Raden Ardikusuma, Kiai Abdul Allam Prajjan, dan Kuda Terbang Joko Tole

matamaduranews.com-SUMENEP-Di edisi lalu, Mata Madura pernah mengulas sosok Raden Ardikusuma, tokoh Keraton Sumenep dinasti terakhir.

Dalam catatan yang bersumber dari keluarga Keraton Sumenep, Ardikusuma adalah saudara seibu Panembahan Sumolo (1762-1811).

Catatan silsilah kuna menyebut bahwa Nyai Izzah, isteri pertama Bindara Saot, setelah firaq (ditalak), menikah lagi dengan Kiai Samporna, tokoh ulama di kawasan Ambunten, Sumenep.

Dari pernikahan tersebut lahir beberapa anak, salah satunya Raden Ardikusuma di atas.

Ardikusuma dikenal sebagai penasihat keraton.

Dalam tradisi Sumenep, beliau dikenal sebagai Qodi Keraton. Beliau juga disebut sebagai penasihat raja, dan alim di bidang agama.

Beberapa kisah mistis seringkali disematkan dalam kisah kehidupannya. Salah satunya folklore yang menyebut beliau sebagai pewaris kuda terbang Joko Tole.

Dari Prajjan ke Ambunten

Babad Sumenep, tulisan Raden Werdisastra (1914) hanya menyebut nama Kiai Samporna, tanpa menjelaskan asal-usulnya.

Kiai Samporna kemungkinan besar bukan nama aslinya. Babad menyebut bahwa Samporna, di masa lampau merupakan nama desa. Jadi maknanya, kiai yang berdomisili di Samporna.

Mata Madura tertarik menelusuri asal-usul Kiai Samporna. Dalam beberapa sumber, Kiai Samporna disebut sebagai keturunan Syaikh Pangratobumi. Nama ini kadang disebut Pangratabumi.

Salah satu sumber di Sumenep, catatan Ismail Jamal (tanpa tahun), Kiai Samporna disebut sebagai salah satu anak Kiai Abdul Allam, Prajjan, Sampang.

Kiai Abdul Allam merupakan pendiri pesantren Prajjan, salah satu pesantren tertua di Madura. Dalam sebuah catatan yang bersumber pada sebuah website, Kiai Abdul Allam disebut mendirikan pesantren di Prajjan sekitar awal 1700-an Masehi.

Asal-usul Kiai Abdul Allam ada beberapa versi.

Dalam catatan keluarga Bangkalan, disebutkan bahwa Kiai Abdul Allam adalah putra Nyai Selase, Petapan, Labang. Itu dikuatkan dengan catatan milik Bindara Muhsin, pemilik catatan bani Batokolong di Bangkalan.

“Di sini tertulis putra-putri Nyai Selase dan Kiai Selase di antaranya Kiai Pandita, Kiai Abdul Azhim, dan Kiai Abdul Allam,” kata Muhsin via aplikasi WhatsApp.

BACA JUGA :  Kiai Muban, Jejak dan Kiprahnya Dalam Islamisasi di Madura Timur

Namun Muhsin mengatakan pihak keluarga Bani Abdul Allam Prajjan menolak jika Kiai Abdul Allam disebut putra Kiai Selase. Menurut mereka, Kiai Abdul Allam lain ayah dengan putra-putri Nyai Selase lainnya.

“Mereka hanya terima data bahwa Kiai Abdul Allam beribukan Nyai Selase,” kata Muhsin.

Riwayat bahwa Kiai Abdul Allam berasal dari Bangkalan memiliki banyak sumber kuna.

Riwayat lisan dari Konang, Bangkalan misalnya.

“Dalam riwayat sesepuh di Konang, Kiai Abdul Allam pernah aduko (bermukim) di Omben, sebelum membabat bukit Prajjan,” kata Bindara Sudi, di Bangkalan.

Sementara dalam catatan Prajjan, Kiai Abdul Allam adalah putra Kiai Pangrato Bumi. Catatan ini mirip dengan catatan di Sumenep yang disusun Isma’il Jamal di atas, dan Kiai Haji Usymuni Tarate.

Pangrato Bumi ini bernama lain Syaikh Abdul Allam dan Bagus Papate. Di catatan tulisan Kiai Haji Abunawas Bakri, Sumenep, disebut Bagus Palatuk. Bagus Palatuk ini ditulis putra Pangeran Waringin Pitu, anak Nyai Ageng Sawo binti Sunan Giri.

Nah, salah satu anak Kiai Abdul Allam ini, versi tulisan Ismail Jamal, adalah Kiai Samporna.

Nama Kiai Samporna terkadang tidak ditemukan di catatan lain. Di Prajjan sendiri, salah satu sumber tidak menyebut nama Kiai Samporna. Namun sumber lainnya dari Prajjan, seperti yang diberitakan K. Haris Prajjan, menyebutnya dengan nama Kiai Penghulu di Ambunten.

Catatan Ismail Jamal dan catatan K. Haris Prajjan, jika dipadukan memang mengarah pada satu tokoh. Artinya, Kiai Penghulu Ambunten di catatan Prajjan ini identik dengan Kiai Samporna Ambunten.

Dari segi masa, Kiai Samporna sebagai anak Kiai Abdul Allam, terhindar dari anakronisme dalam sejarah.

Pesantren Prajjan didirikan awal 1700-an Masehi. Bindara Saot merupakan penguasa Sumenep sejak 1750-1762.

RM Farhan

Komentar