Menu

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (9)

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (9)
ilustrasi
Link Banner

Oleh: Jazuli Muthar*

matamaduranews.com-Ada banyak kisah al-Ghazali yang masih menjadi misterius. Termasuk kitab Madhunun bih Ala Ghairi Ahlih. Sebuah kitab populer di kalangan pesantren yang bercerita penolakan sang adik, Ahmad, untuk bermakmum shalat dengan al-Ghazali karena sang kakak berlumur darah. Dari kejadian itu, al-Ghazali sadar bahwa ilmu sang adik melampaui dirinya. Sehingga mengantarkan al-Ghazali ke dunia Sufi.

Sejumlah pengamat menyebut, hasil karya al-Ghazali  sekitar 228 kitab. Meliputi ilmu Tasawuf, Fiqh, Teologi, Logika, dan Filsafat. Sayang, sebagian besar karya al-Ghazali musnah dibakar oleh tentara Mongol waktu invasi ke Baghdad pada abad ke XIII Masehi. Termasuk, Kitab Tafsir al-Qur’an 40 jilid ikut musnah terbakar. Sehingga  yang tersisa 54 kitab, yang dikenali sejumlah pesantren.

Kitab misterius Madhunun bih Ala Ghairi Ahlih, mudah di dapat dalam cerita lisan di sejumlah pesantren. Bahkan kisah al-Ghazali dalam kitab Madhunun bih Ala Ghairi Ahlih begitu populer. Hanya sayang, wujud kitabnya masih misterius. Ada yang menyebut, kitab Madhunun bih Ala Ghairi Ahlih bagian dari kitab utuh Maarijul Quds. Tapi setelah ditelaah tidak ditemukan sub judul Madhunun bih Ala Ghairi Ahlih.

Memang, al-Ghazali merasa memiliki banyak utang jasa kepada sang adik. Sehingga, saat jelang wafat, al-Ghazali perlu memanggil sang adik untuk menemaninya di dalam kamar berdua.

Suatu waktu, al-Ghazali menjadi Imam Shalat di Masjid. Dan  sang adik menjadi makmum. Ketika itu, sang adik membatalkan makmum karena melihat tubuh sang kakak berlumur darah. Sang adik memilih shalat  sendirian.

Setelah shalat, al-Ghazali mendengar informasi dari jamaah shalat, bahwa sang adik membatalkan makmumnya. Al-Ghazali mengadu kepada sang ummi. Al-Ghazali berpikir sang adik memiliki ilmu sesat sehingga nggan bermakmum shalat. Sang ummi, bertanya: “Mengapa kamu (Ahmad) membatalkan makmum shalat kepada kakakmu (al-Ghazali),”.  Ahmad menjawab, “Aku melihat kanda al-Ghazali penuh darah saat menjadi imam shalat.”

Jawaban sang adik menyentak kesadaran al-Ghazali. “Memang  sebelum shalat, saya sedang menyelesaikan kitab fiqh pada bab haid. Ternyata, ingatan haid (darah wanita) dalam menyelesaikan kitab terbawa ke dalam shalat,” jawab al-Ghazali mengakui kekhilafannya.

Dari dialog tersebut, al-Ghazali meminta kepada sang adik untuk menunjukkan gurunya. Sang adik mengajak sang kakak menemui sang guru yang dituju. Setalah diajak berjalan menemui sang guru, al-Ghazali sempat protes kepada sang adik karena diajak ke dalam pasar. Setelah ditunjukkan guru yang dituju, al-Ghazali sadar, bahwa orang yang berprofesi penjahit sepatu dalam pasar adalah guru sang adik.

Kisah al-Ghazali ini mengingatkan kepada kisah Ahmad ibn Hanbal yang sempat ditegur oleh sejumlah muridnya karena mengejar-ngejar, Bisyri, seorang yang dikenal oleh masyarakat, laki-laki yang abnormal karena saban hari kakinya bertelanjang saat berjalan.  “ ya …guru. Anda seorang  Imam. Ke’aliman guru disegani penguasa dan masyarakat. Mengapa guru, mengejar-ngejar seorang Bisyri si telanjang kaki, yang dinilai abnormal oleh banyak orang,” protes sang murid kepada sang Imam Ahmad ibn Hanbal.

Apa jawaban sang Imam Ahmad ibn Hanbal? “Benar kata-katamu ya muridku. Memang saya disegani penguasa dan masyarakat  karena penguasaan ilmu-ilmu kitab. Tapi ketahuilah, saya ingin banyak belajar  kepada Bisyri si telanjang, bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah Swt,” jelas sang Imam Ahmad ibn Hanbal, memberi alasan sikap merayu saban waktu kepada Bisyri si telanjang kaki.

Memang dunia tasawuf sebagai jalan mengenal Allah Swt, keberadaannya penuh misteri karena harus keluar dari dunia syahwat. Termasuk kehidupan selebritas, sebuah kehidupan yang dilalui al-Ghazali dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Dalam sejumlah kitab tasawuf dijelaskan, bagaimana seseorang bisa menjadi kekasih yang dicinta (Allah Swt, Red.), apabila kehidupan yang dilalui penuh ghairah selain objek yang dicinta (Allah Swt). Nilai cintanya menjadi gombal karena harus membagi dua objek untuk dicintai.

Bersambung…..

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional