Cerita Teddy Minahasa Soal Kasus Narkoba Yang Menjerat Dirinya

matamaduranews.com-Irjen Pol Teddy Minahasa Putra bercerita soal kasus narkoba yang menjerat dirinya.

Melalui keterangan tertulis pada Jumat, 14 Oktober 2022 malam. Mantan Kapolda Sumatera Barat itu,
membantah keterlibatan dirinya sebagai seorang pengguna atau pun penjual narkoba jenis sabu-sabu.

Meskipun demikian, Teddy menyatakan menghormati proses hukum yang akan dia jalani.

Teddy menceritakan bagaimana dirinya bisa dituding positif narkoba dan menggelapkan sejumlah barang bukti sabu-sabu.

Teddy Minahasa menyatakan bahwa dirinya dinyatakan positif narkoba pada Kamis, 14 Oktober 2022, dalam pemeriksaan oleh Divisi Propam Polri.

Menurut dia, hal tersebut terjadi karena dia sempat mendapatkan perawatan medis.

Pria 51 tahun ini menyatakan menjalani tindakan suntik di bagian lutut, spinal, dan engkel di Vinski Tower pada, Rabu, 12 Oktober 2022.

“Saya menjalani tindakan suntik lutut, spinal, dan engkel kaki pada hari Rabu tanggal 12 Oktober 2022 jam 19.00 (WIB) di Vinski Tower, oleh dr. Deby Vinski, dr. Langga, dr. Charles, dr. Risha, dan anastesi (bius total) oleh dr. Mahardika selama 2 jam,” kata Teddy Minahasa.

Dia juga menyatakan menjalani perawatan gigi di Rumah Sakit Medistra, Kamis, 13 Oktober 2022. Ia juga mendapatkan suntikan bius selama tiga jam.

“Besoknya, hari Kamis tanggal 13 Oktober 2022 jam 10.00 saya menjalani tindakan perawatan akar gigi di RS Medistra oleh drg. Hilly Gayatri, dan tim dokter oleh RS Medistra. Juga dibius total selama 3 jam,” sambungnya.

Usai menjalani perawatan gigi, Teddy Minahasa menyatakan datang ke Mabes Polri untuk mengklarifikasi tuduhan membantu mengedarkan narkoba.

Dalam pernyataan itu, Teddy Minahasa menyampaikan bahwa ia positif ketika diuji darah dan urine dengan alasan telah mendapatkan suntikan obat bius yang mengandung unsur narkoba.

“Ya pasti positif karena dalam obat bius (anastesi) terkandung unsur narkoba,” ujarnya.

Teddy Minahasa juga membantah tudingan bahwa dirinya menggelapkan barang bukti narkoba hasil sitaan Polda Sumatera Barat.

Teddy bercerita masalah ini bermula ketika Polda Sumatera Barat mengungkap perdagangan narkoba jenis sabu-sabu seberat 41,4 kilogram.

Saat mereka akan melakukan pemusnahan barang bukti, Teddy Minahasa menyatakan Kapolres Bukit Tinggi AKBP Doddy Prawira Negara memang melakukan penyisihan alat bukti untuk keperluan dinas.

Karena masalah ini, Doddy pun mendapatkan mutasi ke Biro Logistik Polda Sumbar.

BACA JUGA :  Viostin DS Positif Mengandung Bahan dari BABI

“Ini tentunya membuat kekecewaan yang mendalam oleh Kapolres Kota Bukittinggi saat itu, karena ekspektasinya adalah dapat prestasi dan bisa dinaikkan pangkatnya menjadi Kombes. Seiring dengan rencana kenaikan tipe polres kota Bukittinggi (sekarang sudah naik tipe). Saya sebagai Kapolda disebut telah memberikan perintah penyisihan barang bukti narkoba tersebut,” cerita pria kelahiran 23 November 1970 ini.

Teddy Minahasa juga menceritakan soal keterlibatan seorang perempuan bernama Anita alias Linda.

Linda disebut sebagai pembeli sabu-sabu alat bukti Polda Sumbar tersebut.

Teddy Minahasa menyatakan, Linda pernah menipu dirinya soal penyelundupan narkoba sebesar dua ton melalui jalur laut di Laut Cina Selatan dan Selat Malaka.

Lulusan Akademi Kepolisian 1993 tersebut menyatakan merugi hingga Rp 20 miliar akibat operasi penangkapan yang gagal itu.

Teddy Minahasa mengaku merogoh dana dari kantongnya sendiri untuk membiayai operasi tersebut.

Linda, menurut Teddy Minahasa, sempat menghubunginya lagi pada 23 Juni 2022.

Saat itu, Linda meminta pertolongan karena dia mau menjual pusaka kepada Sultan Brunai Darussalam serta meminta biaya operasional untuk berangkat ke Brunei Darussalam.

“Namun saya tidak berikan dan saya tawarkan untuk berkenalan dengan Kapolres Kota Bukittinggi karena yang bersangkutan ada barang sitaan narkoba,” jelasnya.

Teddy Minahasa menyatakan niatnya memperkenalkan Linda dengan Kapolres Bukit Tinggi adalah agar perempuan tersebut bisa ditangkap.

Hal itu dia lakukan agar kekecewaannya terbalaskan serta agar Kapolres mendapatkan penilaian positif.

Menurut mantan ajudan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini, dalam implementasinya, Kapolres ternyata tak melakukan hal yang dia perintahkan sesuai prosedur.

Karena itu, dia kemudian dituding memfasilitasi penjualan sabu-sabu tersebut kepada Linda.

“Padahal saya tidak pernah tahu yang sesungguhnya atas wujud dari narkoba yang disisihkan tersebut, tidak pernah melihat barangnya, tidak tahu jumlahnya, dan tidak tahu disimpan di mana. Sehingga saya juga tidak yakin bahwa Kapolres Kota Bukittinggi benar-benar telah menyisihkan sebagian dari barang bukti narkoba tersebut atau tidak,” tulis Teddy Minahasa.

Meskipun demikian, Teddy Minahasa menyatakan siap menjalani proses hukum. Dia pun menyatakan akan tetapi setia kepada negara dan Polri.

“Saya menghormati proses hukum yang ada dan saya setia kepada negara dan institusi saya (POLRI),” tutupnya. (*)

Komentar