Kiai Muban, Jejak dan Kiprahnya Dalam Islamisasi di Madura Timur

matamaduranews.com-SUMENEP-Di kawasan Ambunten, nama Kiai Muban cukup populer. Khususnya di keluarga kiai-kiai di sana.

Tepat di kampung Batang, Ambunten, makam tokoh ulama yang prasasti belakang nisannya tertulis Sayyid Muban begitu terkenal.

Banyak para peziarah datang  dari daerah luar.

Sebutan sayyid tersebut berasal dari asal-usul sang tokoh yang dalam banyak catatan silsilah di Sumenep khususnya, disebut sebagai keturunan langsung Sunan Ampel, yang merupakan tokoh Wali Sanga dari golongan Saadah Ba’alawi.

Catatan mengenai silsilah Sayyid Muban, atau di catatan lain ditulis Kiai Muban, salah satunya terdapat di Buku Silsilah Keraton Sumenep, tulisan tangan R. B. Abdul Fattah (1989).

Kiai Muban adalah putra Sayyid Syits atau Kiai Syits di Barangbang (yang masuk Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, Sumenep).

Kiai Syits merupakan salah satu anak lelaki Sayyid Zainal Abidin alias Sunan Cendana di Kwanyar, Bangkalan.

Jika ditarik ke atas, begini silsilah K. Syits: Kiai Syits bin Sunan Cendana bin Sunan Mufti (Khatib/R. Bandardaya) bin Pangeran Musa bin Sunan Drajat bin Sunan Ampel.

Dalam catatan di maqbarah Sunan Cendana, tertulis Sunan Cendana bin Sayyid Khatib bin Sunan Drajat bin Sunan Ampel. Wa Allah a’lam.

Kaitan dengan Kiai Langgar Attas

Dalam tradisi lisan, selain Kiai Muban, tokoh yang diperkirakan lebih senior ialah Kiai Langgar Attas.

Makamnya tak jauh dari makam Kiai Muban.

Menurut Nyai Hj Zainiyah, tokoh setempat, Kiai Langgar Attas merupakan ulama sepuh di wilayah tersebut. Menurut kisah turun-temurun, Kiai Langgar Attas merupakan tokoh ulama pendatang. Tidak ada keterangan mengenai asal-muasalnya.

”Salah satu kisah menyebut beliau dari arah Barat. Bisa jadi dari Bangkalan saat ini,” kata mertua K. H. Uwais Ali Hisyam itu, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA :  Ketika Hairul Sowan ke Kiai Bahid Karay Ganding

Konon, Kiai Langgar Attas datang bersama saudara laki-lakinya. Keduanya merupakan tokoh yang alim.

Namun karena perbedaan pendapat dan sistem pendekatan da’wah pada masyarakat, saudara K. Langgar Attas memutuskan untuk hijrah dari Ambunten.

”Menurut riwayat hijrah ke Barangbang Sumenep,” ungkap Zainiyah.

Perbedaan itu menurut tutur, seputar metode dakwah. Kiai Langgar Attas bersikap lebih terbuka terhadap adat istiadat setempat. Sedang saudara beliau lebih keras dalam menerapkan hukum agama.

Nah, perbedaan tersebut tentu saja bisa berakibat tidak baik. Dan keduanya memahami secara arif. Sehingga, memutuskan untuk berpisah.

Kendati diduga kuat ada keterkaitan, baik Nyai Zainiyah atau masyarakat setempat, tidak ada yang bisa menjelaskan hubungan Kiai Muban dengan Kiai Langgar Attas. Namun di catatan silsilah K. Muban jelas menuliskan Kiai Syits di Barangbang sebagai ayah Kiai Muban.

Dugaan sementara yang muncul di kalangan Tim Ngoser (Ngopi Sejarah) Sumenep, Kiai Syits ialah orang yang sama dengan saudara laki-laki Kiai Langgar Attas yang hijrah dari Ambunten karena beda metode dakwah, atau penerapan fiqih.

Dugaan itu karena riwayatnya saudara K. Langgar Attas hijrah ke Barangbang. Sedang di catatan silsilah, K. Syits berdomisili di Barangbang.

Nah, diperkuat dengan keberadaan asta K. Muban di Kampung Batang, berdekatan dengan K. Langgar Attas.

“Maka kemungkinannya begini, K. Muban tidak ikut hijrah bersama ayahnya, namun menetap bersama pamannya, di Batang,” kata Ja’far Shadiq, salah satu personel Ngoser.

Meski begitu, hal tersebut tentu masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut. Namun tidak bisa dipastikan hal itu mudah, karena catatan maupun riwayat tutur terkait dugaan tersebut masih belum ditemukan.

RM Farhan

Komentar