Menu

Bagaimana Cara Berdialog dengan Arwah? Berikut Keterangan Seorang Mursyid

Bagaimana Cara Berdialog dengan Arwah? Berikut Keterangan Seorang Mursyid
ilustrasi
Link Banner

matamaduranews.comSUMENEP-Suhardi (nama samaran; atas permintaan nara sumber), diakui oleh para pengikutnya bisa berdialog langsung dengan Sang Mpu Karangduwak.

Suhardi seorang mursyid dalam perkumpulan pengajian tanpa nama. Perkumpulan itu bukan seperti umumnya sebuah tarekat yang ada di tengah masyarakat Indonesia. Tapi, perkumpulan itu bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sama dengan cita-cita kehadiran tarekat dalam sejarah peradaban Islam.

Secara dlahir, bacaan dalam perkumpulan itu seperti bacaan pengajian pada umumnya. Seperti, bacaan shalawat Nabi Saw, tadarusan di bulan Ramadlan. Shalat Tarawih berjamaah dengan warga sekitar. Hanya dalam pengajian tertentu, tidak ada orang luar perkumpulan yang ikut. Sehingga warga sekitar menyebut, perkumpulan Tarekat  Tanpa Nama.

Bagaimana cara bisa berdialog dengan para arwah? Apakah hanya orang yang memiliki kelebihan ilmu. Apa dan bagaimana kelebihan ilmu dimaksud? Berikut wawancara kontributor Mata Sumenep dengan Suhardi terkait dialog ala Sufi Spanyol, Ibnu ‘Arabi.

Bisa dijelaskan bagaimana Bapak bisa berdialog dengan Sang Mpu Karangduwak?

Begini….setiap mahluk Allah Swt memiliki kekuatan. Kekuatan itu bukan berdiri sendiri, tapi atas pemberian Allah Swt. Binatang dan tumbuhan juga memiliki kekuatan yang diberikan oleh Allah Swt. Seperti, cacing tanah yang memiliki khasiat bisa menyembuhkan penyakit  tiphus/tipes. Itu karena Allah Swt memberi kekuatan pada diri binatang.

Begitu pula tumbuh-tumbuhan, bisa menjadi obat penyakit manusia. Hal ini menjadi bukti kekuatan mahluk yang diberikan Allah Swt. Apalagi kita, sebagai manusia tentu diberi kekuatan lebih dari mahluk lainnya. Hanya saja, kekuatan yang dimiliki manusia itu tergantung kualitas ke’alimannya (ilmu yang dimiliki).

Sebagaimana kita ketahui, dalam Islam  orang yang memiliki ilmu terkelompok menjadi; Pertama, ‘Alimul Kitab, yaitu orang menguasai banyak kitab (al-qur’an dan al-hadits serta karya ulama klasik). Kedua, ‘Alimul Ghaib, yaitu orang yang diberi kekuatan oleh Allah Swt untuk melihat hal-hal yang bersifat metafisika (ghaib atau alam ghaib). Seperti, kemampuan manusia melihat  Jin, Malaikat dan bisa masuk ke alam kubur.

Ketiga, ‘Alimul Sirri, yaitu kemampuan manusia bisa lebih halus dari ‘Alimul Ghaib. Khusus ini tidak bisa dijelaskan  secara umum. Penjelasannya terkhusus kalangan tertentu. Keempat, ‘Alimu Allah,  kemampuan manusia kategori ini hanya dimiliki para waliyullah (kekasih Allah).

Konkret dialognya?

Begini….(Mata Sumenep diajak Suhardi untuk berziarah ke pasarean (makam) Sayyid Munfar, yang berlokasi di Dusun Brangbang Desa Kalianget Barat, utara Gudang Bulog, dibawah pohon Nangger).

Saat berziara, Suhardi tampak diam. Usai beberapa menit, Mata Sumenep kembali bertanya, siapa Sayyid Munfar.

“Ini Sayyid Munfar  masih tergolong saudara ipar Gung Macan (sebutan lain Sang Mpu Karangduwak). Adik Sayyid Munfar, menjadi istri Gung Macan. Tapi, beliau (Sayid Munfar, Red.) masih berguru kepada Gung Macan. Dan semua murid Gung Macan berhasil menjadi kekasih Allah (waliyullah),” jelas Suhardi.

Bagaimana bisa, semua murid Sang Mpu menjadi waliyullah?

Semua orang akan tentu bisa, asal berguru kepada orang yang benar-benar waliyullah. Karena, untuk menjadi kekasih Allah pasti ada ilmunya. Apabila ilmu itu diamalkan dengan sungguh-sungguh, InsyAllah menjadi kekasih Allah. Hal itu sesuai dengan firmal Allah dalam al-Qur’an.

Apakah bisa orang bukan keturunan waliyullah menjadi waliyullah?

Sangat mungkin. Karena Allah tidak melihat keturunan dari mana, yang dilihat Allah adalah ketaqwaannya.

Suhardi juga bercerita jika di pasarean Sayid Munfar penuh dengan barang-barang miliki Sayid Munfar. Seperti, Akik Zaman, Mata Kucing, Merah Delima, dan sebagainya.

Darimana Bapak mengerti ilmu kewalian dan siapa guru Bapak?

Kalau menerka boleh, jika tidak pernah berguru tidak mungkin bisa…(Pak Suhardi diam..tidak melanjutkan pembicaraan)

Kalo boleh tahu, siapa guru Bapak?

Pertanyaan ini berat bagi saya untuk menjawab. Yang pasti Gung Macan itu guru saya.

Bisa diceritakan awal mula berguru dengan Sang Mpu?

Awal mula lewat mimpi. Dalam percakapan di mimpi itu, saya bertanya tentang ilmu. Gung Macan menjawab, ilmu apa yang kamu maksud. Saya jawab: ilmu yang bisa menjadi kekasih Allah Swt

Sumber: mata sumenep

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Budaya

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional