SUMENEP — Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar menilai keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan.
Karena itu, BPRS Bhakti Sumekar terus mendorong perubahan pola pikir pegawai agar lebih adaptif, berbasis data, dan memiliki budaya kerja yang inovatif.
Hairil Fajar menegaskan, teknologi hanyalah alat, sedangkan manusia merupakan motor utama penggerak transformasi perusahaan.
Strategi perubahan tersebut dilakukan melalui pendekatan kerja berbasis data (evidence-based approach), pembangunan budaya belajar (learning culture), hingga kolaborasi antara pegawai senior dan generasi muda yang melek digital.
Perusahaan juga rutin menggelar pelatihan teknis, sertifikasi profesional, forum diskusi inovasi, serta memberikan ruang bagi pegawai untuk menghadirkan ide-ide baru dalam pengembangan layanan perusahaan.
Selain penguatan kompetensi, perubahan pola pikir SDM juga dibangun melalui internalisasi nilai-nilai syariah seperti kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sebagai budaya kerja organisasi.
Hairil Fajar menekankan, transformasi digital harus menjadi budaya bersama yang tidak bergantung pada individu tertentu, melainkan tumbuh sebagai kekuatan organisasi dalam menghadapi era digital.
Melalui strategi tersebut, BPRS Bhakti Sumekar berharap mampu membentuk SDM yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan integritas dalam menjalankan transformasi perusahaan. (adi)






