Menu

Soengkono Sidik & Novi Sujatmiko (1)

Soengkono Sidik & Novi Sujatmiko (1)
Bupati Sumenep Achmad Fauzi saat berpidato setelah ikut melaksanakan shalat jenazah untuk almarhum Novi Sujatmiko dan Soengkono Sidik di halaman kantor Pemkab Sumenep, Kamis pagi.(matamadura)
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

Kamis kemarin jadi hari berkabung bagi Pemkab Sumenep. Dua orang yang banyak berjasa di Pemerintahan Kabupaten Sumenep menghadap Allah.

Soengkono Sidik menjabat Wabup Sumenep periode 2010-2015. Novi Sujatmiko sebagai Drektur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar (Perseroda).

Keduanya wafat di Surabaya pada hari yang sama. Hari Rabu petang. Hanya selisih jam.

Sebelum dikebumikan dengan protokol covid-19. Keduanya dishalatkan di halaman Kantor Pemkab Sumenep. Sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk almarhum.

Jenazah sengaja dijadwal datang bergilir dari Surabaya.

Jenazah Novi Sujatmiko dijadwal lebih awal. Jenazah almarhum tiba jam 02.00 WIB. Kamis dini hari.

Jenazah transit di RSUD dr Moh. Anwar sebelum dishalatkan di halaman kantor Pemkab pada jam 07.00 WIB.

Kedua mantan Bupati Sumenep ikut mimpin shalat jenazah.

KH A. Busyro Karim menjadi imam shalat jenazah untuk almarhum Novi Sujatmiko.

Pada jam berikutnya. KH Ramdlan Siradj menjadi imam shalat jenazah almarhum Soengkono Sidik.

Banyak ucapan belasungkawa berseliweran di grup-grup WhatsApp. Facebook dan Instagram.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi seakan tak kuasa menahan haru. Suara Fauzi terdengar serak saat memberi sambutan atas nama Pemerintah Kabupaten Sumenep. Usai shalat jenazah.

Sosok Fauzi terlihat bersahaja. Gesturenya mulai terlihat sebagai pemimpin Sumenep.

“Mewakili keluarga almarhum dan Pemerintah Kabupaten Sumenep. Saya mohon kepada warga Sumenep. Atas segala kesalahan almarhum selama hidup untuk dimaafkan. Semoga amal ibadah almarhum diterima oleh Allah SWT,” tutur Fauzi.

Fauzi menyebut jasa-jasa almarhum cukup besar untuk memajukan Kabupaten Sumenep.

Fauzi mengaku kehilangan atas kepergian dua sosok almarhum.

Suara Fauzi seperti muncul dari dalam bathinnya. Dia seakan ingin menyampaikan sesuatu. Atau ingin menyampaikan atas kebaikan almarhum.

Sepintas saya ingat sabda Nabi Saw. Agar selalu mengingat kematian.

Bisa jadi. Bupati Fauzi merasa kondisi bathin yang beda. Ketika melihat secara dekat jenazah orang yang selama ini kenal.

Sejak tahun 2000. Saya sering komunikasi dengan almarhum Soengkono. Hingga sebelum menjabat Wabup Sumenep. Tepatnya saat menjabat Kepala Bappeda Sumenep. Ada banyak kisah dari almarhum Soengkono.

Begitupun kenangan dari almarhum Novi Sujatmiko.

Banyak inspirasi yang tercetus dari pribadi almarhum.

Semula saya ingin simpan kenangan itu dalam bathin. Tapi ada teman yang membisikkan untuk menulis kisah yang penuh inspirasi dari kedua almarhum.

Bisikan itu saya sanggupi.

Benar. Ingatan atas kebaikan kedua almarhum bikin hati saya membuncah.

Dibanding dosa-dosa yang melekat pada diri pribadi saya. Tak terhitung berapa dosa yang sudah saya perbuat.

Saya mencoba merenung atas dosa-dosa yang selama ini saya perbuat.

Hati mulai tenang. Ketika ingat kisah-kisah orang terdahulu. Mereka yang berlumur dosa. Tapi masuk syurga Allah.

Sementara ada yang ahli ibadah. Setiap tengah malam bersujud hingga 30 tahun tanpa henti. Tapi di buku catatan malaikat tak ada namanya di penghuni syurga.

Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim).

Kata orang ‘alim. Orang menjadi penghuni syurga karena Rahmat dan Kasih Sayang Allah.

“Allah sangat senang kepada hamba-hamba yang selalu berbuat kebajikan untuk Allah,” pesan orang ‘alim itu.

Lalu orang ‘alim itu bercerita dialog Nabi Musa As dengan Allah Swt:

Musa : “Wahai Allah aku sudah melaksanakan ibadah. Manakah diantara ibadahku yang membuat Engkau senang. Apakah shalatku?

Allah: “Sholat mu itu untukmu sendiri. Karena shalat membuat engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.”

Musa : “Apakah dzikirku?”

Allah: “Dzikirmu itu untukmu sendiri. Karena dzikir membuat hatimu menjadi tenang.”

Musa : “Puasaku ?”

Allah : “Puasamu itu untukmu sendiri. Karena puasa melatih diri memerangi hawa nafsumu

Musa: ”Lalu ibadah apa yang membuat Engkau senang ya Allah?”

Allah: ”Sedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya Aku berada disampingnya. “

Mukasyafatul Qulub karya Imam Al Ghazali mengutip hadits qudsi,”Barang siapa yang ingin menemui-Ku, maka temuilah mereka yang kehausan, mereka yang kelaparan, dan mereka yang kesusahan. Karena sesungguhnya Aku bersamanya.”

Ibadah Shalat Bukan untuk-Ku
Ibadah Puasa Bukan untuk-Ku
Dzikirmu Bukan untuk-Ku
Tapi, Menafkahi orang yang lapar adalah untuk-Ku

bersambung besok…

KOMENTAR

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

MMN

Catatan

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: