Kisah Kiai Bahar Sidogiri Nyantri Ilmu ke Syaikhona Kholil Bangkalan

Mata Madura - 29/09/2021
Kisah Kiai Bahar Sidogiri  Nyantri Ilmu ke Syaikhona Kholil Bangkalan
Syaikhona Kholil Bangkalan dan Kiai Bahar  - ()
Penulis
|
Editor
Link Banner

matamadurasnews.com–Kisah karomah Syaikhona Kholil Bangkalan tampaknya masih melekat di kalangan pengagumnya.

Salah satu kisah yang tidak banyak orang tahu, yakni ketika salah satu santri bermimpi tidur dengan istri ulama’ yang kesohor itu.

Kisah tersebut bersumber dari KH. Nawawi Abdul jalil, Sidogiri, Pasuruan. Sebagaimana dikutip dari buku “Surat Kepada Anjing Hitam : Biografi dan Karomah Syaikhona Kholil Bangkalan” yang ditulis oleh Syaiful Rahman. Berikut ini kisahnya :

Pada suatu malam menjelang pagi, santri bernama Bahar merasa gundah. Dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa sholat subuh berjamaah.

Ketidakikutsertaan Bahar bukan karena malas, tetapi disebabkan karena halangan junub. Semalam Bahar mimpi tidur dengan seorang wanita. Kegundahan Bahar sangat dipahami. Sebab wanita itu adalah Istri Kiai Kholil, Istri gurunya.

Menjelang subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar. Sambil membawa sebilah pedang seraya berucap, “Santri kurang ajar. Santri kurang ajar.” Para santri sudah naik ke masjid untuk sholat yang berjamaah menjadi heran dan penuh tanda tanya, dan siapa yang dimaksud santri kurang ajar apa itu.

Subuh itu, Bahar memang tidak ikut sholat berjamaah, tetapi bersembunyi dibelakang pintu masjid.

Seusai sholat subuh berjamaah Kiai Kholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri, lalu bertanya, “Siapa santri yang tidak ikut berjamaah ?” tanya Kiai Kholil dengan sikap menyelidik.

Semua santri merasa terkejut, tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Para santri mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tahu siapa yang tidak hadir.

Ternyata yang tidak hadir pada subuh itu hanyalah Bahar Kiai, kemudian memerintahkan mencari Bahar untuk dihadapkan kepadanya.

Setelah ditemukan, Kiai lalu menatap tajam kepada Bahar, dan berkata, “Bahar, karena kamu tidak hadir sholat subuh berjamaah maka harus dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok ini.” Petok adalah sejenis pisau kecil, dipakai untuk menyabit rumput.

Setelah menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan dengan tulus. Dapat diduga, bagaimana Bahar menebang dua rumpun bambu dengan alat kesulitan dan memerlukan tenaga serta waktu yang lama.

Namun, hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik. “Alhamdulillah sudah selesai Kiai,” kata Bahar setelah menyelesaikan tugasnya.

“Kalau begitu, sekarang kamu makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis,” perintah kiai kepada Bahar.

Sekali lagi Bahar dengan patuh dan gembira menerima hukuman. Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang ke-dua lalu disuruh memakan buah-buahan sampai habis.

Mendengar perintah ini Santri Bahar segera melahap semua buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu Bahar diusir dari pesantren.

Maka sempurnalah hukuman Bahar. Namun diluar dugaan, sambil menunjuk Bahar Kiai Kholil berkata, yang sederhana sekali,
“Hei santri, semua ilmuku sudah dicuri ini.”

Dengan perasaan senang dan mantap santri Bahar pulang meninggalkan pesantren menuju kampung halamannya.

Memang benar, tidak lama setelah kejadian itu, santri yang mendapat isyarat mencuri ilmu Kiai Kholil itu, menjadi kiai yang sangat alim, yang memimpin sebuah pondok besar di Jawa Timur.

Kiai yang beruntung itu bernama Kiai Bahar, seorang kiai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya di Pondok pesantren Sido Giri, Pasuruan, Jawa Timur.

Fauzi, Mata Madura

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->