Catatan

Kenapa Kiai Busyro Menangis?

×

Kenapa Kiai Busyro Menangis?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gus Dolla

Kiai Busyro
Kiai Busyro

matamaduranews.com-Ada getaran halus. Menyentuh relung jiwa. Menggetarkan batin tanpa aba-aba. Tanpa komando. Seketika. Refleks. Air mata pun tumpah.

Di pelantikan PCNU Sumenep, Sabtu sore 16 Mei 2026. Di halaman Ponpes Al Karimiyyah Beraji Gapura. Kiai Busyro Karim diberi waktu sambutan selaku tuan rumah. Sekitar sepuluh menit.

Waktu yang singkat. Terlalu singkat mungkin. Bagi sang kiai yang menyimpan perjalanan panjang tentang umat, tentang NU, dan tentang pesantren.

Tak perlu sepuluh menit. Cukup membuat jiwa sadar. Melihat  Kiai Busyro menangis.

Beliau bergetar justru satu hal yang sangat dekat dengan denyut hidupnya: pesantren.

Beliau bertutur sederhana. Langsung menancap. Seperti jeritan suara hati paling dalam. Tersimpan lama. Tertuang di tengah acata Pelantikan pengurus baru PC NU Sumenep.

Kiai Busyro seperti rindu NU. Ya…rindu NU seperti dulu. Ketika para Kiai Pesantren menjadi sandaran. Dan kegiatan muktamar NU pun digelar di pesantren.

Bagi Kiai Busyro pesantren memiliki aura tersendiri. Itu sefrekwensi dengan ruh NU. Ada kekuatan yang sulit diungkap lewat kata-kata.

Sepintas di pesantren.  Ada doa-doa santri. Ada wirid kiai. Ada suara kalam Allah yang dilantunkan senyap senyap. Tapi di balik itu ada getaran sunyi. Tapi memancarkan kedamaian.

Mungkin karena itu beliau mengatakan, acara besar seperti muktamar lebih senafas digelar di pesantren. Karena pesantren bukan sekadar tempat belajar. Tapi rumah NU. Tempat ilmu dan doa hidup bersama.

BACA JUGA :  Apa yang Dilakukan Diskop UM PP Sumenep?

Bagi Kiai Busyro, pesantren memiliki aura yang tak tergantikan. Ada frekuensi ruh yang terasa begitu dekat dengan jantung Nahdlatul Ulama.

Di pesantren ada doa-doa santri. Ada wirid para kiai yang mengalir pelan di sepertiga malam. Ada suara ayat-ayat Allah dilantunkan lirih. Mengetuk langit.

Beliau juga bertutur, pesantren terlalu besar bila dilihat sebatas urusan administratif. Terlalu agung jika sekadar ditempatkan dalam ruang-ruang birokrasi.

Namun di tengah cerita itu, ada sesuatu yang perlahan berubah.

Nada suara beliau mulai pelan.

Kalimatnya terhenti sesaat.

Seolah ada sesak yang tertahan di tenggorokan.

Karena beliau mulai bicara tentang sesuatu yang terasa menyakitkan: saat pesantren mulai ditarik ke perjuangan-perjuangan yang sempit. Saat rumah besar yang seharusnya mempersatukan, kadang ikut terseret oleh kepentingan-kepentingan sesaat.

Di titik itu, pesantren yang mestinya menjadi ruang teduh perlahan memiliki sekat. Yang satu berjalan ke arah berbeda. Yang lain memilih jalannya sendiri.

Padahal dulu, kiai pesantren memancarkan aura kedamaian. Dan mungkin di situlah air mata Kiai Busyro jatuh.

Barangkali yang beliau tangisi bukan sekadar keadaan hari ini. Tetapi kerinduan. Kerinduan pada pesantren yang dipimpin para sesepuh dengan hati lapang. Yang berbeda tetapi tidak saling menjauh. Yang kuat dalam dzikir.

Dan Kiai Busyro menangis bukan karena lemah. Tapi  karena rindu. Ya..rindu kepada yang dicintai. (*)

Tinggalkan Balasan