Berita Utama

Menjemput Spirit Sang Proklamator dari Pendopo Agung Keraton Sumenep

×

Menjemput Spirit Sang Proklamator dari Pendopo Agung Keraton Sumenep

Sebarkan artikel ini
Bulan Bung Karno
Bupati Fauzi saat memberikan sambutan di acara Bulan Bung Karno di Pendopo Keraton Sumenep, selasa malam.

matamaduranews.com-SUMENEP – Selasa malam(2/6/2026), Pendopo Agung Keraton Sumenep menjadi ruang perenungan. Di bawah naungan bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Madura, lantunan doa mengalun khusyuk, dipanjatkan untuk mengenang sosok yang namanya terpatri dalam sejarah bangsa: Ir. Soekarno, Sang Proklamator.

Suasana yang tercipta jauh dari kesan seremonial belaka. Doa bersama tersebut menjadi pintu masuk untuk menengok kembali jejak perjuangan Bung Karno, sekaligus menyalakan kembali semangat kebangsaan yang diwariskannya kepada generasi penerus.

Dari Pendopo Agung Keraton Sumenep, spirit itu seolah dipanggil pulang untuk kembali hidup di tengah masyarakat.

Bulan Juni memang memiliki makna istimewa dalam perjalanan sejarah Indonesia. Bulan ini merekam tiga momentum penting yang melekat erat dengan Bung Karno: lahirnya Pancasila pada 1 Juni, kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1901, dan wafatnya sang proklamator pada 21 Juni 1970.

Tak heran jika Juni kerap dikenang sebagai Bulan Bung Karno, sebuah ruang refleksi untuk merawat ingatan kolektif bangsa.

“Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga semangat perjuangan para pendiri bangsa,” ujar Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, dalam sambutan mengikuti doa bersama.

Menjadikan Nilai sebagai Kompas

Bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep, peringatan Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, momentum ini dimaknai sebagai upaya menghadirkan kembali nilai-nilai yang diperjuangkan Bung Karno ke dalam kehidupan masyarakat masa kini.

BACA JUGA :  Kemenpora Gandeng UTM, Tumbuhkan Minat Wirausaha Pemuda

Nasionalisme, persatuan, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman dipandang sebagai fondasi penting untuk menjaga harmoni sosial sekaligus mendorong kemajuan daerah. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai kompas pembangunan.

“Pancasila mengajarkan kita untuk saling menghargai dan mengutamakan kepentingan bersama. Dengan fondasi itulah kita mewujudkan cita-cita daerah yang maju, mandiri, dan sejahtera,” tutur Fauzi.

Merawat Api Kebangsaan

Untuk menghidupkan semangat Bulan Bung Karno, Pemerintah Kabupaten Sumenep menyiapkan beragam kegiatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Agenda yang disusun tidak hanya bernuansa kebangsaan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi budaya dan kreativitas generasi muda.

Parade Musik Tong-tong akan menampilkan kekayaan seni tradisional Madura. Lomba baca puisi dan pidato menjadi wadah bagi generasi muda mengasah keberanian berbicara serta menghidupkan kembali semangat retorika Bung Karno. Sementara Soekarno Fun Run mengajak masyarakat memadukan semangat kebangsaan dengan gaya hidup sehat. Bagi anak-anak, lomba mewarnai sketsa Bung Karno diharapkan menjadi cara sederhana namun bermakna untuk mengenal sosok proklamator sejak dini.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Sumenep tidak sekadar mengenang masa lalu. Daerah ini sedang merawat ingatan, menanamkan nilai, dan menjemput kembali spirit Sang Proklamator agar tetap hidup di tengah masyarakat. Sebab sejarah yang terus diingat bukan hanya menjadi cerita tentang masa lampau, melainkan sumber energi untuk melangkah menuju masa depan. (bahri)

Tinggalkan Balasan