Kades Grujugan & STPI Buat Program Nyata Dalam Pencegahan TBC di Sumenep

Tak Berkategori

matamaduranews.comSUMENEP-Desa Grujugan Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep menjadi atensi Pemkab Sumenep dalam pengurangan angka penderita sekaligus pencegahan laju penularan TBC.

Langkah konkrit itu ternyata sudah dilakukan oleh Didik Susanto selaku Kepala Desa (Kades) Grujugan.

Saat hadir di Lokakarya Penanggulangan TBC di Masa Pandemi Covid-19 bertempat di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Sumenep, Senin, 31 Mei 2021. Kades Didik menyampaikan langkah kegiatan penekanan penderita TBC yang sudah dialokasikan lewat APBDes.

Anggaran itu, katanya-untuk kegiatan sosialisasi TBC kepada masyarakat dan membentuk desa siaga TBC serta pelatihan kader TBC di Desa Grujugan.

Kata Kades Didik, akar masalah TBC di Desa Grujugan salah satunya, kurang pengetahuan masyarakat tentang TBC. Masyarakat masih menilai bahwa penyakit TBC sebagai penyakit mistik, anggapan batuk adalah penyakit biasa. Sehingga masyarakat merasa enggan melakukan pengobatan akibat pengetahuan yang minim.

“Desa kami telah membentuk 20 kader yang memliki keterampilan investigasi kontak (IK) dan screening secara sukarela pada masyarakat. Kader TBC secara simultan melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan layanan kesehatan untuk proses pengambilan dahak hingga di level Rukun Tetangga (RT),” terang Kades Didik.

Lokakarya berlangsung guyub karena dimoderatori oleh Mohamad Ekoyanto dari Direktur Lakspesdam NU Sumenep dan dihadiri programmer TBC Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Ibu dr Satiti Palupi ). Kepala Dinas Kesehatan Sumenep, Agus Mulyono dan Wakil Bupati Sumenep Ny Dewi Khalifah.

Dalam kesempatan yang sama, program manager Stop TB Partnership Indonesia (STPI) sebuah NGO yang konsern dalam penanggulanan TBC, Lukman Hakim ikut berbicara dalam forum itu.

Menurut Lukman, kerja kolaboratif kolosal yang melibatkan berbagai stakeholder baik pemerintah daerah, pesantren, swasta, dunia pendidikan dan organisasi masyarakat untuk menuntaskan TBC di Kabupaten Sumenep sangat diperlukan.

Katanya, Forum Kemitraan Penanggulangan TBC yang telah dideklarasikan pada tahun 2020 lalu, perlu dikonkretkan agar segera mengambil peran signifikan dalam kerja koordinatif dan advokatif dalam pencegahan dan pengendalian TBC di Kabupaten Sumenep.

Termasuk memastikan program penanggulangan TBC menjadi salah satu prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah.

Pada penghujung acara lokakarya, Lukman Hakim menautkan harapan agar rekomendasi yang telah disepakati menjadi acuan Forum Kemitraan Penanggulangan TBC di Kabupaten Sumenep untuk mendorong program pemulihanTBC di masa pandemi covid 19 agar eliminasi TBC 2024 bisa tercapai.

Berikut Rekomendasi Forum Kemitraan Penanggulangan TBC Sumenep.

  1. Mendorong pemerintah membuat regulasi terkait penanggulangan TBC yang berbasis data, terintegrasi dengan semua layanan dan mudah diakses oleh semua pihak (Pemnagku Kebijakan di setiap OPD ) dalam mengatasi TBC dimasa Pandemi Covid 19
  2. Perlu layanan inovatif dan terintegrasi dengan respon COVID 19 di masing- masing OPD ( screening gejala TBC di kegiatan COVID 19 )
  3. Mendorong terbentuknya pusat layanan terpadu yang menampung dan menangani keluhan dan informasi mengenai TBC.
  4. Penguatan Puskesmas untuk mengoptimalisasi pelanyanan dan pendampingan terhadap pasien TBC
  5. Mendorong pemerintah untuk mengintegrasikan program TBC dalam perencanaan pembangunan daerah dengan pendanaan yang memadai
  6. Mendorong kebijakan Penanggulangan TBC melalui penguatan partisipasi masyarakat
  7. Mendorong penggunaan dana desa untukp enguatan program TBC di Desa

Selain itu, perlu:

  1. Adanya keterlibatan Private Sektor ( BMUN/BUMD), Pemerintah (OPD) dan CSO dalam memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas riset inivasi teknologi untuk penanggulangan TBC.
  2. Mendorong keterlibatan sektors wasta dalam penguatan program TBC menuju eliminasi TBC

Organisasi Masyarakat Sipil (OMS)

  1. Mendorong peningkatan kemandirian masyarakat untuk penanggulangan TB baik pasien, Mantan pasien, keluarga dan masyarakat.
  2. Mendorong pelibatan masyarakat dalam melakukan kampanye penyadaran terkait penyakit TBC
  3. Mendorong terbentuknya organisasi pasien TBC di daerah untuk memperkuat pendampingan orang dengan TBC.

Bahri, Mata Madura

Komentar