Religi

3,3 Juta Jamaah Hadiri Haul ke 19 Abah Guru Sekumpul

×

3,3 Juta Jamaah Hadiri Haul ke 19 Abah Guru Sekumpul

Sebarkan artikel ini
Jamaah Haul Abah Guru Sekumpul
Sekitar 3,3 juta jamaah menghadiri Haul ke-19 KH Muhammad Zaini bin Abdil Ghani atau Guru Sekumpul di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel). Tampak situasi jamaah menjelang Shalat Magrib, Minggu (14/1/2024). Foto: Dok Polres Banjar

matamaduranews.com-Kapolres Banjar AKBP Muhammad Ifan Hariyat menprediksi jumlah jamaah Haul ke-19 KH Muhammad Zaini bin Abdil Ghani atau Abah Guru Sekumpul di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) mencapai 3,3 juta jamaah.

“Perkiraan jumlah jamaah yang hadir mengikuti Haul Abah Guru Sekumpul yang mencapai 3,3 juta, itu kami dapat dari sejumlah provider seluler dari orang yang menggunakan HP saat acara berlangsung,” ujar Ifan di Martapura pada Minggu malam, seperti dikutip dari Antara.

Ifan menjelaskan, jutaan jamaah haul itu bukan hanya dari Kabupaten Banjar dan Provinsi Kalimantan Selatan tetapi ada warga juga dari luar Pulau Kalimantan hingga luar negeri.

Polres Banjar, mendata jumlah bus dan kendaraan roda empat maupun roda dua juga cukup banyak, yakni mencapai 601 bus pada 150 titik yang tersebar di berbagai tempat.

Jumlah kendaraan roda empat dari 196 titik parkir sebanyak 151.119 unit, kemudian motor 1,2 juta dan kapal maupun perahu bermesin atau kelotok sebanyak 533 unit yang sandar pada sejumlah dermaga.

“Jumlah kendaraan sesuai hasil pendataan yang dilakukan Dinas Perhubungan secara manual dan dihitung sesuai masuk kendaraan ke kantong-kantong parkir yang sudah disediakan di berbagai titik,” kata Ifan.

https://www.instagram.com/reel/C2FZg7GrQf1/?utm_source=ig_web_copy_link

Abah Guru Sekumpul diyakini seorang waliyullah. Lahir di Martapura pada 11 Februari 1942 dan wafat pada 10 Agustus 2005.

Tak sedikit karomah Guru Sekumpul dirasakan warga sebelum dan sesudah beliau wafat.

Dahlan Iskan sempat menulis di situs disway.id tentang Guru Sekumpul. Berikut tulisannya:

Sekolah Duduk

Oleh: Dahlan Iskan

TIDAK PERNAH diumumkan secara resmi, tapi orang Kalsel semua tahu: Minggu malam besok adalah haul ke-19 Tuan Guru Sekumpul.

 

“Mungkin sampai dua juta orang yang mengalir ke Martapura,” ujar seorang Muhibin kepada saya tadi malam. Muhibin adalah sebutan untuk pecinta Tuan Guru Sekumpul.

“Apakah ada capres atau cawapres yang datang ke Sekumpul?” tanya saya.

“Tidak ada. Haul Tuan Guru selalu bisa steril dari politik,” tambahnya.

Tuan Guru memang selalu bisa menghindar dari tarik-menarik politik.

Kalau pun ada tokoh politik yang datang diterima biasa saja. Dari kubu mana saja. Pun di zaman kekuasaan mutlak Golkar-nya Orde Baru, Sekumpul tetap netral.

Besok malam itu haul yang ke-19. Tuan Guru meninggal tahun 2005 di usia 63 tahun –sama dengan umur Nabi Muhammad saat meninggal dunia.

Tuan Guru sempat 10 hari dirawat di RS Mount Elizabeth, Singapura akibat gagal ginjal. Lalu kembali ke Martapura. Tanggal 9 Agustus 2005 meninggal dunia.

Kok haul ke-19 dilaksanakan besok malam? Itu karena tanggal 5 Rajab bertepatan dengan 14 Januari 2024. Haul selalu dilaksanakan tanggal 5 Rajab.

Saat meninggal dunia Tuan Guru punya tiga istri. Beliau pernah menikah dengan tujuh wanita. Ada yang dicerai lalu menikahi wanita lainnya.

Dari tujuh istri itu yang berhasil punya anak hanya satu orang. Yakni istri kedua: Hajah Laila. Dua yang lain adalah Hajah Juwairiyah dan Hajah Noorjanah.

Hajah Laila cantik sekali. Saya lihat foto-fotonyi. Dari rahim Laila inilah lahir dua anak laki-laki: Sayyid Muhammad Amin Badali Alaydrus dan Sayyid Ahmad Hafi Badali Alaydrus.

Anak pertama kini berusia 29 atau 30 tahun. Anak kedua setahun lebih muda. Dua-duanya sangat ganteng –seperti Tuan Guru waktu muda. Ukuran badan keduanya juga tinggi: sekitar 185 cm.

Dua-duanya belum menikah.

Dua anak itu sama-sama punya nama belakang Badali –bahasa Arab, artinya ”penggantiku”.

Sahabat Disway di sana menggambarkan bahwa dua-duanya sangat alim. Sangat layak menggantikan posisi Tuan Guru.

Dan memang dua anak inilah yang kini memimpin pengajian Sekumpul di masjid keluarga, Ar-Raudah, Martapura. Dua-duanya hafal Quran.

Saya ke masjid itu tahun lalu: lagi ditutup. Untuk dipugar. Kini menjadi masjid yang sangat besar dan megah. Yang di sekitarnya –sayangnya– penuh dengan pedagang segala macam barang. Masjid itu sampai tidak terlihat dari jalan raya.

Pihak keluarga Tuan Guru tidak punya wewenang mengatur lingkungan di luar masjid. Bahkan itu dianggap sebagai berkah dari Tuan Guru –sudah meninggal pun memberi rezeki kepada begitu banyak orang.

Masjid itu selalu penuh dengan peziarah. Apalagi di saat haul seperti besok malam. Sejak dua hari sebelumnya pun sudah ada yang menggelar sajadah di dekat masjid. Kian dekat ke saat haul, kian jauh sajadah digelar.

Masih beruntung kalau bisa menggelar sajadah di mal Martapura Plaza. Lokasi mal itu sekitar 2 km dari masjid. Selebihnya hanya bisa menggelar sajadah di jalan-jalan, di halaman-halaman rumah penduduk, di emper-emper toko dan seterusnya.

Sekali setahun satu-satunya mal di Martapura itu jadi masjid. Penuh jamaah yang salat dan tahlil.

Tahun lalu Sandiaga Uno datang ke acara haul ke-18. Menteri Pariwisata itu harus jalan kaki 5 km. Untung ia seorang pelari maraton.

Sekumpul adalah nama kampung di tengah kota Martapura. Saat Tuan Guru Sekumpul masih hidup, pengajiannya selalu dihadiri puluhan ribu orang. Seminggu sekali. Ceramah itu disampaikan dalam bahasa Banjar campur Indonesia.

Beliau sendiri memang keturunan ulama besar. Pun kakeknya-kakek. Delapan turunan ke atas adalah seorang ulama besar di Kalsel: di Makkah dikenal sebagai Al Banjari.

Tuan Guru Sekumpul sendiri diakui sebagai ulama terbesar di Kalsel. Dipercaya sebagai Wali. Muhibin juga percaya Tuan Guru sering didatangi Nabi Muhammad.

Masuklah resto masakan lokal di Kalsel: selalu ada foto besar beliau. Bahkan di beberapa toko atau resto milik orang Tionghoa. Pun sampai di Kaltim dan Kalteng.

Beda dengan Sang Ayah dua anak Tuan Guru tidak pernah sekolah ke Makkah. Sekolah formal di Kalsel pun tidak. “Beliau berdua Sekolah Duduk,” ujar sahabat Disway di sana.

Sekolah Duduk adalah istilah setempat untuk semacam ”home schooling”. Guru yang didatangkan ke rumah. Guru apa pun. Lalu ikut ujian persamaan. Sampai tingkat Aliyah –setara SMA.

Seperti juga sang Ayah, dua anak ini tidak pernah tampil. Tidak mau tampil. Pun tidak mau berurusan dengan politik. Keduanya meneruskan tradisi keulamaan yang diwariskan turun-temurun.

Besok malam itu, acaranya dimulai dari salat Magrib. Dilanjutkan pembacaan maulid. Lantas manakib. Lalu, setelah salat isya, dilakukan tahlil. Selesai.

Haulnya hanya satu hari itu. Bahwa ada haul di hari-hari lain itu tidak ada hubungan dengan keluarga. Tahun lalu, gubernur Kalsel juga mengadakan haul, lalu justru dapat penilaian negatif: dianggap memolitisasi Tuan Guru.

Begitu banyak yang berharap berkah dari Tuan Guru Sekumpul. Mereka percaya doa-doa akan terkabul. Tentu bagi yang tidak lupa bekerja keras. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Edisi 12 Januari 2024: Kecil Besar

Klik…

https://disway.id/read/754965/sekolah-duduk

KPU Bangkalan