Menu

Kasek MTS Darul Hasan: Sumbangan UNBK Jangan Jadi Beban Wali Murid

Kasek MTS Darul Hasan: Sumbangan UNBK Jangan Jadi Beban Wali Murid
Saat pertemuan wali siswa Mts Darul Hasan dengan madasarah untuk membicarakan partisipasi pelaksanaan UNBK (foto dok)
Link Banner

matamaduranews.comBANGKALAN-Kepala MTs Darul Hasan, Dusun Pocokan, Desa Lajing, Arosbaya, Bangkalan, Madura, Abd. Karim, S. Pd menegaskan bahwa kontribusi uang Rp1 juta sebagai penunjang pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sudah berjalan yang ketiga.

Dikatakan, iuran Rp 1 juta sudah berlangsung sejak 2018 berdasar hasil kesepakatan wali siswa. Sekolah tidak menjadikan beban kepada para wali murid.

Pelaksanaan UNBK membutuhkan dana yang tidak sedikit. Keterbatasan sarana dan prasarana membuat madrasah harus mengeluarkan dana ekstra.

“Dana operasional pelaksanaan UNBK dengan puluhan peserta didik kelas 9 MTs Darul Hasan tersebut tidak sedikit. Madrasah kami masih berstatus swasta. Kami harus mengikuti pola ujian dengan UNBK. Itu sudah menjadi kesepakatan wali siswa,” terang Abd. Karim kepada Mata Madura, Sabtu (9/11/2019)

Menurutnya, iuran Rp 1 juta per siswa bukan pungutan. Tapi sumbangan sukarela yang sudah disepakati oleh 23 wali siswa. Besaran Rp 1 juta untuk memenuhi kebutuhan UNBK dan biaya lain-lain.

“Semua itu sudah dibicarakan antara komite, ketua yayasan, kepala madrasah, panitia dan orang tua siswa,” tambahnya.

Abd. Karim mengklaim semua wali siswa sudah setuju dengan nominal sumbangan tersebut. Karena wali siswa ingin putra putrinya mengikuti perkembangan dan peningkatan pelaksanaan ujian secara profesional, UNBK.

Dari sumbangan tersebut, Abd. Karim menyebut sudah transparan serta mendapat kesepakatan dari komite madrasah berdasar hasil musyawarah mufakat biaya UNBK sebesar Rp 1 juta. “Besaran dananya juga bisa dipertanggungjawabkan secara transparan,” ucapnya.

Menurut Abd. Karim, sumbangan Rp 1 juta diputus bersama antara pihak madrasah dan wali murid, tidak ada masalah. Sebaliknya, jika wali murid ada yang keberatan, baru bisa dipersoalkan.

“Kalau keputusan bersama sah-sah saja, tidak ada yang dirugikan dan keberatan,” tuturnya.

Saat musyawarah bersama antara wali murid dan madrasah, tambah Abd. Karim, tidak ada wali murid yang keberatan. Pihak madrasah sudah meringankan dengan proses dicicil selama kurun waktu tiga bulan. Mulai 31 Januari 2020.

“Kami sudah mengadakan rapat dengan 23 wali siswa kembali pada tanggal 8 November 2019, hasil rapat menyatakan bahwa semua setuju dengan sumbangan 1 juta. Jika ada wali siswa yang keberatan, bisa berkomunikasi dengan pihak madrasah,” jelasnya.

Soal keluhan wali siswa atas sumbangan Rp 1 juta, Karim menyebut karena yang bersangkutan tak hadir dalam rapat di MTS Darul Hasan.

“Ada wali siswa yang merasa dirugikan. Dia adalah wali siswa yang tidak hadir di dalam rapat. Sesuai di daftar hadir tidak ada nama Makmun dalam catatan kami. Jika ada keluhan dirinya memohon agar segera klarifikasi ke sekolah langsung agar tidak jadi isu liar yang berkembang di masyarakat,” harap Abd. Karim.

“Tidak ada bunyi penekanan Rp 1 juta. Orang tua siswa secara sukarela memberikan sumbangan untuk kemajuan sekolah, serta sudah disepakati secara bersama,” tegasnya

Karim berencana pelaksanaan UNBK mengekor ke MTs Negeri. Namun, para wali murid keberatan. Dengan alasan biaya yang ditanggung wali murid lebih mahal.

“Wali siswa tidak mau jika ujian UNBK diikutkan dengan sekolah negeri. Karena biaya yang dikeluarkan lebih besar dan aksesnya lumayan jauh jika harus ke kota,” tuturnya

Karim memastikan, aturan yang memperbolehkan pungutan tersebut karena sekolahnya swasta. “Sekolah swasta itu biaya operasionalnya kan tinggi,” ceritanya.

“Kami menjamin bahwa sumbangan tersebut transparan, dan saya sesuaikan dengan kualitas pendidikan yang lebih baik,” tambahnya.

Sementara ketersediaan komputer di Mts Darul Hasan masih kurang. Yang tersedia baru 7 komputer.

Menurutnya, ujian nasional dengan menggunakan sistem komputerisasi dinilai lebih menguntungkan bagi siswa. Dari segi waktu pelaksanaan, UNBK lebih hemat waktu sekitar 30 menit. Siswa tidak repot melingkari jawaban, karena tinggal klik di komputer dan bisa langsung menjawab pertanyaan.

“Semoga orang tua lebih mengerti, dan bisa berkomunikasi baik dengan pihak sekolah, agar tidak menjadi bola liar isu yang berkembang di masyarakat,” tutupnya.

Syaiful, Mata Bangkalan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Budaya

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional