Menu

Kisah Unik Syaikhona Kholil Bangkalan saat Mendidik Para Santri

Kisah Unik Syaikhona Kholil Bangkalan saat Mendidik Para Santri
Kolase Pasarean Syaikhona Kholil, dan Masjid di Martajasah, Bangkalan. (Foto/istimewa)

matamaduranews.com-Syaikhona KH Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bankalani-populer dengan panggilan Syaikhona Kholil Bangkalan-merupakan salah satu dari ulama yang mendidik para santrinya dengan cara-cara yang unik.

Berikut kisah unik para santri yang pernah mendapat didikan langsung dari Syaikhona Kholil Bangkalan.

1. Kisah Kiai Abdul Karim Lirboyo

Suatu ketika, dahulu Syaikhona Kholil mempunyai santri asal Magelang, Manab namanya. Selama liburan karena termasuk dari golongan yang tak mampu dan tak pernah mendapat kiriman dari orang tuanya, ia bekerja di sawah sekitar pesantren untuk mengumpulkan beberapa ikat padi yang akan ia gunakan sebagai ‘sangu’ selama mengaji kepada Syaikhona Kholil.

Sesampainya di Demangan, Bangkalan, kebetulan Syaikhona Kholil waktu itu sedang duduk di luar rumahnya, melihat santrinya datang membawa dua karung beras.

Syaikhona Kholil, berkata : “Kebetulan ayam-ayamku masih belum makan”.

Manab lekas memahami keinginan Kiainya, tanpa menunggu lama ia menaburkan beras dua karung itu di kandang ayam-ayam Syaikhona Kholil. Hasil jerih payahnya berbulan-bulan ludes pada waktu itu juga.

Sebagai ganti beras itu, Syaikhona Kholil menyuruhnya untuk mengumpulkan daun mengkudu sebagai makanan sehari-harinya.

Santri bernama Manab itu kelak akan menjadi Ulama besar di zamannya, mendirikan pesantren yang memiliki ribuan santri hingga saat ini. Ia yang kelak lebih dikenal sebagai Simbah Kiai Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

2. Kisah KH Ma’shum Lasem

Lain lagi dengan yg dialami oleh santri bernama Muhammadun, sehari sebelum santri asal Lasem itu datang ke Bangkalan, Syaikhona Kholil menyuruh murid-muridnya untuk membuat ‘kurungan’ ayam.

Keesokan harinya Syaikhona Kholil menyambut kedatangan Muhammadun lalu memerintahkannya untuk menjebloskan diri ke dalam kurung ayam itu. Sam’an wa tho’atan ia laksanakan perintah sang guru tanpa protes sedikitpun.

Kelak ialah yang akan menjadi salah satu Jago tanah Jawa, menjadi Kyai Alim nan kharismatik yg dikenal sebagai Simbah Kiai Maksum Lasem.

3. Kisah KH Abdul Wahab Hasbullah

Ada lagi santri asal Jombang bernama Abdul Wahab malah memiliki pengalaman yg seru dan menegangkan. Ketika baru sampai di gerbang pondok Syaikhona Kholil, ia disambut oleh puluhan santri yg membawa clurit dan pedang dan hendak menyerangnya, dan tentu saja ia lari terbirit-birit.

Ternyata Syaikhona Kholil sudah mewanti-wanti para muridnya untuk bersiaga di hari itu, kata beliau akan ada ‘Macan’ yg hendak memasuki area pondok.

Dan sialnya, Santri baru bernama Abdul Wahhab itu yang Syaikhona Kholil tuduh sebagai ‘Macan’ hingga ia menjadi target serbuan para santri. Keesokan harinya ia kembali lagi, masih juga disambut dengan clurit dan pedang. Ia belum menyerah, ia mencoba lagi di malam ketiga, dan di malam itu ia berhasil memasuki area ponpes.

Karena kelelahan ia tertidur di Mushalla Pesantren, Syaikhona Kholil lalu datang dan membangunkannya. Dan di malam itu ia resmi diterima menjadi Santri Kiai Kholil, di masa depan, ialah yg akan menjadi Macan NU.

Pengasuh Pesantren Tambak Beras yang kita kenal sebagai Simbah Kiai Wahab Hasbullah.

Membersihkan Wadah Ilmu

Dawuh al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad : “Orang Yang mencari ilmu itu ibarat orang yang membawa wadah untuk meminta madu. Jika ia membawa wadah yg kotor, apakah sang pemilik madu akan menuangkan madunya untuknya ??? Tentunya ia akan menyuruhnya untuk membersihkan wadahnya terlebih dahulu.”

Ilmu itu layaknya madu, sedangkan hati kita adalah wadah untuk menerimanya. Semakin besar rasa ta’dzhim dan keyakinan kita terhadap guru kita, semakin besar pula wadah yg kita miliki. Dan tentunya ‘barokah’ yg kita dapatkan akan lebih banyak dan melimpah.

Pertolongan Allah Ta’ala

Seringkali para Ulama mengulang-ulangi ucapan ini : “Al Madad ‘Ala Qadril Masyhad”. Artinya, Pemberian dan pertolongan Allah yang akan kita peroleh lewat guru kita, hal itu tergantung rasa ta’dzhim, keyakinan dan cara pandang kita terhadapnya..

Tidak ada istilah mantan guru, biarpun setinggi apapun santri tetap selamanya menjadikan guru sebagai guru.

Wallahu a’lam. Lahum Alfaatihah

*) Sumber: @nahdlatul ulama benteng NKRI

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Yono

matajatim.id

Disway

Catatan

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: