Mempelajari Kepribadian Metafisik
Peresensi: Muhtadi.ZL*)

Mata Madura - 07/01/2022
Mempelajari Kepribadian MetafisikPeresensi: Muhtadi.ZL*)
Mempelajari Kepribadian Metafisik - (A. Warits/Mata Madura)
Penulis
|
Editor Rafiqi

Mimpi selalu menjadi tanda tanya besar bagi umat manusia, terlebih ketika bermimpi bertemu dengan binatang buas, memakan api, tidur di lautan lepas, dimakan ombak, dibawa angin, dan seterusnya. Dan tidak banyak dari kita yang bisa menafsiri mimpi tersebut, mengingat kapasistas keilmuan kita yang tidak bisa menjangkaunya. Tidak heran apabila mimpi bagi sebagaian orang sangat ditunggu takwilannya untuk mewanti-wanti apa yang sebenaranya akan dihadapi.

Problematika di atas tersebut bisa dijawab dengan membaca karya ulama terkemuka, Ghiyats ad-Din Abu al-Fatah Umar bin Ibrahim Khayami an-Naisaburi, atau lebih dikenal dengan, Umar Khayyam. Ulama yang pada hakikatnya lebih dikenal sebagai ulama astronomi, matematikawan dan sastra. Meski demikian, kredibilitasnya dalam ilmu metafisik tidak diragukan lagi. Hal tersebut terbukti dengan adanya kitab Ta’bir al-Manam, atau digubah menjadi Tafsir Mimpi, sebuah buku panduan yang sangat praktis bagi kita yang selalu mempertanyakan maksud dari mimpi kita sendiri.

Mimpi itu terbagi menjadi tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan dan kabar gembira dari Allah. (HR. Bukhori). Hadits tersebut seolah merupakan representasi yang ada dalam setiap lembaran dalam buku ini. Hanya saja, lebih spesifik makna hadits tersebut ditakwilkan ke berbagai macam mimpi manusia. Seperti kalau bermipi melihat Srigala, itu menandakan musuh yang dungu. (Hal. 79) atau bermimpi melayani beberapa Singa, maka itu menandakan pemimpi akan melayani penguasa. Karena melihat realitas, singa merupakan penguasa hutan liar, tidak heran apabila—oleh Umar Khayyam—singa diibaratkan penguasa. Begitupun dengan srigala, kita ketahui bahwa srigala lebih kita kenal sebagai binatang yang memang tidak tahu perhitungan, lebih spesifiknya dungu.

Tidak hanya takwil mimpi binatang buas saja yang termaktub dalam buku ini, bermimpi dengan organ tubuh manusia, berbicara dengan raja atau sultan, melihat benda-benda angkasa, melihat senjata, bermimpi melihat kuburan orang dst. Pun diterangkan dalam buku ini hal apa saja yang perlu diperhatikan ykani bagaimana kita menakwilkan mimpi yang kita alami dan menjalaninya ketika tiba waktunya. Sebab, mimpi bisa saja bukan hanya kembang tidur belaka. Terkadang mimpi bisa menjadi salah satu cara untuk mengambil keputusan. Dari hal itu pula, tidak mengherankan apabila banyak dari kita yang selalu mencari penafsir mimpi yang kredibel untuk dimintai keterangan lanjutan terhadap mimpi yang kita alami.

Secara spesifik, buku ini hendak mengajak kita untuk mempelajari hasil dari sistem kerja sebuah mimpi. Karena memang demikian adanya, mengingat semua yang dideskripsikan merupakan suatu betuk padanan yang menjadikan manusia tahu terkait alam metafisik. Meski tidak secara terperinci, setidaknya dengan adanya penakwilan mimpi semakin mempermudah kita untuk tidak menutup mata terhadap ilmu yang memang tidak banyak diajari ketika duduk di bangku sekolah formal.

Namun yang jelas, semua yang terkandung dalam buku ini layak untuk dijadikan bahan referensi sebagai kajian retorik dalam memahami disiplin ilmu. Kajian ilmiah terkait mimpi bisa memberikan pemahaman singkat terkait sistem keja regulasi mimpi itu sendiri. Akan tetapi, hal yang perlu disayangkan ialah tidak adanya stimulus di awal buku terkait apa itu mimpi dan bentuk-bentuk mimpi. Sehingga, ketika membaca buku ini sedari awal sampai akhir seolah ada yang menganjal.

*) Muhtadi.ZL, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah (HES) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->