Menu

Puluhan Tahun Nenek di Sampang Ini Hidup bersama Sampah

Puluhan Tahun Nenek di Sampang Ini Hidup bersama Sampah
Nenek Buwat (85) saat berada di halaman gubuk kecilnya yang penuh dengan sampah plastik hasil mulung. (Foto Jamal/Mata Madura)

matamaduranews.comSAMPANG-Seorang nenek lanjut usia warga Dusun Komis, Desa Komis, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang hidup di tumpukan Sampah.

Buwat (85), nama nenek sepuh itu, kondisinya sangat miris bagi seorang yang sudah kini sudah berusia senja.

Ia telah menjalani hidup sebatang kara tanpa seorang suami sejak kesetiaan cintanya putus karena panggilan Tuhan tanpa dikaruniai seorang pun keturunan.

Belum lagi, tempat tinggal yang ditempati oleh Nenek Buwat nampak tidak layak huni.

Sebuah gubuk kecil yang bangunannya hanya terdiri dari anyaman bambu, tempelen papan dan seng ditambah tumpukan sampah plastik di dalamnya tanpa penerangan.

Tak heran, kesehariannya mencari dan mengumpulkan sampah plastik adalah alasan mengapa banyak jenis sampah itu di dalam rumah Nenek Buwat.

“Dari hasil pengumpulan sampah plastik ini kemudian saya jual untuk kebutuhan pokok,” katanya, Jumat (1/01/2021).

Baca Juga: Nestapa Janda Tua Sebatang Kara di Sampang, Tinggal di Sebuah Gubuk

Mencari sampah plastik untuk dijual menurut Nenek Buwat adalah salah satu cara agar terus bias menyambung hidup semenjak ditinggal suami tercintanya.

Hingga kini sudah puluhan tahun lamanya hal tersebut ia lakukan setiap hari.

“Sudah puluhan tahun saya ditinggal suami dan semenjak itulah saya mencari sampah plastik. Walaupun hasilnya tak seberapa, yang penting halal,” ujar Nenek Buwat.

Kondisi bagian dalam rumah Nenek Buwat (85) di Dusun Komis, Desa Komis, Kecamatan Kedungdung, Sampang, yang penuh dengan sampah plastik hasil mulung. (Foto Jamal/Mata Madura)

Di dalam kondisi yang jauh dari kata layak dan cukup itu, sebenarnya Nenek Buwat punya harapan dirinya bisa mendapat bantuan dari Pemerintah.

Namun, warga Desa Komis itu tetap menunjukkan semangat hidup dengan terus berikhtiar dan ikhlas menjalani kehidupannya.

“Ikhlas saja, meski seperti ini keadaan rumah yang saya tempati setiap hari, tak ada penerang lampu bahkan atap rumah pun bocor,” ucapnya, datar.

Sementara Kepala Desa Komis, Ach Slamet ketika dikonfirmasi membenarkan keadaan Nenek Buwat memang sangat memprihatikan.

Baca Juga: Jumlah Kemiskinan di Sampang Meningkat di Tahun 2020

Apalagi, rumah kecil yang ditempatinya selama ini penuh dengan sampah plastik.

“Benar, Mas, keadaannya sangat memprihatikan. Seorang janda tua hidup sebatang kara dan demi mempertahankan hidupnya penuh dengan perjuangan,” kata Slamet, Jumat (1/01/2021).

Nenek Buwat merupakan salah satu masyarakat yang terdata sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) di masa pandemi Covid-19 ini.

Keberadaan janda lansia itu menjadi perhatian Slamet sejak dirinya menjabat Kepala Desa Komis mulai tahun 2015.

“Semenjak duduk jadi Kades saya mengetahui keberadaan beliau. Namun sebelum ada BLT DD, setiap bulan saya rutin membantu beliau dari sembako maupun uang tunai untuk meringankan beban hidupnya,” aku Slamet.

Terkait persoalan rumah yang tak layak huni, Kepala Desa Komis itu mengaku telah dua kali mengajukan kepada Pemerintah untuk mendapatkan bantuan bedah rumah.

“Dua kali sudah saya ajukan (bantuan bedah rumah). Pertama memohon kepada Koramil dan tahun kemarin langsung ke dinas yang menangani, tapi sampai saat ini belum ada titik temu,” pungkas Slamet.

Jamal, Mata Madura

KOMENTAR

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

MMN

Disway

Catatan

Tasawuf

Inspirator

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: