga Ganjar! Yg punya ‘modal’ ya Ketum Parpol , krn Capres diusung oleh mereka! Modal lain: ‘fulus’! Tanpa kedua ‘modal’ itu harus dapat ‘restu’ dari Ketum Parpol. Jadi, mestinya judulnya ‘FIFA Aneh’, bukan ‘Horeeee FIFA’. Salam.

Liam Then

Saya membayangkan ada acara rutin di televisi, targetnya pemirsa anak-anak. Temanya kompetisi, apa saja. Kelereng, lompat tali, cakalele, kejar bulan, benteng-bentengan. Dalam bentuk kartun ataupun langsung live action, atau dikemas secara reality show. Di akhir acara harus selalu ada adengan ini, pihak yang kalah menyambangi pihak yang menang. Kemudian berkata : ” saya/kami kalah, selamat. Kami kalah baik. Tapi besok , nanti, kami akan lebih baik lagi, dan kami akan mengalahkan anda!” Kemudian mereka bersalam-salaman….cieeeeee….mungkin begitu komentar anak jaman sekarang, yang sering di suguhi acara dorong-dorongan, jatuh menjatuhkan oleh selebriti yang sedang lawakan. Penonton menertawakan orang yang terpuruk jatuh. Sikap mental ksatria dalam kompetisi, perlu di tanamkan sejak dini. Ini yang sudah hilang dari televisi. Mawas diri perlu diterapkan sejak dini. Di Indonesia ada darurat kondisi, dimana semua merasa paling benar, paling bagus. Kondisinya sedemikian akut, sehingga tercampur baur, antara menang kalah, benar salah. Manusia mahluk sosial, apa yang sering dipaparkan bisa dianggap kejadian wajar dan sudah seharusnya. Disinilah tugas pemimpin sebenarnya, pemimpin dalam arti kata sebenarnya. Menentukan arah. Bukan cetak baliho besar-besar atas biaya anggaran dinas ,yang tidak ada gunanya itu ,kepada masyarakat.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

KPU Bangkalan