Dzun An-Nun Al-Mishri; Peletak Paham Makrifatullah (1)*

Dalam kajian tasawuf tangga tertinggi adalah makrifatullah.  Dzun an-Nun al-Mishri  seorang sufi pertama yang meletakkan faham makrifatullah. Beliau yang membedakan metode makrifat sufiah dan metode makrifat aqliyah. Pendekatan qalb, yang dimiliki para sufi dalam mengenal Allah Swt. Dan pendekatan aqliyah yang biasa dilakukan para teolog.

ilsutrasi/google
ilsutrasi/google

MataMaduraNews.com-Dzun an-Nun al-Mishri memiliki nama lengkap Abu al-Faidh Tsauban bin Ibrahim. Dia lahir di Ikhmim, dataran tinggi Mesir Hulu pada tahun 180 H/796 M. Dan meninggal pada tahun 245 H/856 M di Mesir.

Ayah Dzun an-Nun berasal dari Naubi (sebuah negara di Timur Laut Afrika, berbatasan dengan Mesir dan Laut Merah, Padang Libia dan Khortum). Di masa hidupnya, Dzun an-Nun sangat terhormat, alim, wara’, kharismatik dan sastrawan.

Julukan Dzun An-Nun diberikan terkait dengan berbagai karomah yang Allah berikan kepadanya. Di antaranya, ketika menumpang kapal, tiba-tiba saudagar kehilangan permata yang amat berharga. Dzun Nun dituduh mencurinya. Dzun Nun disiksa dan dianiaya serta dipaksa untuk mengembalikan permata yang hilang itu.

Dalam keadaan tersiksa dan teraniaya, ia berdoa. Seketika muncullah ribuan ekor ikan Nun ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata yang lebih besar dan indah di mulut masing-masing ikan. Dzun Nun lalu mengambil salah satu permata dan menyerahkan ke saudagar tersebut. Sejak peristiwa aneh itu, ia digelari Dzun Nun, artinya yang empunya ikan Nun.

Dalam perjalanan hidup Dzun Nun berpindah-pindah tempat. Ia pernah menjelajahi berbagai daerah di Mesir, mengunjungi bait Al-Maqdis, Baghdad, Mekah, Hijaz, Syria, pegununan Libanon, Anthokiah dan lembah Kan’an.
Dalam menimpa ilmu, ia banyak belajar ke sejumlah ulama fiqh, ilmu hadis, dan guru sufi. Salah stau gurunya adalah Ahmad bin Hanbal. Bidang tasawuf, salah satu guru Dzun Nun adalah Syech Syaqran Al-‘Abd atau Israfil Al-Maghribiy.

Bagi peneliti tasawuf, Dzun Nun disebut orang pertama yang memberi tafsir terhadap isyarat-isyarat para pelaku tasawuf. Dzun Nun yang menjelaskan tentang ahwal (kondisi bathin) dan maqamat (kedudukan) para salik menuju pencapaian makrifatullah (mengenal Allah).

Penjelasan Dzun Nun tentang hasil-hasil pencapaian para pelaku (salik) tentu menimbulkan kontroversi. Maklum, di era itu, aneka ajaran tasawuf masih belum populer. Kalah dengan popularitas ajaran fiqh dan teolog.

Sedangkan para pelaku tasawuf di era itu sebatas mempraktekkan ajaran asketisme (zuhud), khauf dan raja’. Belum terbuka memberi ajaran-ajaran tasawuf yang diperoleh dari hasil laku.

Dengan keterbukaan Dzun Nun menjelaskan hasil pengalaman bathinnya, tentu memancing kontroversi di antara ummat. Dzun Nun berhadapan dengan gelombang protes yang disertai dengan tuduhan zindiq. Sehingga menggiring ke jeruji tahanan.

Bersyukur, sang Khalifah Al-Mutawakkil mengerti apa yang dimaksud ajaran Dzun Nun. Sang khalifah membebaskan Dzun Nun dan memberi bekal agar kembali ke kampung halamannya, di Mesir.
Orang-orang yang tidak mengerti selalu mencela Dzun Nun dengan tuduhan kafir, ahli bid’ah, dan murtad. Dzun Nun merespon dengan sabar. Baru setelah Dzun Nun wafat, banyak warga yang mengerti tentang kedekatan Dzun Nun dengan Allah Swt.

Al-Hujwiri dalam kitab Kasyful Mahjub, menceritakan saat malam jelang kematian Dzun Nun, ada tujuh puluh orang yang bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Aku datang menemui Dzun Nun, sang wali Allah.”

Begitupula pada saat penguburan Dzun Nun, burung-burung hijau berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap seakan-akan ingin melindungi jenazahnya. Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan Dzun Nun selama hidupnya.

Dzun Nun Al-Mishri meninggal pada tahun 245 H. Pada hari kedua, orang-orang menemukan tulisan pada nisan Dzun Nun berupa, ”Dzun an-Nun Kekasih Allah, Diwafatkan Allah karena rindu”. Dan yang aneh setiap orang ingin menghapus tulisan itu, tulisan itu tetap muncul seperti sediakala.

*Disadur dari berbagai sumber
BERSAMBUNG…..

Tinggalkan Balasan