Menu

Berislam; Berbahagialah

Berislam; Berbahagialah
Resensi Buku Manajemen Diri Kunci Kebahagiaan, Kebaikan, dan Keindahan dalam Islam. (Foto Design by A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Ahmad Nyabeer*

Manusia, Islam dan kebahagiaan kalau diibaratkan melalui tata kebahasaan tak ubahnya seperti subjek, predikat dan objek. Manusia sebagai pelaku yang bekerja. Islam sebagai tatanan aturan yang dikerjakan. Dan kebahagiaan sebagai tujuan puncak dari setiap amal perbuatannya.

Siapakah yang tidak ingin memperoleh kebahagiaan? Tentu tak ada. Semua manusia ingin bahagia. Semasih bernama manusia sudah pasti tujuan akhir yang ingin dicapainya di dunia ini adalah kebahagiaan. Bahkan orang yang paling melarat, orang paling miskin, yang paling jahat, paling kejam, yang paling menderita, atau yang paling tidak bahagia sekalipun jikalau ditanya tentang keinginan hati yang sebenanya mesti akan menjawab: ingin bahagia. Barangkali memang begitulah sistem—bahasa kerennya, suratan takdir—yang telah ditetapkan Tuhan terhadap manusia. Dan siapapun tidak akan mampu merubahnya.

Bentuk kebahagiaan yang dicari oleh seseorang tidak sama dengan yang diinginkan orang lain. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda mengenai kebahagiaan yang ingin dicapainya. Ada yang merasa bahagia apabila telah memiliki uang banyak, istri cantik dan profesi yang mapan. Tetapi orang lain berkeyakinan berbeda. Sekalipun miskin dia tetap merasa bahagia dengan ketenteraman hidup bersama keluarganya dan anak-anaknya yang saleh-salehah. Ada pula yang sangat bahagia hanya karena berhasil menjabat seorang Kades. Ada juga yang setiap pagi hatinya selalu bahagia dikarenakan pada malam harinya rutin salat malam.

Perbedaan-perbedaan demikian terjadi sesuai dengan bagaimana dan atas dorongan apa ia memaknai kebahagiaan. Sebagian orang memaknainya dari prespektif materi sehingga ketika hartanya melimpah dia akan bahagia. Sementara sebagian yang lain memaknainya sebagai ketenangan batin; sebuah hal yang sifatnya sederhana dan paling mendasar dalam hati manusia. Sehingga proses pencarian kebahagiaan tersebut dapat diperoleh dengan kembali pada hakikat dirinya sendiri. Bukan dari mengumpulkan atau mencapai sesuatu.

Pandangan nomor dua inilah yang ditawarkan oleh Ahmad Hosaini dalam bukunya ‘Manajemen Diri: Kunci Kebahagiaan, Kebaikan, dan Keindahan dalam Islam’ untuk mendapatkan kebahagiaan. Menurut Hosaini, orang akan bahagia apabila benar-benar paham tentang manajemen dirinya yang hal itu kemudian akan mengantarkannya untuk mengenal Tuhan. Dan kebahagiaan sejati adalah Tuhan itu sendiri. Orang mengenal Tuhan maka akan bahagia selama-lamanya.

Mengenal diri tidak hanya mengetahui bahwa manusia adalah makhluk berakal yang berasal dari tanah. Lebih dari itu, mengenal diri adalah proses pencarian jati diri secara mendalam tentang bagaimana hakikat diri yang sebenarnya, dari mana datang, untuk apa hidup, dan ke mana akan menuju. Proses tersebut tentu tidak semudah membalikkan tangan. Butuh waktu yang panjang dan penggemblengan ruhani yang melelahkan. Sehingga dengan itu manusia akan memperoleh kebahagiaan hati, kebahagiaan yang melebihi materi duniawi.

Hosaini dalam buku ini membagi kehidupan manusia menjadi tiga tahap. Pertama, kehidupan pra eksistensi. Masa ini adalah masa jiwa yang melaksanakan persaksian di alam azali. Pada masa ini setiap manusia mengakui sebenar-benarnya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya. Ruh manusia telah mengucapkan syahadat jauh sebelum disatukan dengan tubuh. Itulah kemudian yang dijadikan alasan sebagian umat islam bahwa nurani manusia tidak pernah mengingkari adanya Tuhan sekalipun orang ateis.

Kedua, kehidupan di alam eksistensi. Yaitu alam nyata ini. Hosaini berasumsi bahwa kebahagiaan di alam eksistensi ini akan tercapai apabila manusia melaksanakan ajaran islam secara sempurna. Sebab, semua perintah yang ada hakikatnya ialah untuk kebaikan manusia sendiri. Beliau mengambil contoh dalam perintah salat, puasa, zakat dan zikir terdapat banyak sekali manfaat. Secara kedokteran, salat dan puasa dapat menyehatkan tubuh. Sebab, gerakan salat dan efek puasa secara medis memang terapi luar biasa untuk membakar lemak dan menghilangkan berbagai macam penyakit. Lebih-lebih juga dapat meredam permasalahan sosial. Selain itu, beliau juga memaparkan dengan sangat rinci filosofi dari berbagai gerakan ritual tersebut.

Ketiga, kehidupan pasca eksistensi. Yaitu alam setelah manusia meninggal dunia atau alam akhirat. Dapat disebut juga sebagai hari akhir (yaumil akhir) dan atau hari kiamat. Pada bagian ini, Hosaini lebih memfokuskan pada penjelasannya terhadap informasi yang dijelaskan oleh alqur’an dan hadis. Tentang tanda-tanda kiamat, pertanyaan di lam barzakh, hisab, padang mahsyar, shirat, surga dan neraka. Jadi, yang ditekankan di sini adalah riwayat alquran dan hadis. Dan baik buruknya di alam pasca eksistensi ini hanyalah akibat dari amal perbuatan manusia di alam eksistensi.

Oleh karena itu, yang perlu diperbaiki terus menerus adalah kehidupan di alam eksistensi. Apalagi di alam eksistensi senantiasa dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan dan menyempurnakan diri dengan cinta baik dalam hal islam, iman maupun ihsan. Maka di alam pasca eksistensi akan pula dipenuhi kebahagiaan sebagai balasan dari Allah Swt. Begitupun sebaliknya, menolak menyempurnakan diri dengan islam di alam eksistensi akan berakibat kehidupan di alam pasca eksistensi dipenuhi penderitaan dan kesengsaraan.

Begitulah, begitu rinci Hosaini mengurai nilai-nilai dan ajaran islam korelasinya dengan sitem kehidupan dan kebutuhan manusia untuk berbahagia. Sekalipun di dalamnya berbagai kesalahan dalam penulisan kalimat serta banyaknya hadis tidak sahih dijadikan sumber rujukan dan dalil bagi pernyatannya, buku ini tetap bagus bagi semua kalangan. Baik yang baru belajar agama islam maupun bagi orang yang ingin mendalaminya sebagai bekal untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Wallahu a’lam.

Annuqayah, November 2019 M.

*Ahmad Nyabeer adalah nama pena dari Ahmad Fawa’id.  Mahasiswa INSTIKA. Aktif di Komunitas Persi. PP. Annuqayah Lubangsa Guluk-guluk Sumenep. No. Hp : 087849700857. Email : ahmadfawaid331@gmail.com.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: