Ketika Hairul Sowan ke Kiai Bahid Karay Ganding

matamaduranews.comSUMENEP-Hairul Anwar ternyata sudah lama punya kebiasaan sowan (silaturrahmi) ke para ulama atau kiai.

Bagi Hairul, silaturrahmi ke para ulama stsu kiai bagian dari anjuran agama Islam. Sebab, katanya, dari ulama atau kiai itu, ummat bisa tercerahkan. Ummat punya oase dalam kehidupannya.

“Ulama atau kiai perlu dijaga. Perlu dihormati. Karena beliau (ulama/kiai, red.) menjaga ummat demi tegaknya ajaran Allah,” ucap Hairul Anwar saat menuju kediaman KH Bahid, Pengasuh Ponpes Al-Karawi, Desa Ketawang Kec. Ganding, Sumenep, Kamis malam (9/4/2020).

Hairul mengaku sudah menjadi tradisi dirinya dan keluarganya untuk menaruh hormat dan mengasihi sosok ulama.

“Ayah kan alumni pondok Tebuireng, Jombang. Ibu kan dari Dempo, Ambunten yang juga family dengan Kiai Thaifur dan Kiai Suhail. Ya…pesan ayah dan ibu untuk selalu dekat dengan kiai,” terang Hairul.

Hubungan Hairul dengan sejumlah kiai atau ulama di Sumenep ternyata sudah lama. Termasuk kedekatan dirinya dengan Pengasuh Ponpes Alkarmiyyah, Beraji, KH A. Busyro Karim.

Dari perbincangan di atas mobil tak terasa terhenti ketika tiba di halaman dhalem Kiai Bahid, Karay. Di halaman itu, berjejer puluhan mobil pribadi dan pikap serta ratusan sepeda motor.

Waktu itu Malam Jumat Manis. Banyak peziarah hendak bertawasul ke Asta KH Hammad dan masyayikh Karay. Lalu sowan ke Kiai Bahid.

Setelah membasuh tangan, rombongan Hairul dipersilahkan menemui Kiai Bahid.

BACA JUGA :  Mengenal Panembahan Ronggosukowati, Raja Islam Pertama Pamekasan

Di dalam ternyata sudah duduk rapi puluhan tamu dari berbagai daerah. Salaman ke Kiai Bahid lalu dipersilahkan duduk di deretan kosong sebelah timur bagian utara.

Beberapa detik kemudian, Kiai Bahid tanya maksud dan tujuan Hairul. Kiai Bahid terus fokus memandang Hairul.

Pertemuan itu banyak pertanyaan ke Hairul meski tamu duduk rapi dan banyak tamu yang silih datang.

Tamu yang ada menyimak pertanyaan dan jawaban Kiai Bahid yang langsung ditujukan ke Hairul.

Sampean acalona Wabup. Pasera calon Bupatina?,” tanya Kiai Bahid.

“Pak Fattah Jasin,” jawab Hairul.

Sejenak, Kiai Bahid bertanya siapa saja calon yang ada. Setelah mendapat jawaban, Kiai Bahid berdawuh,”addu duwa’. Sengit neka (calon dua. Pilkada ketat,red),”.

Seakan tamu tercengang mendengar dawuh Kiai Bahid.

Kiai Bahid bercerita banyak tentang bakal calon bupati yang datang menemuinya.

Lalu, Kiai Bahid memungkasi dengan kalimat, “Ampon ghi’ rul. Salamet. (Sudah cukup Hairul, selamat,red),”.

Setelah itu, Hairul dan rombongan berpamitan dengan Kiai Bahid. Jam menunjukkan pukul 21.35 wib, Kamis malam.

Berjalan menuju halaman parkir mobil, banyak yang bersalaman dengan Hairul dan menyatakan, “malar mogha tekka hajat (semoga teka hajat, red.).

Sebelum menuju Sumenep, rombongan Hairul mempir ke warung Ki Demang, aktivis netizen yang akrab dengan istilah”Penguasa Kanal Barat”.

Hambali Rasidi

Komentar