Menu

Ketika Wartawan Mata Madura Menjalani Isoman Tanpa Perhatian Pemerintah

Ketika Wartawan Mata Madura Menjalani Isoman Tanpa Perhatian Pemerintah
Johar Maknun

matamaduranews.com-PAMEKASAN-Pada tanggal 2 Juli 2021, ba’dha Shalat Jumat. Saya mulai batuk-batuk. Tenggorokan sakit.

Lalu saya ingat. Malam hari saya dari Sampang. Jumat pagi saya melayat dekat rumah.

Jumat siang itu. Saya naik sepeda motor sendiri untuk menjalani swab antigen di Pos Penyekatan Larangan Tokol, Terminal Barang, Pamekasan. Hasilnya saya positif terpapar Covid-19.

Petugas Satgas Covid-19 di tempat itu, mencatat nama saya dalam komputer. Petugas dari kepolisian juga mencatat nama saya sebagai pasien tambahan covid.

Salah satu petugas menyarankan saya agar menjalani isolasi mandiri (Isoman).

Saya pulang ke rumah di perumahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan.

Malam hari. Jumat malam. Penyakit yang saya rasakan bertambah. Demam, batuk dan nyeri sendi benar-benar menyiksa.

Saya diam di rumah bersama putra saya. Memendam sakit.

Putra laki-laki saya yang sudah remaja juga ikut mengalami gejala sama. Tanpa dilakukan swab antigen. Saya berpikir anak saya yang tinggal serumah juga ikut terpapar Covid-19.

Praktis saya berdua menjalani Isoman.

Nama saya yang dicatat oleh petugas Satgas Covid-19 Pamekasan dalam komputer itu, lalu mengkhayal. “Nama saya sudah masuk dalam SIMP (Sistem Informasi Mitigasi Pandemi) Pamekasan,” bergumam dalam hati.

Saya juga mengkhayal. Sebaran covid tahun kedua akan diperhatikan oleh Pemkab Pamekasan dalam mengatasi pandemi Covid.

Khayalan saya sederhana. Kabupaten Pamekasan dipimpin oleh Bupati Muda nan cerdas. Saya sangat yakin Pak Bupati Baddrut Taman akan cepat belajar dalam penanganan warga yang terpapar covid.

Makanya. Saya menjalani Isoman dengan perasaan tenang di rumah. Khayalan saya terhadap Bupati Baddrut selangit.

Saya begitu yakin. Saya menjalani Isoman akan dibackup oleh Sistem Penanggulangan Pandemi yang canggih.

Data pasien yang terpapar Covid-19. Dan mereka yang sedang menjalani Isoman bakal langsung tercatat di komputer. Di kelurahan hingga ke RT.

Saya benar-benar haqqul yakin pemerintah akan hadir.

Sabtu merupakan hari kedua saya menjalani Isoman.

Pada sabtu pagi. Saya sudah mengkhayal tinggi dan membayangkan petugas Satgas Covid Pamekasan datang ke rumah. Mengantar obat-obatan, vitamin yang dibutuhkan dan makanan untuk saya.

Sebagai jaminan. Saya tetap di rumah. Stay at Home.

Sampai jam 08.00 pagi, hari Sabtu. Saya tunggu tak satu pun petugas datang.

Badan sudah lemas. Perut lapar. Dalam situasi seperti itu, saya berusaha tenang. Dan menarik kesimpulan bahwa nama saya masih belum ada di Sistem Informasi Manajemen Penanggulangan Pandemi.

Di sejumlah Grup WA Pamekasan. Saya lihat sejumlah petugas lalu lalang. Mereka bergerak ke sana kemari untuk menertibkan PPKM Darurat.

Petugas lalu lalang ternyata tanpa berpijak pada sistem informasi yang jelas.

Sejak itu. Sabtu pagi. Saya memutuskan untuk mengontak saudara-saudara saya. Para kolega sesama jurnalis dan aktivis di Pamekasan. Termasuk, mantan istri saya yang kebetulan sebagai paramedis di Pamekasan.

Alhamdulilah..

Dukungan datang dari kolega saya. Obat-obatan dan vitamin kiriman dari mantan istri saya juga datang.

Kiriman makanan dari keluarga juga melimpah. Kiriman dari kolega yang milik Restoran “Cak Gendut” juga setia mengirim aneka menu makanan yang dibutuhkan.

Mereka mengirim makanan secara gratis ke rumah saya. Setiap hari. Pagi, siang dan malam.

Selain makanan. Ada juga kiriman buah dari kolega secara bergantian.

Singkat cerita. Saya menjalani Isoman. Meski tanpa kehadiran pemerintah. Urusan makanan dan obat-obatan melimpah.

Saya lagi beruntung banyak kolega dan saudara yang membantu.

Bagaimana dengan pasien covid lain yang menjalani Isoman?

Di luar sana, saya banyak mendengar. Berhari-hari menjalani sakit dengan gejala sama lagi megap-megap.

Untuk dapat obat saja susah. Dukungan makanan bergizi juga tidak ada. Mereka banyak yang stres, drop.

Pemerintah seperti abai atas warganya yang lagi sakit dengan gejala sama satu lainnya.

Warga di desa-desa memang banyak yang buta soal covid. Bagaimana penyakit yang diderita. Bagaimana cara sembuh dari penyakitnya.

Mereka rata-rata beli obat di warung. Meski sudah belasan hari merasa demam dan puying kepala.

Saat kondisi krirtis. Baru ada keluarga yang memaksa untuk berobat ke puskesmas atau rumah sakit.

Jika ada pasien covid di rumah sakit atau puskesmas meninggal. Petugas pemerintah datang dengan pasukan anti Covid nya.

Datang saat warganya hendak dikubur dengan protokol covid.

Seandainya data mitigasi pandemi terintegrasi sampai ke tingkat RT, maka orang-orang yang melakukan isolasi mandiri, pasti terpantau oleh RT secara realtime. Baik perkembangan kesehatannya, ketersediaan obatnya, makananya dan tracing kontaknya.

Sebab di desa dan kelurahan tersedia anggaran penanggulangan covid untuk rakyat. Entah dari Dana Desa (DD) atau APBD.

Tapi begitulah.

Pemerintah terlihat sangat sibuk menangani Covid. Sekali lagi, terlihat sibuk. Sibuk berpatroli, melakukan penyekatan dan memadamkan lampu kota jika sudah mulai malam. Tapi lupa jika banyak warga yang terpapar covid.

Saya percaya, pemerintah ingin covid ini cepat tuntas. Tapi pemerintah lupa untuk membangun sistem mitigasi pandemi yang bisa memudahkan pemerintah bekerja.

Saya yakin. Jika sistem Sistem Informasi Mitigasi Pandemi dibangun. Pandemi ini akan lebih mudah dikendalikan.

Tulisan ini saya tulis di hari ke-18 menjalani Isoman. Batuk saya mulai reda.  (johar maknun)

Bersambung….

Johar Maknun, wartawan Mata Madura di Pamekasan

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

matajatim.id

Disway

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: