Dikira Bupati Fauzi Pindah ke Demokrat

Catatan: Hambali Rasidi

KALAU meminjam bahasa Eric Hoffer, propaganda itu bukan untuk menipu. Ia hanya membantu masyarakat untuk tertipu.

Salah satu Netizen tanpa sadar mengakui hasil propaganda itu. Meski tak menyebut dirinya tertipu

Ya…salah satu netizen berkomentar di salah satu Grup WA di Sumenep.

Grup WA itu beranggota aktivis, politisi dan wartawan.

Dia komentar begini:

Berhubung saya org baru di sumenep meskipun saya lahit disumenep,

Cuma saya gk tau Fauzi AS itu siapa?

Karena saya pikir mulai kemaren Fauzi itu bupati pimdah ke demokrat, ternyata bukan­čśé­čśé­čśé

Emang…beberapa hari terakhir viral di sejumlah Grup WhatsApp. Berita soal Fauzi AS.

Dalam berita itu ditulis dalam judul macam-macam. Intinya: Fauzi itu dilamar Partai Demokrat untuk berpolitik.

Anehnya: tulisan itu nyaris mengimbangi berita Rekonstruksi Sambo dan Putri.

Saya amati. Berita Fauzi AS itu bagian dari upaya. Anda lebih ngerti dari istilah saya.

Saya tertarik mengulas karena ada netizen yang ikut komentar dengan mengaitkan Bupati Sumenep Achmad Fauzi.

Atau lebih tepatnya: Fauzi AS itu disangka Bupati Fauzi.

Atau netizen itu sengaja komen begitu biar cerita Fauzi AS tak redup.

Entah la. Biar anda tafsiri sendiri.

Saya juga ingat isu Kaisar Sambo yang viral itu diplesetkan oleh aktivis warung kopi menjadi Kaizar-Fauzi.

Maksudnya: Kaizar itu merupakan putra mahkota MH Said Abdullah. Sedangkan Fauzi merupakan keponakan MH Said Abdullah yang kini menjabat Bupati Sumenep.

Ada lagi: sejumlah cafe dan warung kopi di Sumenep yang sepi tak seperti biasa.

BACA JUGA :  Inspiratorku: Kiai Menyimpan Misteri

Suasana sunyi itu terlihat pasca ramai-ramai penangkapan judi online di sejumlah cafe di Pamekasan.

Kenapa kok cafe Sumenep yang sepi pengunjung?

Entah la. Anda lebih ngerti menjelaskan.

Tambah satu lagi, mengutip ocehan kontraktor dan aktivis warung kopi.

Laep sanonto,” ocehnya.

Apa maksudnya? “Itu efek dari ekonomi terpusat. Tak ada distribusi bagi pelaku ekonomi lain. Kecuali itu dia dan dia,” yani, salah satu aktivis berusaha menjelaskan penyebab makro ekonomi.

“Makanya, tuntutan reformasi adalah distribusi kekuasaan biar tak menumpuk di pusat. Maka lahirlah otonomi daerah. Adanya otonomi daerah. Kan banyak orang yang menikmati, ” sambung Yani.

Saya kutip di sini karena menarik untuk dijadikan jawaban atas sebuah fenomena yang dirasakan masyarakat Sumenep pasca Pilkada 2020.

Ditambah pandemi covid-19 yang bikin lesu perekonomian warga.

Tak heran apabila sejumlah aktivis yang selalu menjungjung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, mulai oleng.

Mereka asyik bermain HP bersama teman-temannya. Sambil menyeruput kopi. Sesekali tertawa dan berucap: menang.

Fenomena lain masih banyak. Biar waktu yang menjawab.

Seperti kata Samuel P. Huntington. Konflik dunia bukan karena disulut oleh politik atau ekonomi. Tapi karena perbedaan peradaban yang mendominasi hingga terjadi benturan global.

Saya akui, saat ini banyak wartawan yang sudah berubah orientasinya.

Banyak yang mengalami degradasi.  Wartawan untuk menyulam informasi-informasi sebelum terjadi, kini agak langka ditemukan.

Kenapa? Karena orentasi menjadi wartawan kini macam-macam.

Sampai di sini dulu, nanti bersambung…(*)

Komentar