Kisah Kiai Syamsul Sukorejo dan Kiai Kholil Bangkalan Pergi ke Mekkah dalam Sekejap

Mata Madura - 04/05/2020
Kisah Kiai Syamsul Sukorejo dan Kiai Kholil Bangkalan Pergi ke Mekkah dalam Sekejap
ilustrasi - ()
Penulis
|
Editor

matamaduranews.com-Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura dikenal sebagai guru dari banyak ulama dan kiai di Jawa Timur.

Salah satu santrinya adalah KHR Syamsul Arifin, ayah KHR As’ad, Kiai Kharismatik Sukorejo, Situbondo.

KHR Syamsul Arifin sebagai Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo membuat testimoni tentang salah satu karomah Syaikhona Kolil Bangkalan.

Dalam buku KHR As’ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Syamsul A. Hasan bercerita karomah Syaikhona Kholil Bangkalan yang pergi ke Tanah Suci Mekkah dalam waktu sekejap.

Syamsul A. Hasan sebagai sahibul hikayah dalam buku itu, mengaku memperoleh cerita langsung dari almarhum KHR Syamsul Arifin.

Berikut nukilan kisahnya,

“Suatu hari, ketika memasuki waktu ashar, Kiai Syamsul diajak oleh Syaikhona Kholil ke pinggir pantai. Sang guru kemudian menyuruh Kiai Syamsul untuk mencari kerucut, yaitu sampan yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Sampan tersebut akan digunakan Syaikhona Kholil untuk pergi ke tanah suci Mekkah. Awalnya, di hati kecil Kiai Syamsul ragu bisa sampai ke Mekkah hanya dengan menggunakan sampan tersebut. Namun, di luar nalar, keduanya benar-benar bisa sampai ke Mekkah hanya dalam waktu sekejap. Kiai Syamsul pun terheran-heran dengan keistimewaan gurunya tersebut. Setiba di tanah suci, ia pun segera diajak oleh gurunya untuk menunaikan shalat Ashar di Masjidil Haram,”.

Menurut sahibul hikayah, kejadian serupa tidak hanya sekali dua kali saja dilakukan Syaikhona Kholil Bangkalan. Tapi hampir sudah menjadi kebiasaan rutin.

Dalam buku itu, juga diceritakan bahwa kepatuhan KHR Syamsul Arifin sebagai santri Kiai Kholil Bangkalan dalam mengabdi kepada sang guru.

Salah satu bentuk ketulusan ngabdi kepada sang guru, Kiai Syamsul rela masuk penjara demi menjaga kehormatan sang guru.

Ceritanya, suatu ketika seekor kuda peliharaan Syaikhona Kholil lepas dari kandangnya. Lalu, kuda itu masuk pekarangan milik seorang pejabat dan merusak tanaman yang ada di dalamnya. Kejadian itu pun dibawa sampai ke pengadilan.

Sebagai seorang santri yang taat terhadap sang guru, Kiai Syamsul pun tanpa ragu-ragu maju ke sidang pengadilan mewakili Syaikhona Kholil sampai akhirnya Kiai Syamsul dipenjara.

Namun, kejadian itu justru membuat hubungan Kiai Syamsul dengan Syaikhona Kholil semakin dekat. Lebih dari itu, kedunya tidak hanya sebatas hubungan antara seorang kiai dan santri.

Hubungan yang begitu dekat, Kiai Syamsul pun sering diajak Syaikhona Kholil pergi ke tanah suci Mekkah. Keberangkatan ke Mekkah melalui keistimewaan yang dimiliki sang guru. (redaksi)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->