Menu

Kembali Menjadi Santri

Kembali Menjadi Santri
Kembali Menjadi Santri. (By Design A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Ach. Syaiful A’la*

Tulisan ini tidak untuk menjelaskan kenapa ada Hari Santri Nasional (HSN) yang ditetapkan oleh Presiden Jokowi pada lima tahun silam, peran pondok pesantren, peran kiai dan santri dalam perjuangan membebaskan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Tentu beberapa hal tersebut sudah banyak sebelumnya orang menulis, baik di media cetak, online atau ada tulisan yang berbentuk buku. Maksud tulisan ini untuk mengingat kembali –mungkin terdapat pergeseran paradigma– tentang makna di balik peringatan Hari Santri Nasional yang setiap tahun diperingati menjadi upacara ritual.

Peringatan Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan ritual tahunan yang begitu selesai diperingati melalui upacara atau dengan berbagai macam keragaman cara yang dilakukan pada setiap daerah oleh organisasi kemasyarakatan, birokrasi, lembaga pendidikan dan pondok pesantren yang setelah selesai serimonial dianggap selesai pula segala hal yang melatarbelakanginya.

Peringatan Hari Santri ini menjadi refleksi bagi para santri yang ada sebagai generasi yang diwarisi perjuangan dan pengabdian oleh para santri pendahulunya dalam merebut kemerdekaan, memajukan negara dan mengisi perabadaban bangsa Indonesia, menjadi benteng dari hal-hal negatif serta tetap mempertahankan nilai-tradisi perjuangan yang ada dalam lembaga pendidikan islam, seperti pondok pesantren.

Santri Abad Digital

Sudah barang tentu, keberadaan santri saat ini dihadapkan pada zaman yang sudah tentu berbeda dengan generasi santri pada masa-masa lalu. Di mana santri saat ini sudah masuk dan dihadapkan pada suatu masa abad industri. Sebuah masa yang ditandai dengan kecanggihan teknologi di mana informasi masuk tanpa harus ada filter yang ketat pada ruang-ruang privasi setiap individu santri.

Jika kita tilik tentang perubahan pola santri, termasuk santri yang sudah menyelesaikan studinya, menjadi alumni pondok pesantren, yang paling menonjol adalah adanya perubahan dan pergeseran nilai tentang kosongnya spiritual. Kini, santri lebih cenderung mendepankan kekuatan otak daripada meminta nasehat hatinya. Jika santri zaman dulu dalam merencanakan dan atau membuat sebuah keputusan dengan cara melakukan istikharah, meminta petunjuk kepada Sang Khaliq, santri abad modern ini sudah mulai meninggalkan istikharah dan lebih cenderung memilih jalan yang kasat mata dan mematis.

Kedua, gerakan santri yang cenderung pragmatis. Tuntutan dan kebutuhan ekonomi setiap individu yang semakin kompleks di samping persaingan ekonomi global yang semakin ketat menuntut setiap orang untuk mengubah pola pikir dan gaya hidupnya dari kolektif menjadi cenderung individualis. Berpikir untuk mementingkan orang banyak (mengabdi) menjadi nomor yang kesekian kalinya. Suskes dan untung pada dirinya menjadi nomor satu.

Sifat pragmatis yang mulai menempel pada diri santri ini juga akibat dari situasi politik saat ini. Momentum Pemilu juga telah mampu menggeser pola pikir santri yang condong pragmatis. Jika kiai dan santri dulu memilih berpolitik sebagai “dakwah kebijakan” dalam rangka memperjuangkan hak-hak rakyat lewat jalur kebijakan politik di parlemen. Kini, santri dalam berpartai lebih mementingkan dirinya dan kelompok, misalnya partai politik di mana ia sebagai anggota.

Sementara, ada gerbong besar seperti kepentingan pondok pesantren, madrasah, mushalla, guru ngaji cenderung terabaikan dan jauh dari perhatian politik santri di parlemen. Kenapa demikian? Karena gerbong besar itu menghasilkan sedikit keuntungan dibandingkan dengan mengawal proyek-proyek profit oriented.

Konsekuensi dari perilaku politik santri yang cenderung pragmatis dan liberal itu, santri juga dalam urusan berpolitik lebih bangga mencari jalan lain dengan kiainya. Santri sekarang mempunyai pandangan berbeda bahwa pilihan politik yang berbeda dengan kiainya merupakan sebuah identitas dan prestasi bagi santri itu.

Hal yang tidak luput dari perhatian Hari Santri tahun ini adalah lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren juga mulai terpengaruh dengan budaya luar yang hampir bisa dikatakan identitas kepesantrenannya mulai luntur. Misalnya, dahulu setiap pondok pesantren membunyai ciri khas, di mana ciri khas itu juga merupakan karakter dari kiai sebagai pengasuh pondok pesantren. Pesantren saat ini sudah mulai banyak dan lebih bangga mengadopsi metode pembelajaran dan kurikulum dari luar produk pesantren.

Pada Hari Santri tahun ini hendaknya kita mampu menjadikan sebagai momentum untuk memulihkan sesuatu yang redup dan hampir hilang di kalangan kaum sarungan ini. Karena jika berangkat dari sejarahnya, menjadi santri adalah identitas yang patut menjadi kebanggaan dan dibanggakan banyak orang di Indonesia, sehingga kita diberi penghargaan Hari Santri Nasional.

Ke depan, santri tidak lagi dihadapkan pada situasi zaman harus berperang dan berdarah-darah. Akan tetapi, santri dituntut untuk membuat gerakan pemikiran, perubahan yang strategis, memberikan sumbangsih pemikiran yang kritis dan transformatif. Semoga!

*Ach. Syaiful A’la, Rektor Institut Kariman Wirayudha Sumenep & Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan

Hukum & Kriminal

Ra Fuad Amin

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: