Menu

Kiai Fikri & Kiai Ramdlan

Kiai Fikri & Kiai Ramdlan
KH Ramdlan Siradj dan KH Ali Fikri Warits. (matamadura)
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

KH Ali Fikri Warits masih sepupu dengan KH Ramdlan Siradj.

KH A. Warits Ilyas, ayahanda Kiai Fikri-saudara kandung dengan Nyai Badi’ah Ilyas-,ibu kandung Kiai Ramdlan.

Itulah sanad saudara sepupu antara Kiai Fikri dan Kiai Ramdlan.

Sosok Kiai Ramdlan, mengingatkan saya, 15 tahun lalu. Saat Pilkada Sumenep 2005.

Sang paman, mendiang KH Warits menjadi garda terdepan pemenangan sang keponakan (Kiai Ramdlan) yang sedang nyalon Cabup Sumenep.

Kiai Ramdlan bercerita, seperti tertuang dalam buku Rahasia Politik KH Ramdlan (2008). Di Pilkada 2005, Kiai Ramdlan tak terbayang untuk nyalon Bupati Sumenep yang ke-2.

Hanya karena didesak sang paman (KH Warits), dirinya luluh. Itu pun atas restu sejumlah Kiai Nurul Jadid, Paiton.

Kiai Ramdlan menerima jadi Cabup Sumenep diusung PPP. Kiai Ramdlan berpasangan dengan Moch. Dahlan, putra Kangean, Sumenep yang berkarir di Pemkab Bangkalan.

Selama kampanye, Kiai Ramdlan terus bercerita soal pencalonan dirinya bersedia menjadi Cabup yang diusung PPP.

“Ibarat sangkar burung. Hanya sangkarnya yang berbeda. Tapi isinya tetap,” terang Kiai Ramdlan dalam suatu pertemuan kampanye dengan para kiai dan tokoh masyarakat di Kecamatan Nonggunong, Pulau Sapudi.

Selama kampanye, saya berkesempatan ikut mendampingi Moch. Dahlan-sesama anak pulau.

Duet Kiai Ramdlan-Dahlan diluar prediksi. Ekspektasi warga tak terbendung.

Usai berkampanye di kepulauan, ada ibu-ibu yang gendong anaknya minta didoakan oleh Kiai Ramdlan.

Sebagian ibu-ibu juga minta air doa ke Kiai Ramdlan.

Kiai Ramdlan melayaninya secara ikhlas.

Bagi mereka. Kiai Ramdlan datang bukan untuk kampanye.

Perlakuan yang sama juga saya saksikan saat Kiai Fikri ikut mendampingi Cabup Fattah Jasin di Kepulauan Kangean.

Desa Angon-Angon, Kecamatan Arjasa, Kangean. Ibu-ibu Muslimat itu menghampiri Kiai Fikri sambil menggendong anaknya yang masih balita.

Mereka para muslimat al-Qudsi bawa botol air agar dibacakan doa oleh Kiai Fikri.

Kiai Fikri suatu ketika bercerita bahwa dirinya bersedia nyalon Wabup karena disuruh Kiai Muqsid, salah satu sang paman yang juga salah satu kiai sepuh dan pengasuh Ponpes Annuqayah.

Kiai Fikri menjalani perintah Kiai Muqsid untuk mendaftar sebagai calon Wabup di PPP.

Saat dirinya direkomendasi PPP untuk berpasangan dengan Cabup Fattah Jasin yang diusung PKB. Kiai Fikri menerima karena amanat PPP.

“Seandainya, saya tak diamanati PPP, saya tak akan nyalon Wabup,” cerita Kiai Fikri.

Dalam setiap pertemuan dengan masyarakat. Kiai Fikri selalu bercerita kalau dirinya tak terbayang untuk nyalon Wakil Bupati Sumenep.

Kiai Fikri mengaku, menjaga amanat almarhum (KH Warits, red) sudah berat.

Kaule ampon e amanadi sareng almarhum untuk ajege santre. Tiap shalat fardhu kaule ngimami. (Saya sudah diberi amanah oleh almarhum untuk mengasuh santri dan mengimami setiap shalat fardhu,red),” cerita Kiai Fikri.

“Seandainya Mamak (adiknya, Ra Mamak,red) bersedia nyalon Wabup, kan tak ma repot ka badhan kaule. Samangken, beban ka badhan kaule atambe. (Seandainya Mamak bersedia nyalon Wabup, kan tak merepotkan. Sekarang beban hidup saya bertambah,” sambung Kiai Fikri disampaikan di sejumlah tempat silaturahmi di Kepulauan Kangean.

Secara tegas Kiai Fikri menyatakan sangat senang apabila dirinya tak menjadi Cawabup.

Bile epon kaule e gentea calon wabup, kaule ce’ sennengnga. (kapan saja saya mau diganti sebagai calon wabup, saya sangat senang,”.

Kenapa bersedia jadi calon Wabup?

“Ini bagian dari jalan hidup saya. Dan memilih pemimpin merupakan bagian dari ibadah dan kewajiban ummat,” terang Kiai Fikri di hapadan para muhibbin Mas Kiai.

Jalan hidup manusia. Tak ada yang bisa menghindar. Allah yang mencipta. Allah juga yang memilih.

Sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Qashash, ayat 68: wa rabbuka yakhluqu maa yasyaa`u wa yakhtar, maa kaana lahumul-khiyarah. (Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka).

Kiai Fikri memang bukan sosok seorang politisi. Beliau bicara apa adanya. Tak peduli dengan selebrasi. Yang ada dalam hatinya, beliau sampaikan.

Wajah-nya imut. Sampai ada emak-emak di Sapeken yang bertanya, “Pak Kiai belum beristri,”.

Pertanyaan emak-emak itu hal yang wajar. Sepintas, face-Kiai Fikri masih remaja. Padahal, usia sudah 47 tahun.

Sikap Kiai Fikri yang apa adanya kerap memancarkan aura kedamaian. Tutur katanya ikhlas.

Setiap pertemuan politik, Kiai Fikri selalu menyampaikan bahaya money politik di era demokrasi. Hingga Kiai Fikri berdawuh,”mon narema pesse politik, jha’ pakerem ka potrana se monduk,”

Pesan politik Kiai Fikri apa adanya. Seperti kisah Kiai Ramdlan di Pilkada 2005 yang juga berkata apa adanya kepada pemilih.

“Memilih pemimpin bagian dari ibadah. Apa yang kita perbuat di dunia, akan dihisab kelak di akhirat,” pesan Kiai Fikri.

Begitulah…

Pecinta yang ingin mencintai apa adanya

Seperti tarikan magnet kepada besi.

Pesona Satelit, 10 September 2020

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: