Menu

Menjadi Pelajar yang Optimis

Menjadi Pelajar yang Optimis
Menjadi Pelajar yang Optimis. (By Design A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

Setinggi apapun pendidikan yang kita tempuh atau sebanyak apapun gelar akademik yang kita raih, setidaknya sikap sombong tetap harus dihindari. Karena teringat pepatah lama, di atas langit masih ada langit. Begitupun kehidupan. Sepatutnya hanya syukur yang boleh kita sombongkan kepada diri kita sendiri. Sebab, dengan cara ini akan membawa kita seperti padi. Semakin banyak ilmu yang didapat semakin membuat kita mendunduk, dan tidak seperti kebalikannya. Congkak!

Dalam mencari ilmu sabar menjadi ujian yang kerap mendatangi. Dengan kekuatan sabar yang kokoh dan kuat, kita tidak akan mudah naik pitam ketika menerima gunjingan atau olok-olokan. Dengan sabar pula (kadang) kita bisa percaya diri, karena kita tahu kadar kemanusiaan orang lain sampai di mana.

Seperti dalam buku ini, di mana Nadirsyah Hosen mengambil jurusan yang berbeda dan dilakukan secara serempak. Beliau mengambil jurusan Hukum Umum dan Hukum Islam. Kedua jurusan tersebut beliau rangkap semasih kuliah di Australia. Dengan sabar yang kuat akhirnya beliua bisa menyelesaikan dua jurusan sekaligus. Hal itu tentu beliau lakukan dengan auto-sabar yang sangat ekstra. Sehingga, apa yang beliau dapatkan sekarang, ia menjadi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama di Australia dan New Zaeland. Bukan hanya itu, beliau juga menjadi dosen hukum tetap di Univeritas Monash, perguruan tinggi internasional. Karena pendidikan bagaimana mengubah seseorang untuk melakukan lompatan luar biasa, itulah tugas pendidikan. (Hal.106)

Bukan hanya Gus Nadir—sapaan akrabnya yang menggunakan sabar dalam menjalani hidupnya. Maman Suherman juga demikian. Notulen dalam acara TV Indonesia Lawak Klub (ILK) ini menggunakan sabar sebagai pijakan dalam menentukan hidup. Meski semasa kuliah di FISIP-UI beliau pernah hampir menyerah, akan tetapi itu justru menjadi pecut baginya untuk tetap bangkit untuk menggapai yang ingin ia raih. Seperti itulah hidup, menjadikan masalah sebagia pelecut bukang pengecut.

Buku yang tidak teramat tebal ini, menyajikan topik ringan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang di berbagai sub kolaborasi dua penulis ini memaparkan pengalaman pribadinya. Dalam masa sulit pun sedikit mereka singgung sebagai bahan ajaran bagi pembacanya.

Kehadiran buku ini memberikan motivasi yang cukup dominan dalam bersosial. Banyak hikmah yang terselip dalam setiap pragrafnya. Walaupun tidak semua yang ada dalam buku ini bisa kita terapkan, setidaknya dalam buku ini sudah menjadi pandangan dalam melakukan hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan.

Pendidikan teramat penting dalam kehidupan utamanya bagi kita yang berada di Negara sekuler. Dengan berpendidikan kita akan dianggap ada dan kita akan menjadi orang yang baik, sebab kita tahu kualitas pikiran orang lain. Meski kita sudah baik, setidaknya masa lalu yang pernah menemani, tidak boleh kita lupa. Tidak ada orang baik yang tidak mempunyai masa lalu dan tidak ada orang jahat yang tidak mempunyai masa depan (Hal.169). Sebab semua orang pasti mempunyai masa lalu dan masa depan. Meski terkadang masa lalu tidak pernah menjamin masa depan dengan baik, tetapi masa depan selalu menjamin masa lalu akan baik karena tertutupi.

Hal yang paling ditakuti dalam berpendidikan adalah ketika kita hanya memiliki pengetahuan yang sedikit atau dangkal. Berbagai problem akan banyak muncul, sebab bisa jadi orang yang memiliki pemikiran dangkal bisa mengajak orang lain ke jalan yang tidak semestinya. Seperti ustaz gadungan yang mengeluarkan dalil, lalu dengan mudah mengatakan, ini haram, ini bid’ah, ini-itu tidak boleh. Orang seperti ini patut diwaspadai dalam bidang keilmuannya. A little knowledge is a dangerous think “pengetahuan yang sedikit adalah yang berbahaya.” (Hal.138)

Walaupun kita harus terpuruk dalam suatu keadaan, sepatutnya kita tidak menjadikan keterpurukan itu sebagai masalah dalam mengejar cita-cita. Justru kita harus yakin dan percaya bahwa kegagalan adalah awal dibukannya pintu kesuksesan. Dan jangan lupa bahwa apa yang akan atau hendak kita kerjakan naiatkan semata untuk Allah, sebab tak ada yang abadi di dunia ini kecuali dzat-Nya, sang pemilik segalanya. Kemuliaan terbesar dalam hidup adalah bukan tidak pernah jatuh, tetapi bangkit setiap kali jatuh. (Hal.199)

Buku yang sangat ringan untuk dibaca ini patut dijadikan contoh pasif dalam mengejar cita-cita di dunia pedidikan. Utamanya bagi kalangan pelajar, entah yang berstatus SLTP, SLTA atau PT sekalipun. Dengan mengambil sampel dua orang yang sekarang sudah menjadi sorotan, tentu bisa menjadi rujukan kuat. Mayoritas redaksi yang digunakan dalam buku ini tidak sulit, justru jenaka, karena kita tahu Kang Maman sebagai komika, dan Gus Nadir sebagai dosen yang juga humoris.

Untuk lebih mengetahui bagaimana jadinya jika dua orang yang berbeda profesi memadukan pemikirannya ke dalam buku? Tentu ini merupakan hal baru. Hal tersebut baru tersaji dalam buku “Hidup Kadang Begitu” yang dikarang oleh Nadirsyah Hosen dan Maman Suherman. Dengan hadirnya buku ini, banyak motivasi untuk menjadikan kalangan lain terhipnotis agar tetap belajar dan mengimplementasikan keilmuannya ke banyak orang. Wallahu A’alam

*Penulis Pengurus Perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Tasawuf

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: