Teluk Jakarta Tercemar

matamaduranews.com-Teluk Jakarta tercemar paracetamol. Kandungan obat–yang biasa dikonsumsi masyarakat untuk menyembuhkan kepala pusing dan badan nyeri itu–sudah melewati batasan paramater standar kualitas air laut di Indonesia.

Sebuah studi lingkungan ‘’Konsentrasi Tinggi Paracetamol di Wilayah Perairan Teluk Jakarta, Indonesia’’ yang ditulis peneliti Oseanografi LIPI, menghebohkan masyarakat beberapa hari terakhir.

Penelitian ini melibatkan sampel dari empat wilayah teluk di Jakarta dan satu dari wilayah teluk di Jawa Tengah. Hasil dari penelitian sampel tersebut menunjukkan wilayah perairan tersebut telah terkontaminasi, dan beberapa kandungannya adalah senyawa dari obat-obatan.

Kandungan paracetamol paling tinggi ditemukan pada dua wilayah di Jakarta, yaitu Angke dan Ancol. Di Angke kandungan paracetamol bahkan mencapai 610 nanogram perliter. Sedangkan di Ancol kandungannya mencapai 420 nanogram perliter.

Ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan pencemaran paracetamol di wilayah perairan Indonesia. Studi tersebut juga mengatakan konsentrasi ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang pernah tercatat.

Kasus pencemaran semacam sudah pernah terjadi di Pantai Kenjeran Surabaya pada 1999. Sebuah penelitian menemukan air laut di pantai itu tercemar oleh merkuri dalam kadar yang sangat tinggi dan membahayakan. Kandungan logam berbahaya itu ditemukan pada kerang dan ikan di wilayah pantai itu.

Akibat dari pencemaran itu, anak-anak di wilayah itu mengalami gangguan perkembangan otak. Banyak sekali anak yang mengalami autisme dan retardasi otak. Banyak bayi yang lahir dengan cacat fisik.

Para nelayan dan orang-orang dewasa yang tinggal di sepanjang pantai Kenjeran juga mengalami berbagai penyakit yang aneh yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Temuan ini menghebohkan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur, tapi sekarang sudah menghilang dengan sendirinya, padahal dampaknya masih dirasakan dan tetap terjadi di wilayah itu.

Kasus yang kurang lebih sama sekarang terjadi di Jakarta. Konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta tertinggi dibandingkan dengan tingkat lain yang terdeteksi dan dilaporkan dalam literatur ilmiah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya risiko lingkungan yang terkait dengan paparan jangka panjang, terutama dampak pada peternakan kerang di lokasi itu.

Masih perlu penelitian lanjutan untuk mengungkap penyebab pencemaran ini. Tetapi, kadar kandungan paracetamol yang melebihi ambang batas itu sudah cukup menjadi alarm bagi pemerintah untuk bertindak.

Kasus Pantai Kenjeran bisa menjadi contoh. Wilayah yang menjadi sentra produk makanan laut Surabaya itu menjadi korban buruknya kebijakan lingkungan pemerintah. Berbagai kandungan logam berat ditemukan di perairan Kenjeran.

Kandungan logam berat, seperti kuprum, merkuri, tembaga, timbal, dan cadmium, bertumpuk-tumpuk mengendap serta menggenangi air pantai selama bertahun-tahun. Penelitian yang dilakukan Balai Teknik Kesejahteraan Lingkungan Jatim menemukan, rata-rata kandungan logam berat pada kerang dan berbagai jenis ikan. Rata-rata kadar merkuri 11,35 ppb, kuprum 1.276,16 ppb, dan timbal 913.369. Angka itu sudah berada pada level merah yang berbahaya.

Sementara penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga pada 1996 menunjukkan, darah dari sampel warga Kenjeran mengandung kuprum (Cu) 2511,07 ppb dan merkuri (Hg) 2,48 ppb. Kandungan kuprum di darah warga Kenjeran ini telah melampaui ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta Organsisasi Pangan dan Pertanian (FAO), yaitu 800-1200 ppb.

Pencemaran ini terjadi karena buangan limbah industri di sepanjang sungai Surabaya, yang kemudian bermuara di Kenjeran. Limbah buangan pabrik di sepanjang bantaran Kali Wonokromo, Kali Wonorejo, Kali Dadapan, dan Kali Keputih yang bermuara di Kenjeran, menjadi penyebab utama pencemaran itu.

Pencemaran ini juga mengakibatkan sejumlah biota laut, seperti kerang, kupang beras, dan berbagai jenis ikan tangkapan nelayan, terkontaminasi oleh logam berat yang bebahaya untuk dikonsumsi manusia.

Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa pencemaran itu juga menyebabkan sejumlah burung menghilang dari wilayah Kenjeran. Berbagai jenis burung, seperti Threskiornis melanchepolus, Leptoptilus javanicus, dan Mycteria cinerea, enggan datang ke Pantai Kenjeran.

BACA JUGA :  Inspiratorku: Kiai Menyimpan Misteri

Burung-burung pantai itu memilih beremigrasi mencari pantai yang lebih sehat. Pembabatan hutan mangrove yang merupakan tempat untuk bersarang atau sekadar bertengger burung dan meredam pencemaran laut, membuat krisis lingkungan semakin memprihatinkan.

Tragedi lingkungan nasional yang serius pernah terjadi di Teluk Buyat di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Lokasi ini menjadi pembuangan limbah tailing (lumpur sisa penghancuran batu tambang) milik PT. Newmont Minahasa Raya (NMR).

Sejak 1996, perusahaan trans-nasional asal Denver, AS, tersebut membuang sebanyak 2.000 ton limbah tailing ke dasar perairan Teluk Buyat setiap harinya. Sebuah penelitian menemukan bahwa pada ikan-ikan di perairan Buyat ditemukan benjolan semacam tumor yang mengandung cairan kental berwarna hitam dan lendir berwarna kuning keemasan.

Fenomena serupa ditemukan pula pada sejumlah penduduk Buyat. Sejumlah penelitian yang dilakukan dalam kurun 1999 hingga 2004 menemukan banyak orang dewasa maupun anak-anak yang menderita benjol-benjol di leher, payudara, betis, pergelangan, pantat dan kepala.

Penelitian-penelitian ini dilakukan sebagai respon atas pengaduan masyarakat nelayan setempat yang menyaksikan sejumlah ikan mati mendadak, menghilangnya nener dan beberapa jenis ikan, serta keluhan kesehatan pada masyarakat.

Penelitian itu menemukan kesamaan pola penyebaran logam-logam berat, seperti Arsen (As), Antimon (Sb), dan Merkuri (Hg) dan Mangan (Mn), yang banyak ditemukan di sekitar lokasi pembuangan tailing Newmont. Hal ini mengindikasikan bahwa pembuangan tailing Newmont di Teluk Buyat merupakan sumber pencemaran logam berbahaya itu.

Laporan ini mendapatkan ekspos media yang luas. Tetapi, para menteri yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan kesehatan membantahnya. Tidak ada pencemaran lingkungan di Teluk Buyat. Begitu pernyataan tegas menteri lingkungan hidup.

Menteri kesehatan dengan tegas pula mengatakan tidak ada penyakit aneh di Teluk Buyat. Penyakit yang diderita oleh masyarakat Teluk Buyat adalah penyakit kulit dan akibat kekurangan gizi. Tidak ada tindakan lanjutan terhadap Newmont, tidak gugatan ganti rugi maupun pidana terhadan Newmont.
Penelitian yang dilakukan oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan, yang terjadi di Teluk Buyat adalah kontaminasi sejumlah logam berat: arsen, merkuri, antimon, mangan, dan senyawa sianida. Walhi mendesak pemerintah untuk melakukan verifikasi terhadap keluhan dan penyakit yang diderita masyarakat dan hubungannya dengan pencemaran yang dilakukan Newmont.

Kasus Teluk Buyat mirip dengan kasus Teluk Minimata, Jepang, yang akhirnya menjadi tragedi internasional. Di kawasan Teluk Minamata pada tahun 1906 berdiri pabrik Noguchi Sogi Establishes Co. Minamata pun menjelma menjadi salah satu kawasan industri terkemuka di Jepang.

Tiba-tiba, 50 tahun kemudian, banyak kucing mati dengan cara kejang-kejang. Rumah sakit terkemuka di kawasan Minamata melaporkan sejumlah pasien menderita penyakit dengan gejala serupa dengan kucing kejang. Selama 55 tahun, sejumlah bayi lahir dengan menderita penyakit yang sama, kejang-kejang dan kemudian mati.

Pada awal 1970-an pemerintah Jepang baru menyadari tragedi ini. Ribuan penduduk Minimata mengalami penyakit kejang-kejang yang misterius yang berakhir dengan kematian. Penelitian intensif oleh pemerintah Jepang membuktikan bahwa penyakit itu muncul akibat mengonsumsi ikan yang sudah tercemar limbah beracun logam berat. Penyakit itu kemudian menjadi pandemi dan sampai sekarang dikenal sebagai Penyakit Minimata.

Pemilik Microsoft, Bill Gates, mengingatkan bahwa setelah kita berhasil mengatasi krisis pandemi Covid-19 maka ancaman tragedi selanjutnya akan muncul dari krisis lingkungan. Pencemaran Teluk Jakarta sekarang ini harus segera diatasi. Jangan sampai nanti terjadi tregedi lagi karena muncul penyakit baru yang dinamai ‘’Penyakit Teluk Jakarta’’. (dhimam abror djuraid)

sumber: kempalan

Komentar