Menu

Pilkada Sumenep 2020; Politik Kiai Busyro dan Ujaran Kebencian

Pilkada Sumenep 2020; Politik Kiai Busyro dan Ujaran Kebencian
KH A. Busyro Karim
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

Yang pasti, Pilkada Sumenep 2020, Kiai Busyro tak bisa nyalon kembali karena sudah menjabat dua periode sebagai Bupati Sumenep.

Namun, kasak kusuk di antara pengamat, kemana arah dukungan Kiai Busyro menjadi penentu kemenangan Paslon yang ikut di Pilkada, September mendatang.

Mereka berdalih, titik-titik kunci mesin politik Kiai Busyro masih terpelihara secara baik di sejumlah desa dan kecamatan se Kabupaten Sumenep. Ditambah saat Pilkada berlangsung, Kiai Busyro masih menjabat Bupati Sumenep.

Apa Jurus Politik Kiai Busyro?

Memahami politik KH A. Busyro Karim bagi sebagian orang bukan hal yang menarik. Dia bukan tokoh nasional. Bukan pula figur populer di tingkat regional. Kiai Busyro hanya kiai lokal. Kebetulan saat ini menjabat Bupati Sumenep.

Lalu apa yang menarik dari seorang Kiai Busyro? Dalam kancah politik lokal Sumenep, sosok Kiai Busyro tiada tanding. Dia menjabat Ketua DPRD Sumenep dua periode, mulai 1999 hingga 2009. Lalu menjabat Bupati Sumenep juga dua periode, 2010 hingga saat ini-akan berakhir Februari 2021.

Tulisan ini seperti review jejak perjalanan politik Kiai Busyro yang berkarir lewat PKB. Sebelum di politik, tak banyak orang mengenal Kiai Busyro. Kecuali jam’iyyah Nahdlatul Ulama Sumenep karena sering mengisi ceramah agama keliling kampung.

Menjabat Ketua Tanfidz DPC PKB Sumenep sebagai langkah awal memainkan ritme politik. Tapi, komunikasi politik Kiai Busyro mulai diuji. Maklum, PKB didominasi para kiai kharismatik NU yang memiliki latar darah biru. Sebuah genealogis politik berpengaruh di tengah masyarakat Sumenep yang mayoritas NU.

Sedangkan Kiai Busyro berasal dari keluarga hafidz dan pesantren kecil. Leluhurnya hanya kiai langgar yang memiliki beberapa santri mengaji al-Quran dan kitab klasik karangan ulama salaf. Bukan dari genealogi politik berpengaruh.

Uji nyali politik pun dimulai saat menjabat Ketua DPRD periode pertama. Kritik jalanan mulai menyebar. Di warung-warung kopi. Para abang becak ikut mendengar ocehan kejelekan pribadi Kiai Busyro. Hingga puncak nama Kiai Busyro diplesetkan pada anonim benda menyengat.

Dari sini terlihat kepiawaian poltik Kiai Busyro. Mendengar langsung ujaran kebencian yang begitu massif. Tapi direspon dengan senyuman. Hanya pengikutnya yang tak kuasa karena dihalangi untuk membalas. Mereka bisa menangis sesenggukan. Tak rela guru panutannya difitnah begitu keji.

Badai kebencian terus berlalu hingga jelang akhir jabatan periode kedua di kursi Ketua DPRD. Jelang setahun purna dari parlemen, banyak orang prediksi-karir politik Kiai Busyro- tamat. Jauh langit dan bumi untuk rebut posisi bupati sebagai puncak karir politik di tingkat kabupaten.

Dalam wacana politik lokal Sumenep, nama Kiai Busyro sudah hilang dalam nominator calon bupati menyambut Pilkada 2010. Maklum, ketika itu, Kiai Busyro tak lagi menjabat ketua Tanfidz DPC PKB Sumenep.

Entah jurus apa yang dilakukan Kiai Busyro, secara mengejutkan memenangkan konvensi figur Bacabup yang akan diusung PKB sambut Pilkada Sumenep 2010.

Suhu politik mulai mendidih. Nama Kiai Busyro luput prediksi banyak orang sebagai calon bupati dari partai pemenang pemilu.Tapi punya tiket Cabup diusung PKB.

Tambah dekat pelaksanaan Pilkada, hujatan dan hinaan berbau fitnah menyerang pribadi Kiai Busyro menyebar seperti tiupan angin topan.

Suatu ketika, Kiai Busyro diundang untuk memimpin bacaan tahlil di acara 7 hari keluarga tuan rumah yang meninggal dunia. Saat mic pengeras suara diberikan, tiba-tiba ada teriakan dan hujatan dari kerumunan undangan tahlil yang mengarah kepada pribadi Kiai Busyro.

Undangan lain hanya bisa berucap istighfar sambil mengelus dada. Menatap wajah Kiai Busyro, memberi isyarat iba. Melihat sosok Kiai Busyro diperlakukan semena-mena di acara resmi.

Bagaimana sikap pribadi Kiai Busyro?Ternyata Kiai Busyro diam. Gesture-nya biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa yang menyerang pribadinya.

Terpilih sebagai bupati tak lepas dari hujan kritik dan ujaran kebencian. Fitnah atau apalah namanya, seakan mengikuti perjalanan meniti karir politik Kiai Busyro. Menjadi tokoh politik Sumenep hingga saat ini, tentu melalui badai ujaran kebencian dan perjuangan yang berdarah-darah.

Tapi, setiap kritikan atau ujaran kebencian, Kiai Busyro merespon dengan aneka ragam. Sehingga sosoknya menjadi teladan bagi pengikutnya. Style profile yang bersahaja, akomudatif dan selalu sabar ketika ada yang mengkritik, menjadi salah satu ciri khas gaya kepemimpinannya.

Seperti tahun 2015 lalu, jelang Pilkada periode kedua. Suhu Pilkada Sumenep juga meradang menyerang kebijakan dan pribadinya. Hujatan dan hinaan mulai bertebaran di dunia maya.

Salah satu loyalis Kiai Busyro membuat teori sederhana untuk mendeskripsikan ujaran kebencian berbau fitnah kepada pribadi Kiai Busyro yang diupload di medsos.

Begini bunyinya; “Kemenyan tidak akan keluar aroma wewangiannya jika tidak dibakar “ Begitu kira-kira teori sederhana untuk menggambarkan hujatan yang menimpa Kiai Busyro.

Dari sejumlah lembaga survei, elektabilitas Kiai Busyro tidak bisa tertandingi. Apalagi popularitasnya? Makin melambung tinggi hingga tak terjangkau oleh kandidat lainnya,” tambah netizen.

Mereka yang ingin menjatuhkan nama baik Kiai Busyro seakan sudah putus asa dan tidak menemukan cara untuk menggembosi dukungan masyarakat.

Kampanye hitam pun menyerang. Mereka berfikir, menyebar kebencian bisa menurunkan simpati masyarakat. Namun, kenyataan justru berbeda. Semakin dicaci maki, dijelek-jelekan, difitnah dan dihina, dukungan masyarakat semakin menguat kepada Kiai Busyro. “Kemenyanpun semakin harum ketika dibakar. Alhamdulillah,” tulis salah satu loyalis di status facebooknya.

Sikap sabar yang melekat dalam pribadi Kiai Busyro merupakan turunan dari ibu tercintanya, Nyai Hj Nuraniyah. Menurut kesaksian santri sepuh, saat janin Busyro dalam kandungan, Nyai Nura -panggilan Nyai Nuraniyah- banyak tirakat, seperti puasa sunnah Senin-Kamis. Perut Nyai Nura, sengaja dibiasakan lapar, sebagai bentuk latihan mengasah hati dan rasa. Dengan harapan menular kepada janin yang dikandungnya.

Saat usia remaja, Busyro yunior dilatih bangun malam kemudian shalat berjamaah bersama Nyai Nura. Sejak kanak-kanak, Kiai Busyro sudah ditanamkan nilai-nilai asketisme, sabar dan tawakkal (berserah diri) kepada Allah Swt oleh sang ibu. Sehingga, dalam menghadapi seberat apa pun ujian yang menimpa Kiai Busyro, seakan memiliki bekal dari sang ibu, yaitu memasrahkan diri atas kehendak Allah Swt.

Selain karakter pribadi yang bersahaja dan komunikatif, pendidikan spiritual (bathiniyah) juga tertanam sejak dini. Secara alamiah, ingatan Kiai Busyro kecil itu terbawa saat dewasa hingga saat ini.

Pelajaran dari sang ibu yang Hafidzah, seakan mentransfer dan membentuk keperibadiannya. Sehingga banyak orang yang menyimpulkan, sifat-sifat keperibadian Kiai Busyro merupakan jelamaan dari sang ibu, Nyai Hj Nuraniyah.

Pesona Satelit, 8 Juli 2019

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Budaya

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional