Menu

Nyai Wardah Mahfoudh; Kreator Syair Madura dari Annuqayah

Nyai Wardah Mahfoudh; Kreator Syair Madura dari Annuqayah
Nyai Wardah dan salah satu karyanya yang ditulis hurup arab di atas kertas. (matamadura)
Link Banner

matamaduranews.com-Syair merupakan puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari empat larik (baris) yang berakhir dengan bunyi yang sama.

Sedang pengarang syair sendiri disebut sebagai penyair layaknya sebutan bagi pengrajin puisi.

Dalam khazanah bahasa Madura, syair adalah karya sastra bernilai tinggi yang tak sembarang orang dapat menulisnya.

Adalah Wardah Mahfoudh, salah satu Nyai Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Sawajarin, Guluk-Guluk, Sumenep, dikenal sebagai pengarang Syair Madura. Tapi seluruh karyanya tak pernah terpublikasi.

Namun, putri kedua pasangan Kiai Mohammad Mahfoudh Huzairi dan Nyai Arifah ini, ternyata sudah gemar menulis Syair Madura sejak tahun 1967.

Hanya saja, karyanya ia catat dalam lembaran-lembaran kertas yang kini sudah lapuk dimakan usia.

Baru sekitar tahun 2007 lalu, Nyai yang dilahirkan di Sumenep pada tanggal 27 Juli 1955 ini, membukukan sebagian syairnya secara lebih layak.

Di lingkungan Guluk-Guluk, Nyai Wardah memang terkenal suka berbagai macam kesenian. Di antara kesenian yang disukainya adalah Musik Ras Arab, Qiro’atil Qur’an dan Menyanyi.

Bahkan diusianya yang ke-25, beliau sering diundang untuk mengisi beberapa acara.

Seperti pengakuan Achmad Irfan, putra bungsunya yang kini masih menyimpan hasil rekaman Nyai Wardah.

Maka amatlah wajar jika putra sulungnya, M. Faizi kini dikenal sebagai Sastrawan Tingkat Nasional. Sebab ibundanya memang mencintai dunia Syair dan olah vokal.

Dari ibundanya, darah seni mengalir dalam darah M. Faizi sebagai putra pecinta seni.

Dalam hal tarik suara, ibu empat anak ini memang sangat bagus. Bahkan, dari saking fasih dan merdunya, Nyai Wardah pernah disangka sebagai dosen Instika bidang bahasa Arab oleh Nyai Fadilah, seorang tamu dari Makkah al Mukarromah.

Sementara Nyai Fadilah hampir tidak percaya kalau sebenarnya Wardah Mahfoudh hanyalah Lulusan Muallimat pada tahun 1968 di tempat tinggalnya.

Neng Khatijah Abbas, putri Nyai Thayyibah Mahfoudh & KH Abdul Basith, menyatakan, Nyai Wardah memang sangat pandai menirukan suara orang lain.

“Beliau sangat pandai meniru suara Hajjah Nur Asiah Djamil, pemusik Gambus Irama Padang Pasir,” tuturnya.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Nyai Wardah, bahwa banyak masyarakat yang menyanjung dan tersanjung akan merdu suaranya.

“Banyak masyarakat mengatakan bahwa saya alumnus Mesir, padahal saya belum pernah kemana-mana. Jangankan ke Mesir, ke (pulau) Sapekken saja saya belum pernah,” ujarnya sembari tersenyum, saat ditemui Mata Sumenep, di ruang tamunya, pada tahun 2015, lalu.

Kidung syahdu nan penuh makna tembang-tembang Irama Gambus lantunan Nyai Wardah menyimpan hikmah tersendiri bagi banyak orang.

Nyai Wardah yang sangat terkenal di belantika Musik Gambus tahun 67-an ini, lagu-lagunya tidak saja digandrungi di lingkungan Annuqayah, bahkan banyak yang menggemari kejernihan dan ketajaman suaranya.

Seorang kreator-intelektual Syair bahasa Madura ini, masih saja giat menyusun syair-syairnya.

Hal ini disampaikan langsung kepada Mata Sumenep untuk terus berkarya. Sebab baginya, menulis adalah jalan kedua saat suara tidak lagi kuasa untuk menyampaikan saran kepada masyarakat.

Syair-syairnya banyak berisi tentang pesan, saran serta didikan kepada santri dan masyarakat.

Di antara judul syairnya adalah Khosus dha’ Santre, Thola Pesanten (Madura red), dan masih banyak syair lainnya yang belum sempat dibukukan.

Radja ongghu mun Dusana – santre arasanan guruna, se malanggar paraturan – daddi bibit ataburen, sangkol jubha’ dha’ potona – melo kabbhi katoronanna, malaikat Rokib Atid –  saros-terrosa se ngentip,”

Dalam petikan syair tersebut, ia hendak menyampaikan bahwa dosa seorang murid yang selalu membicarakan kekurangan sanga guru sangatlah besar.

Sesuai dengan hadis Nabi Muhammad Saw, “Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Tahukah kamu apa ghibah itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”.

Nabi bersabda: “Kamu menyampaikan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”. Lalu Rasul ditanya: “Bagaimana jika yang saya sampaikan itu merupakan (kenyataan) yang terjadi pada diri saudaraku itu?”

Nabi Saw bersabda: “Jika yang kamu sampaikan itu benar terjadi pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya. Jika tidak terjadi pada dirinya, berarti kamu telah berbuat dusta kepadanya.” (HR. Muslim).

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan) baik dalam soal jasmaniah, agama, kekayaan, hati, akhlak, maupun bentuk lahiriah dan sebagainya.

Caranya pun bermacam-macam, mulai dari membeberkan aib hingga meniru tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan cara mengolok-ngolok.

Karena itulah, Nyai Wardah merasa penting menyuarakan pengetahuan beliau tentang ghibah tersebut melalui karya syairnya. Meski tak luas publikasinya, setidaknya sudah tersebar di kalangan santri Annuqayah sejak 2007 lalu.

Memang begitu indah dan membahana syair Nyai Pengasuh ini. Tak hanya berisi pengajaran pada para santrinya melalui mahabbah syair.

Bahkan ia menjelaskan bahwa manusia selalu ada dalam pantauan malaikat Rokib dan ‘Atid.

Sebagai pengarang syair, patut kiranya ia disebut sebagai penyair. Meski kini sudah tak sepopular dulu di sebagian kalangan masyarakat sebagai biduanita Musik Gambus, namun girah kepenyairannya patut diteladani para penulis pemula, khusunya Annuqayah.

Darinya kita dapat memetik pesan; menulis bukan untuk terkenal, ia adalah jalan kekuatan saat suara tak bisa diandalkan.

imam rasyidi

Bagikan di sini!
KOMENTAR

3 Komentar

  1. Hamash el Azmy Ahad, 26 Januari 2020
  2. [email protected] Selasa, 28 Januari 2020

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Olahraga

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: