Ludruk Madura; Seni Pertunjukan dan Kuasa Ajhing (1)

Melihat seni pertunjukan Madura, maka Topeng Dalang Madura menjadi satu genre teater yang sangat akrab di setiap ingatan masyarakat. Bahkan, tentu masih sangat segar betapa seni pertunjukan yang satu itu mampu popular hingga ke negeri seberang, menembus Jepang dan mengguncang beberapa negara di benua eropa.

Namun menyoal seni pertunjukan lokal kita, satu produk kebudayaan lain yang cukup mencakupi Madura pula beroleh kita ulas untuk sekedar tamasya budaya atau menyisir macam kesenian yang ikut melebur dalam identitas pulau tercinta ini. Dan disini, kita akan mengenalnya sebagai ‘Ludruk Madura; seni pertunjukan dan kuasa Ajhing Madura lama’ untuk memberikan penegasan identitas akan ragam versi Ludruk ini sebagai kesenian drama tradisional yang lazim dikenal berasal dari Jawa Timur.

Oleh: Rafiqi

Ludruk, Sejarah dan Muasal Istilah
Secara umum, masyarakat Indonesia mengenal Ludruk sebagai suatu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Pengertian ini selaras dengan catatan Wikipedia Bahasa yang menjabarkan bahwa Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

Ludruk juga didefinisikan sebagai kesenian teater Jawa Timur yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Disebutkan, dialog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. Sementara dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata “ludruk” berarti pertunjukan sandiwara dengan menari dan bernyanyi. Dimana pengertian tersebut, disebut Zaiturrahiem RB lebih luas dari terminologi ludruk di Madura yang mengartikannya sebagai sebuah pertunjukan sandiwara (sejenis teater) yang diperankan oleh sekelompok orang yang kesemuanya adalah laki-laki _meskipun dalam kisah pertunjukannya ada peran perempuan, dan diiringi dengan menyanyi dan menari serta alunan musik tradisional.

Jika masyarakat Jawa Tengah memiliki Ketoprak sebagai pertunjukan hiburan, masyarakat Jawa Timur memiliki Ludruk sebagai satu produk pertunjukan yang sama dari sekian banyak kesenian tradisional yang terdapat di provinsi ini. Kesenian ini berkembang pada sekitar abad XII – XV yang pada awal mula kemunculannya dikenal dengan Ludruk Bandhan dengan mementaskan sebuah pertujukan berbau magis, seperti kekebalan tubuh dan kekuatan lainnya.

Kemudian, sejarah mencatat sekitar abad XVI – XVII muncul sebuah genre Ludruk yang lain yaitu Ludruk Lerok yang dipelopori oleh Pak Santik dari Kota Jombang, Jawa Timur. Kata Lerok sendiri diambil dari kata Lira yaitu alat musik semacam kecapi (Ciplung Siter) meski pada awal mula dipentaskan, Lerok menggunakan musik yang keluar dari mulut pemain.

BACA JUGA :  Di Sampang, Sangat Minim Geliat Literasi

Istilah Ludruk memang memiliki banyak tafsir bagi masyarakatnya. Mayoritas orang Jawa, begitu mendengar kata ‘ludruk’, pemahaman mereka adalah Ludruk Jawa Timur-an. Sementara pada masyarakat Madura, saat mendengar kata ‘ludruk’ pemahaman mereka pasti Ludruk Madura. Perbedaan istilah dan pemahaman ini pun selaras dengan ragam versi sejarahnya. Hasil penelitian Suripan Sadi Hutomo misalnya, mengatakan Ludruk adalah Grapppermaker atau Badutan. Dalam hal ini, Suripan mengacu kepada kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboek karya Gencke dan T Roorda (1847).

Beda halnya dengan Suripan, WJS Poerwadarminta, Bpe Sastra (1930) mengatakan Ludruk berarti penari wanita dan Badhut artinya pelawak. Sedangkan menurut S.Wojowasito (1984), kata ‘badhut’ sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Timur sejak tahun 760 masehi di masa kerajaan Kanyuruhan Malang dengan rajanya Gajayana; seorang seniman tari yang meninggalkan kenangan berupa candi Badhut.

Sementara itu, peneliti asal Paris, Helene Bouvier, dalam La matiere emotion. Les arts du temps et du spectacle dans la societe madouraise (Indonesie) mengatakan, Loddrok adalah pertunjukan teater musikal tanpa topeng dan saat ini popular di Sumenep. Menurut Helene, terminologi dalam Ludruk berubah-ubah, berasal dari bahasa Jawa yang diserap oleh bahasa Indonesia. Bahkan, sangat berbeda dengan pendapat lainnya, ia menyebut seni pertunjukan ini dengan dua istilah yang berasal dari bahasa Jawa, yakni Ludruk dan Ketoprak.

Pigeaud (1938: 322-323) dalam Helene (2002: 133) menyebut, asal-usul Ludruk harus ditelusuri dalam badoot dan ludrug, yakni tari duet yang salah satu penarinya berbusana perempuan (dan terbukti sudah ada pada akhir abad ke-19), yang berasal dari suatu tari duet banci laki-laki yang disebut Lerok. Semua pertunjukan itu, menurut Pigeaud dimainkan di Pesisir Utara Jawa Timur, di sekitar Surabaya. Sementara jika mengacu kepada bahasa Indonesia modern, istilah ‘badut’ berarti ‘pelawak’. Sedangkan di dalam bahasa Madura, luddruk atau loddrok, menurut Killiaan, berarti ‘tukang lelucon atau pelawak’, dan mengacu pada tjon-lotjon atau ‘punakawan’. Istilah-istilah itu, menurut Sudyarsana (1985: 36) menekankan pentingnya unsur jenaka di dalam kemunculannya di panggung pertunjukan.
bersambung…

Komentar