Menu

Cerita Santri: Kiai Ali Fikri Sosok yang Telaten dan Sabar

Cerita Santri: Kiai Ali Fikri Sosok yang Telaten dan Sabar
Cerita Santri: Kiai Ali Fikri Sosok yang Telaten dan Sabar. (By Design A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Jamalul Muttaqin*

Banyak yang masih belum mengenal kepribadian Kiai Ali Fikri, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Tentang kisah-kisah Kiai Ali Fikri biasanya kerap disampaikan oleh para alumni yang pernah menjadi pengurus pesantren. Bagi para santri, beliau mewarisi sosok almarhum KH. A. Warist Ilyas, abah beliau, yang telah enam tahun berpulang ke surga-Nya.

Saat ini, beliau menjadi sorotan masyarakat Sumenep setelah namanya mencuat sebagai Bacawabup yang digandeng oleh Bapak Fattah Jasin di Pilkada Sumenep 2020 nanti. Ada kenangan indah yang dirasakan oleh setiap pengurus Pesantren Lubangsa. Biasanya tentang ketelatenan beliau membimbing para pengurus dan mendidik para santrinya.

Ada kisah yang mesti saya sampaikan tentang ketelatenan Kiai Ali Fikri dalam membimbing pengurus pesantren. Biasanya, setiap pengurus diminta untuk melaporkan setiap program kerja yang telah dibentuk atau dirampungkan. Mempresentasikan di hadapan beliau. Pengurus mempresentasikan, Kiai Ali Fikri sembari mendengarkan dan memberikan arahan apabila ada program kerja yang kurang tepat.

Beliau tipe-tipe sosok kiai yang menginginkan perubahan. Sebab itu, Kiai Ali Fikri tidak suka jika pengurus mencontek program kerja yang telah ada sebelumnya. Bahkan, beliau bisa sangat marah apabila mendapati pengurus tidak memunculkan ide baru dalam membetuk program kerja. Beliau mengharamkan setiap pengurus menggunakan contekan program kerja yang lama.

Meluruskan Bukan Menyalahkan

Sosok Kiai Ali Fikri sangat masyhur di kalangan pengurus sebagai kiai yang mewariskan kesabaran ayahandanya. Jarang sekali beliau menyalahkan, apalagi sampai memarahi pengurus karena kesalahan dalam bekerja. Biasanya, ada falsafah yang harus dipegang oleh setiap pengurus, ijazah langsung dari Kiai Ali Fikri. Berupa komitmen pengabdian. Pengurus memiliki jargon “kami manusia pengabdi tanpa pamrih”.

Dengan jargon-jargon yang sering disampaikan di setiap pertemuan. Memberikan pemahaman khidmatnya mengabdi terhadap pengurus. Membuat para pengurus bersemangat. Pengabdian itu, membuat para pengurus pesantren merasa nyaman dalam bekerja tanpa ada beban apapun. Karena ada motivasi dan dukungan penuh dari sang kiai. Tidak heran jika ada pengurus selalu menyeimbangkan antara mengabdi dan belajar.

Kenapa para pengurus pesantren harus benar-benar siap ketika menghadap atau presentasi di depan kiai. Yah, karena kiai biasanya tidak sebatas mendengarkan pengurus menyampaikan problem. Tapi, memberikan solusi, meluruskan yang keliru. Tidak pernah kiai menyalahkan tanpa memberikan solusi. Bahkan ada sebagian yang berkali-kali maju dan harus revisi, maju revisi kembali. Akhirnya, kiai menuntun setiap langkahnya ketika sang pengurus tidak bisa menyelesaikan dengan solusi yang baik.

Jeli dan telaten sangat pantas untuk disematkan kepada beliau. Apalagi ketika beberurusan dengan perihal surat-menyurat. Kiai bisa langsung mengetahui cara penulisan surat yang keliru cara penulisan Terms of Reference (ToR) yang keliru dan yang lainnya. Biasanya beliau memberikan oret-oretan supaya dibenarkan dan diperbaiki kembali.

Selama para pengurus berkhidmat tak pernah saya pribadi mendengar kiai menggunakan kata-kata kasar dalam menegur santri meski dalam kondisi yang sangat emosional sekalipun. Beliau selalu menggunakan bahasa-bahasa yang sangat halus dan mendidik. Walllahua’lam..

*Mantan Sekretaris PMII Guluk-Guluk Sumenep, sedang menempuh Magister di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: