Ponpes Al Ihsan Pragaan, Lumbung Ilmu di Desa Jaddung

Mata Madura - 03/05/2016
Ponpes Al Ihsan Pragaan, Lumbung Ilmu di Desa Jaddung
Alm. KH Ahmad Fauzi Sirran - ()
Penulis
|
Editor

SUMENEP – Pondok Pesantren Al-Ihsan yang bertempat di Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, memiliki peran penting dalam perkembangan keilmuan dan keislaman di Kabupaten Sumenep, khususnya bagi masyarakat sekitar. Hal itu karena kiprah pondok pesantren yang terletak kurang lebih satu kilometer ke barat Pondok Pesantren Al-Amien ini sudah dimulai sejak masa kolonialisme yakni pada saat Belanda datang ke Indonesia setelah Jepang tunduk di hadapan sekutu.

Pendiri Pondok Pesantren Al-Ihsan ini adalah Kiai Sirran. Salah satu tokoh penting yang berada desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Namun tidak ada catatan yang menjelaskan pada tanggal dan tahun berapa pesantren ini didirikan. Dalam penuturan KH Nashih Fauzi, cucu pertama sekaligus penerus Kiai Sirran, cikal-bakal berdirinya Al-Ihsan diketahui hanya pada saat agresi militer kedua dari Belanda.

“Yang saya tahu dari orang tua saya pesantren ini sudah berdiri pada saat Indonesia diserang kembali oleh Belanda yang kedua kalinya,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan KH Nashih Fauzi, saat ditemui Mata Sumenep di kediamannya, minggu kedua September lalu.

Cikal-Bakal Pesantren
Menurut Kiai Nashih, pondok pesantren ini dulunya berdiri dalam bentuk madrasah diniyah yang hanya mengajarkan pendidikan agama bagi masyarakat setempat di Desa Jaddung. Sejak awal, madrasah diniyah tersebut didirikan tanpa nama. Bahkan, hingga berjalan cukup lama dan dengan terpaksa kegiatan pembelajaran dihentikan, madrasah diniyah tersebut tetap juga belum bernama.

Dalam sejarah pesantren, kegiatan pembelajaran dihentikan sebab pada masa itu terjadi genjatan senjata kedua antara Belanda dan tentara Indonesia. Karena itu, madrasah diniyah yang dibangun oleh Kiai Sirran ini pun diliburkan. Semua kegiatan pembelajaran dihentikan, kata Kiai Nashih, lantaran Kiai Sirran sebagai pengasuh khawatir perang yang terjadi akan berdampak kepada para santri.

Kemudian setelah perang selesai, kegiatan pembelajaran kembali diaktifkan dan lalu menjadi maju dan berkembang saat KH Ahmad Fauzi menjadi penerus perjuangan dari Kiai Sirran. Saat itulah madarasah diniyah tersebut akhirnya diberi nama Al-Ihsan, salah satu pondok pesantren besar yang kini berdiri tegak di Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan.

Pesantren di Tangan KH Ahmad Fauzi Sirran
Sebagai penerus Kiai Sirran, Kiai Ahmad Fauzi menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Annuqayah. Selulus dari Annuqayah, menurut Kiai Nashih, Kiai Fauzi muda melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk menekuni ilmu agama secara lebih mendalam. Keputusan melanjutkan ke salah satu ponpes besar di tanah jawa itu rupanya bukan pilihan sembarangan. Saat itu, ponpes peninggalan Sayyid Sulaiman tersebut tidak hanya besar dan terkenal. Namun secara khusus, Sidogiri sudah terpercaya akan pendalaman ilmu keagamaan yang sudah teralir kepada ribuan santrinya di seluruh Nusantara.

Sepulang dari Pondok Pesantren Sidogiri, Kiai Ahmad Fauzi diambil mantu oleh salah satu pengasuh pesantren di Annuqayah. Dan setelah itu pula putra Kiai Sirran ini langsung memimpin Pondok Pesantren Al-Ihsan hingga empat tahun yang lalu beliau berpulang kerahmatullah.

Sebelumnya, sebagaimana dituturkan Kiai Nashih, di Desa Jaddung memang tidak ada madrasah yang tegak untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat desa disana. Hanya madrasah diniyah yang kemudian berkembang besar itulah satu-satunya yang tetap berdiri kokoh untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat sekitarnya. Karena itu, tak heran jika Pondok Pesantren Al-Ihsan dengan mudah menjadi lumbung ilmu dan media pencerahan kepada masyarakat Desa Jaddung sejak sekian lamanya.

Di masa selanjutnya, perkembangan pesantren semakin terlihat dalam kepemimpinan KH Ahmad Fauzi Sirran. Terutama dari segi bangunan serta pola pendidikan yang terus bermetamorfosa sesuai tuntuan jaman. Terakhir, berdirinya sekolah formal juga menjadi pertanda semakin berkembangnya pendidikan Al-Ihsan. Hal ini dilakukan tentu untuk memenuhi hajat hidup masyarakat sekitar akan ilmu pengetahuan yang juga semakin berkembang.

“Di daerah ini dulu tidak ada guru ngaji atau madrasah, hanya disini, KH Ahmad Fauzi-lah yang menggagas di desa ini,” kata putra almarhum KH Ahmad Fauzi, menambahkan.

Hingga kini, Pondok Pesantren Al-Ihsan sudah semakin pesat dengan mengelola beragam jenjang pendidikan. Selain tetap konsisten dengan aktivitas pesantren sebagai warisan besar dari Kiai Sirran, lembaga pendidikan dari tingkat RA, MTs hingga MA Al-Ihsan sudah mewarnai dunia pendidikan dari Kecamatan Pragaan.

Selain keempat lembaga pendidikan tersebut, Al-Ihsan kata Kiai Nashih juga tercatat pernah membuka perguruan tinggi meski masih nyabang ke perguruan tinggi lain. Sampai saat ini santri yang menetap di pondok pesantren peninggalan Kiai Sirran tersebut berjumlah 600 orang. Jumlah tersebut sudah merupakan akumulasi dari santri putra dan putri, selain siswa-siswi yang hanya menempuh pendidikan formal dan tidak menetap di Al-Ihsan (nyolok).

Kini, setelah empat tahun berlalu sejak KH Ahmad Fauzi Sirran berpulang ke rahmatullahdalam kondisi khidmat setelah melaksanakan shalat, pimpinan Pondok Pesantren Al-Ihsan digantikan oleh KH Nashih Fauzi, cucu pertama sekaligus pewaris lembaga pendidikan rintisan Kiai Sirran. Dan sebagaimana susur galurnya, pesantren ini masih memiliki hubungan baik dengan Pondok Pesantren Annuqayah dimana Nyai Maftuhah, sebagai ibu dari Kiai Nashih, berasal. (ozi’/rfq)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->