Menu

Ke Mana Perginya Kuda Terbang Jokotole?

Ke Mana Perginya Kuda Terbang Jokotole?
Ilustrasi Kuda Terbang. (Foto/Istimewa)
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Jokotole dan Kuda Terbang bagai dua sisi mata uang. Tidak sama, tapi satu. Begitu mitos atau legendanya.

Kuda terbang juga menjadi sisi tak terpisahkan dengan kawasan Madura Timur atau Sumenep di era kini. Bahkan kuda terbang terus menjadi simbol dan lambang keraton, hingga Sumenep saat ini yang sudah berstatus kabupaten.

Seperti diceritakan dalam babad, Jokotole lahir dengan membawa cahaya yang menyelimuti tubuhnya, sesuatu yang diyakini di kalangan masyarakat tradisional sebagai pertanda akan menjadi orang besar di kemudian hari.

Sang ibu melahirkannya tanpa darah (nifas). Dan saat tumbuh di pengasingan, Jokotole dikenal memiliki kajunilan sejak kecil. Ia biasa memasukkan tangannya ke bara api, memijit-mijit besi yang semestinya ditempa dengan alat pandi.

Ya, babad memang memiliki ciri khas yang tak sama dengan sistem penulisan sejarah modern, yang menyandarkan pada tradisi kajian dan informasi otentik sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Babad lebih menitikberatkan pada sisi sastra, seni, sehingga lebih banyak menggambarkan tokoh utama dari sisi mistik dan legenda. Di sana unsur tradisi lisan (folklore) begitu kuat mengikat.

Dalam perjalanan hidupnya, Jokotole dibekali dua senjata yang berupa cemeti dan hewan ajaib berupa kuda terbang. Megaremmeng namanya.

Kuda ini disebut pemberian sang paman, Adirasa, pertapa sakti dari tanah Sepuh Dewe (Sepudi).

Meski sang kuda terbang merupakan “sosok” yang melegenda. Dan seperti disebut di muka, dalam perkembangan sekaligus metamorfosisnya, di ujung timur pulau garam, kuda terbang menjadi sebuah lambang.

Namun, dalam dunia sejarah yang menjadi jalan tengah antara mitologi dan fakta, kuda terbang tetap menyisakan secangkir misteri yang tak habis-habis direguk.

“Dalam dunia mitologi kuda terbang tidak hanya di Sumenep. Ia seperti kuda Sembrani dalam mitologi Jawa, maupun Pegassus dalam mitologi Yunani,” kata RB Muhlis salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.

Di sisi lain, mitologi kuda terbang dianggap sebagai bualan kelas tinggi. Beberapa kalangan yang concern di dunia sejarah memandang kuda terbang itu hanya khayalan. Tak sedikit yang memberi catatan mengandung makna filosofis yang dalam.

“Meski berjenis folklore, namun sengaja menghilangkan cerita ini dengan serta merta dalam dunia sejarah menurut saya merupakan suatu kesalahan besar,” kata Ja’far Shadiq, salah satu personel Ngoser.

Hairil Anwar, kru Ngoser lainnya mengaku tengah mengkaji mitologi kuda terbang Sumenep. Ia menemukan peninggalan sejarah yang jelas-jelas memasukkan gambar hewan ajaib ini. Seperti ukiran di makam Patih Mangun (Kiai Angabei Mangundireja) dan di dalem (rumah) Pangeran Letnan Hamzah. “Ini menarik. Jadi semitos apapun memang harus digali,” kata anggota TACB Sumenep ini.

Ditinggal Wafat Sang Empunya, Ke mana Si Kuda Terbang?

Jokotole alias Ario Kudapanole alias Saccadiningrat III dikisahkan wafat dalam perjalanan antara Dungkek-Sumenep.

Dungkek, tepatnya di kawasan Lapataman, Sang Ksatria jatuh sakit. Jokotole di usia senjanya memang lebih suka menjauh dari kehidupan duniawi. Itulah sebabnya, sebelum mangkat, tahta keraton Sumenep sudah diserahkan pada sang putra: Aria Wigananda.

Mendengar sakit, sang pangeran menjemput sang ayah dari pesanggrahannya di Lapataman, Dungkek.

Meski bersedia, Jokotole meramalkan dirinya tidak akan hidup sampai ibu kota keraton di Sumenep. Ramalan itu tersirat dalam wasiatnya pada sang putra: bahwa jika ia menghembuskan nafas terakhir di perjalanan, di mana nanti tandu yang membawa jasadnya patah, maka di situlah ia harus dikuburkan.

Babad pun mengisahkan Jokotole wafat di tengah jalan. Sesuai wasiat, jenazahnya tetap dibawa ke Barat. Nah, sampai di kampung Sa’asa, yang sekarang masuk kawasan desa Lanjuk kecamatan Manding, usungan tandu patah. Sang Nata pun dimakamkan di sana

Di Asta Jokotole hanya ada satu makam utama, yaitu makam Jokotole. Namun sekitar 15 meter di arah Selatan ada makam juga. Konon itu makam sang kuda terbang.

“Salah satu kisahnya begitu,” kata Ja’far Shadiq, narasumber di atas.

Namun kisah lainnya menyebut bahwa makam tersebut adalah “kuburan” dari tandu yang membawa jasad Jokotole.

“Kisah tersebut diceritakan turun-temurun di sini. Meski ada juga kisah yang menyebut itu makam kuda terbang,” kata salah satu penjaga asta Jokotole.

Kisah lainnya, juga dalam cerita tutur, kuda terbang Jokotole ini tetap hidup hingga beratus tahun berikutnya. Ia diperkirakan sebagai mahluk gaib atau mahluk halus.

“Riwayat lisan menyebut kuda terbang juga tole selanjutnya pernah jadi kendaraan Pangeran Letnan Hamzah dan Raden Ardikusumo, dua anggota keluarga keraton Sumenep di masa dinasti terakhir,” kata RB Muhlis, yang juga merupakan salah satu anggota keluarga keraton Sumenep.

RM Farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

2 Komentar

  1. Zahni Jumat, 6 Maret 2020
    • MataMaduraNews.com Jumat, 6 Maret 2020

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: