Menu

Aretan Sapi; Perkumpulan Pecinta Sapi Khas Kampung Pogak Pamekasan

Aretan Sapi; Perkumpulan Pecinta Sapi Khas Kampung Pogak Pamekasan
Aretan Sapi; sebuah tradisi khas kampung Pogak dan sedikit berbeda dengan sapi sono’ (matamadura)
Link Banner

Tradisi sapi di Madura memiliki akar sejarah panjang. Malang-melintang dan membentang. Tak lekang oleh jaman; tak jua usang.

matamaduranews.com-Sapi, bagi masyarakat Madura merupakan komoditas elit. Sapi juga menjadi ikon pulau Garam dengan kemasan kerapan sapinya.

Ada tiga tradisi di Madura yang tidak bisa lepas dari sapi sebagai pemeran utamanya. Seperti, kerapan sapi, sapi sono’ dan aretan sapi.

Akar Sejarah

Sebelum masuk pada aretan sapi, mungkin tak ada salahnya jika bicara asal-muasal ketenaran hewan ternak yang di bumi Hindustan sana disucikan itu.

Sapi selain dimanfaatkan dagingnya untuk dikonsumsi juga banyak bermanfaat bagi dunia tani. Hewan yang satu ini memang sering diambil jasanya untuk membajak sawah. Terlebih di Madura yang gersang dan tandus.

Saking tandusnya, sehingga konon, di jaman dulu, hampir tak ada orang Madura yang berprofesi sebagai petani. Hampir kebanyakan orang—apalagi yang memang dekat dengan pesisir, memilih melaut untuk menyambung hidup. Hingga di abad 15, seorang alim besar dari negeri Kudus menginjakkan kakinya di bumi Raden Sagoro ini.

Alim besar dan sekaligus sosok berdarah biru itu putra penguasa Kudus. Beliau bahkan cucu seorang waliyullah agung di Kudus, yaitu Waliyyul ‘Ilm; Kangjeng Susuhunan Kudus. Alim besar itu bernama Sayyid Ahmad Baidlawi, atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Katandur.

Pangeran Katandur rupanya seorang pakar pertanian. Kondisi tanah Madura—khususnya Sumenep yang menjadi tempat singgah beliau—yang dikenal tak subur dan berkapur itu dinilainya perlu sentuhan ilmu agar bisa bermanfaat bagi petani.

Saat itulah, sang Wali mengenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu (nanggala) yang ditarik oleh dua ekor sapi untuk membajak sawah.

Cara baru ini efektif. Sang Wali juga mengajarkan cara bercocok tanam atau ilmu bertani sehingga kondisi warga berubah. Nah, lambat laun, mekanisme bajak sawah itu bermetamorfosis menjadi ajang lomba dan tradisi kerapan sapi.

Namun menurut salah satu tokoh budayawan Madura asal Sumenep, almarhum R P Abd Sukur Notoasmoro, karapan sapi justru berawal di masa Panembahan Sumolo alias Notokusumo putra Bindara Saut, yang notabene merupakan keturunan Pangeran Katandur. Masa keduanya diselingi waktu sekitar satu setengah abad.

”Tradisi ini diciptakan oleh Panembahan Sumolo untuk menggairahkan sektor tani di masa kemarau,” kata RP Abd Sukur, seperti yang ditirukan salah satu menantunya, DR Mohammad Saidi.

Di kala itu, budaya tersebut berfungsi juga sebagai penghibur para petani. Mengingat masa kemarau merupakan masa paceklik yang menyulitkan para petani. Ketika itu, Panembahan Sumolo dikisahkan turun langsung dan menciptakan hiburan tersebut.

”Petani disuruh membajak ladang dengan sapi dan dikemas melalui lomba pacuan sapi. Sehingga dari sanalah istilah kerapan itu muncul. Yaitu dari kata garapan,” jelas Mohammad Saidi.

Kegiatan itu lantas populer dari tahun ke tahun. Istilah garapan juga lantas berubah menjadi “kerapan atau karapan sapi”. Para petani juga tambah tertantang untuk membesarkan sapi. Sehingga sapi kemudian menjadi komoditas mahal di Sumenep bahkan Madura pada umumnya.

”Aturan lomba kerapan kala itu juga unik. Lomba tersebut ada dua babak. Babak pertama untuk menentukan dua kelompok, yaitu kelompok menang dan kelompok kalah,” kata Saidi.

Lalu setelah babak pertama itu masuklah pada babak kedua, yaitu mengadu juara dari antar kelompok tersebut. Sehingga di kala itu ada dua pemenang, yaitu yang berasal dari “kelompok menang” dan yang berasal dari “kelompok kalah”.

”Filosofinya jelas, menang atau kalah sama-sama dihargai,” tutup Saidi.

Buntut Sapi Sono’

Selain karapan sapi, lebih kurang setengah abad silam, muncul tradisi baru yang sejenis. “Artisnya” ya, tetap sapi. Hanya saja, bintangnya sapi perempuan. Karena perempuan, kemasan yang disodorkan beda, yaitu kontes kecantikan nyonya atau nona sapi. Populer dengan sebutan sapi sono’.

Puluhan tahun kemudian, tradisi baru muncul lagi. Tradisi yang hidup di kampung Pogak, Desa Palalang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan dikenal dengan nama aretan sapi.

Aretan sapi merupakan tradisi unik yang dimiliki masyarakat di situ. Tradisi ini berbeda dengan sapi sono’ yang dimiliki kaum papan atas dan karapan sapi yang sudah tersohor dan menjadi ikon Madura.

”Aretan sapi hanya sebuah tradisi khas kampung Pogak dan sedikit berbeda dengan sapi sono’,” tutur Ahmad, warga setempat.

Menurutnya, aretan sapi berawal dari inisiatif masyarakat yang tidak bisa ikut dalam ajang sapi sono’.  Sementara dalam pelaksanaannya, beberapa sapi didandani dengan cara sederhana yang kemudian diiringi musik saronen dari melalui pengeras suara.

”Aretan sapi juga dibentuk dengan sistem perkumpulan bagi masyarakat yang juga diadakan khas khusus. Selain itu aretan sapi juga dibentuk dengan sistem perkumpulan layaknya arisan dan setiap hari Jum’at ganti lokasi,” imbuh Ahmad.

hasib/ farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional