Kisah Pilu Nenek di Bangkalan Urus 3 Anak dan Cucu yang Alami Gangguan Mental 

matamaduranews.comBegitu mulya hati nenek Tipadma. Bertahun-tahun hidup miskin bersama tiga anak dan cucu yang memiliki masalah mental.

Tapi si nenek tak pernah mengeluh meski luput dari perhatian pemerintah.

Ya….Nenek Tipadma, 64 tahun. Tinggal di Dusun Du’alas, Desa Klapayan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Madura.

Si nenek Tipadma berdiam di rumah reot. Berukuran 3×6 meter. Berdinding seng, kayu dan bambu seadanya. Beralaskan tanah.

Di rumah itu, si nenek Tipadma tiap hari mengurus dan menghidupi tiga anak dan satu cucunya yang lagi mengalami kelumpuhan otak.

Si anaknya: Kulsum (34), Toyyiba (32), dan Tijeh (47). Ketiganya tuna rungu dan tunawisma.

Cucunya Musarrofah, 18, mengalami kelumpuhan otak hingga mematikan syaraf di sekujur tubuhnya.

Sang suami sudah lama wafat. Dari perkawinan itu, si nenek Tipadma dikaruniai 8 anak. 5 anaknya jadi pekerja migran.

Menghidupi empat keluarga itu, saban hari si nenek menjadi buruh tani dan beternak sapi milik tetangganya dengan sistem imbal.

Terkadang si nenek Tipadma mendapat  kiriman dari si anak Rp 500 ribu.

Kalau tak punya uang untuk beli beras untuk dimakan. Si nenek Tipadma nyari utangan ke tetangga.

Bertahun-tahun kehidupan itu dilalui nenek Tipadma tanpa mengeluh dan protes.

Meski si nenek dengar. Pemerintah kerap menurunkan bantuan kepada keluarga miskin dan anak-anak yang perlu bantuan asupan gizi dan kesehatan.

Entah kenapa ceritanya. Tiba-tiba.
Menteri Sosial Tri Rismaharini berkunjung ke rumah si nenek Tipadma di Dusun Du’alas, Desa Klapayan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Jumat kemarin 5 Agustus 2022.

Kedatangan Ibu Menteri tentu saja bikin heboh. Jadi perbincangan netizen.

Sayang. Media setempat tak mengulas alasan pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Bangkalan serta para legislator asal Bangkalan luput mengentas kehidupan nenek si Tipadma.

Sampai Ibu Menteri Risma berkunjung ke rumah nenek Tipadma pada Jumat 5 Agustus 2022 sekitar pukul 16.06 WIB.

Terlihat dari sejumlah pemberitaan media. Ibu Menteri didampingi anggota Komisi XIII DPR RI Imron Amin, bersama Wakil Bupati Bangkalan Mohni.

Kedatangan Ibu Risma  dan rombongan seperti ingin mengakhiri tangisan hidup nenek Tipadma.

Nenek Tipadma
Ibu Menteri Sosial Tri Rismaharini saat mengunjungi nenek Tipadma di Dusun Du’alas Desa Klapayan Kecamatan Sepulu Bangkalan Madura Jumat sore 5 Agustus 2022. (ANTARA)

Si Ibu Menteri seketika memberi sejumlah bantuan untuk meringankan beban hidup si nenek Tipadma.

Termasuk memastikan nenek Tipadma menjadi penerima bantuan tiap bulan dari program Kementerian Sosial agar meringankan beban kesehariannya.

Sehari dari kunjungan itu. Sabtu kemarin. Dilakukan bedah rumah nenek Tipadma.

Ibu Menteri mengabari dan minta ijin untuk membedah rumah si nenek Tipadma waktu berkunjung ke rumah nenek Tipadma, Jumat itu.

“Rumahnya akan kami perbaiki ya, Bu. Nanti gotong royong dengan warga memperbaikinya,” tutur Ibu Mensos kepada nenek Tipadma dalam kunjungannya, Jumat (5/8).

BACA JUGA :  Presiden Jokowi Tetapkan 1 Maret Hari Penegakan Kedaulatan Negara, Ini 4 Alasannya

Seketika. Ibu Mensos memerintah Kepala Sentra, Margolaras Pati Jiwaningsih yang ada di samping Ibu Menteri agar berkoordinasi dengan aparat desa untuk menghitung kebutuhan anggaran renovasi rumah si nenek Tipadma.

“Kami akan perbaiki rumah si nenek yang lebih layak. Juga dil fasilitas kasur dan kursi roda untuk digunakan oleh cucu bu Tipatma yang mengalami kelumpuhan,” terang Bu Menteri seperti keterangan dalam rilisnya.

Ra Ibong-panggilan akrab Imron Amin-anggota DPR RI asal Bangkalan juga ikut memberi bantuan seekor sapi ke nenek Tipadma.

Harapan Ra Ibong. Sapi betina itu bisa membantu meringankan beban hidup yang dijalani si nenek Tipadma.

Wajah nenek Tipadma bersinar. Sumringah. Tak menduga. Selevel menteri  jauh-jauh dari Jakarta datang ke gubuk reotnya di pelosok desa Kabupaten Bangkalan.

Nenek Tipadma tentu saja senang. Tiga anak dan cucunya baru mendapat perhatian langsung dari Ibu Menteri Risma.

Si nenek Tipadma tanpa sungkan bercerita kepada Ibu Menteri:  untuk menghidupi dirinya dan tiga anak dan satu cucu yang mengalami gangguan fisik dan jiwa. Setiap hari harus menjadi buruh lepas dan merawat sapi milik tetangganya agar bisa dimakan.

“Kalau dapat uang dari bekerja bisa langsung belanja. Tapi kalau tidak punya ya ngutang dulu. Alhamdulillah sekarang kami mendapatkan perhatian dan bantuan dari Ibu Menteri,” ucap nenek Tipadma di depan Ibu Menteri.

Sementara, dalam kesempatan lain.
Kepala Desa Klapayan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Umar Faruk membantah tudingan pemberitaan di salah satu media online yang menyebut dirinya tidak memperhatikan warganya ataupun tidak pernah memberikan bantuan sama sekali kepada seorang lansia yang bernama Nenek Amsa.

Umar Faruk, menepis pemberitaan miring dari salah satu media online itu. Ia mengaku, selama ini tidak pernah menutup mata terhadap warganya yang membutuhkan bantuan.

“Apalagi bagi seorang lansia seperti Nenek Amsa, tidak betul kalau luput dari perhatian saya,” jelasnya kepada media online, Juli lalu.

Pak Kades mengklaim, sejak dilantik menjadi kepala desa pada tahun 2017 terus membenahi desa. Seperti menata sistem administrasi kependudukan agar lebih tertib. Langkah itu diambil, karena masih banyak masyarakat yang tidak memiliki KK maupun KTP elektronik.

“Sementara di tahun 2018-2019, desa kami fokus di infrastruktur. Hal itu, sesuai dengan hasil Musrembang Desa. Pembangunan infrastruktur itu, seperti perbaikan jalan, pengaspalan, dan pemerataan sambung listrik. Itu semua untuk meningkatkan aktivitas perekonomian warga Desa Klapayan khususnya,” paparnya.

Bagaimana dengan nasib nenek Tipadma yang masuk warga Pak Kades?

Sampai berita ini turun belum bisa konfirmasi ke Kades Umar. Wartawan Mata Madura di Bangkalan lagi cuti sedang bepergian ke luar negeri. (*)

Komentar