Menu

Jejak Kiai Su’ud Kayuputih, Ulama Sepuh Situbondo Asal Sumenep

Jejak Kiai Su’ud Kayuputih, Ulama Sepuh Situbondo Asal Sumenep
Kolase Bekas Langgar Kiai Su'ud di Kayuputih, Situbondo. (Foto/Dok. Keluarga)
Link Banner

matamaduranews.com-TAPALKUDA-Kayuputih merupakan nama salah satu desa di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Tidak banyak yang tahu bahwa, di pertengahan abad 19, di desa itu dulu pernah berdiri sebuah pondok pesantren.

Pesantren Kayuputih namanya. Didirikan oleh Kiai Su’ud pada tahun 1850 M. Sempat berjaya di masa sang muassis, di era selanjutnya tinggal nama besar belaka.

Menurut salah satu keturunan keenam Kiai Su’ud, Khalilur R Abdullah Sahlawy, Kiai Su’ud tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang alim dan mumpuni di bidang agama. Namun beliau juga menonjol di bidang kanuragan.

“Jadi pesantren beliau ini di samping sebagai pusat belajar agama Islam, juga berfungsi sebagai padepokan silat dan kanuragan,” kata Khalilur.

Putra Sumenep

Dari riwayat turun-temurun, Kiai Su’ud atau yang dikenal dengan laqob Kiai Kayuputih ini berasal dari pulau garam. Tepatnya Madura Timur atau Sumenep.

Namun sayangnya, nasab Kiai Su’ud masih dalam tahap penelusuran, alias belum diketahui sambungannya ke atas.

“Di kalangan keluarga tidak ada catatan otentik. Hanya dikatakan bahwa beliau dari Sumenep, dan termasuk keluarga keraton,” ungkap Khalilur.

Dalam sejarah Sumenep, wilayah tapal kuda, termasuk Situbondo memang dibabat oleh orang-orang dari Madura Timur.

Wilayah itu memang sejak paruh pertama abad 18 sudah dirambah masyarakat Sumenep dan Pamekasan.

Kala itu, penguasa Sumenep sekaligus Pamekasan, Pangeran Jimat alias Pangeran Cakranegara III (memerintah 1721-1744) memang meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke seberang. Seberang yang dimaksud ialah tapal kuda.

Migrasi penduduk termasuk menempatkan tokoh-tokoh keraton yang pilihan sudah dimulai sejak masa itu.

Kekuasaan Sumenep hingga tapal kuda terus berlanjut hingga masa Panembahan Sumolo (1762-1811).

Baru di masa itu tapal kuda dilepas dari genggaman Sumenep, dan oleh Panembahan Sumolo ditukar dengan gugusan pulau, yang hingga kini secara administratif masuk wilayah kabupaten Sumenep.

Meski dilepas, namun wilayah tersebut tetap dimainkan oleh para pembabat alas, yang notabene warga dan sekaligus tokoh Sumenep-Pamekasan.

Bahkan dalam dinamikanya, politik pemerintahan tetap dimainkan kelurga inti keraton Sumenep. Seperti misalnya Raden Tumenggung Kolonel, salah satu anak Panembahan Sumolo, yang sering dikirim dalam beberapa ekspedisi perang di tapal kuda.

Bahkan Tumenggung Kolonel menikahi anak Han Soe Ki, tokoh Cina muslim Besuki yang paling berpengaruh di tapal kuda kala itu.

Dari pernikahan itu lahir Pangeran Sutiknya, yang dikemudikan hari menjadi Adipati pertama Besuki. Dan hampir seluruh pembesar di tapal kuda adalah keturunan Sutiknya.

Nah, kembali pada Kiai Su’ud, jika dikomparasikan masanya, ia merupakan tokoh yang hidup pada masa Pangeran Sutiknya duduk di kursi adipati. Bahkan di Situbondo, masa itu juga didudukkan salah satu putra Sutiknya, Kangjeng Raden Tumenggung Pandu Suryoatmojo, sebagai bupati.

Pada masa Kiai Su’ud juga, di Sumenep dikendalikan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (memerintah 1811-1854).

“Bisa diduga Kiai Su’ud ini masih masuk keluarga Sentana keraton dinasti Saot. Namun ini hanya sebatas dugaan, perlu penelusuran serius,” kata Ja’far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.

Dugaan lain, Kiai Su’ud merupakan bagian dari keluarga keraton yang dikirim membabat tapal kuda pada masa Pangeran Jimat di atas.

Tokoh Identik

Menurut salah satu sumber di Situbondo, Kiai Su’ud adalah tokoh yang identik dengan Raden Darsono.

Alasannya, perkiraan masa hidup keduanya hampir bersamaan. Ditambah info bahwa anak keturunan Darsono ada yang bersambung pernikahan dengan anak keturunan Su’ud

Namun hal ini dibantah oleh Khalilur, keturunan keenam Kiai Su’ud di atas. Alasannya, makam Kiai Su’ud dan Raden Darsono sama-sama ada.

“Kiai Su’ud makamnya di Kayuputih, dan Raden Darsono di desa sebelahnya. Jadi orang berbeda,” katanya.

Meski begitu Khalilur tidak menolak jika kemudian ditemukan kemungkinan bahwa ada kaitan darah antara keduanya. Misal saudara kandung atau saudara jauh.

Namun masalahnya, Raden Darsono juga tidak ditemukan nasabnya ke atas.

“Kalau menurut riwayat anak cucunya Raden Darsono juga dari Sumenep,” kata salah satu narasumber dari Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) asal Besuki.

Namun dalam penelusuran Mata Madura, catatan silsilah Raden Darsono hasil penelusuran di Situbondo sendiri menyatakan bahwa Darsono anak Pangeran Jimat.

“Kalau yang dimaksud ialah Pangeran Jimat Sumenep, maka jelas tertolak. Karena pangeran Jimat Sumenep masyhur tidak memiliki keturunan,” kata Ja’far, narasumber di atas.

Peninggalan

Kiai Su’ud meninggalkan beberapa orang anak yang semuanya perempuan. Estafet kepemimpinan pesantren dilanjutkan salah dua menantunya, Kiai Thohir dan Kiai Abdul Ghaffar.

Kiai Thohir menikah dengan anak tertua Kiai Su’ud. Sedangkan Kiai Abdul Ghaffar menikah dengan anak bungsu Kiai Su’ud. Kiai Abdul Ghaffar memang berasal dari Sumenep dan ikut Kiai Su’ud ke Situbondo.

“Kiai Thohir ini yang mengganti atau penerus di bidang kanuragannya. Kiai Abdul Ghaffar di bidang agama,” kata Khalilur.

Setelah Kiai Thohir dan Kiai Abdul Ghaffar, pesantren ini bubar karena tidak memiliki penerus yang mumpuni di bidang agama.

Menurut Khalilur, di samping keturunan dan warisan keilmuan, Kiai Su’ud Kayuputih juga memiliki peninggalan berupa langgar Kuna.

Langgar tersebut masih berdiri kokoh di Kayuputih.

“Modelnya mirip dengan langgar Kiai Ali di Barangbang, Sumenep,” kata Khalilur.

Sayang saat ini langgar tersebut sudah berganti kepemilikan pada yang bukan keturunan Kiai Su’ud.

RM Farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Olahraga

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: