Menu

Santri Madrasah di Pamekasan Terpaksa Gunakan Frekuensi Radio HT Demi Belajar Daring

Santri Madrasah di Pamekasan Terpaksa Gunakan Frekuensi Radio HT Demi Belajar Daring
Mobil RAPI Pamekasan berada di MI Nurul Ulum II Desa Teja Barat untuk membantu ustadz dan para santri belajar daring menggunakan frekuensi Radio HT. (Foto for Mata Madura)
Link Banner

matamaduranews.comPAMEKASAN-Santri madrasah di Pamekasan terpaksa menggunakan frekuensi Radio HT demi belajar daring di tengah pandemi Covid-19.

Pasalnya, jaringan internet di pelosok Pamekasan tidak sepenuhnya selalu stabil. Apalagi di area Skip yang memang jarang adanya BTS GSM.

Salah satu wilayah yang kesulitan jaringan internet tersebut seperti di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ulum II, yang berada di Dusun Montor, Desa Teja Barat, Pamekasan.

Para ustadz dan santri di madrasah itu kesulitan belajar daring, karena rumah santri memang ada di pelosok dan tidak terjangkau oleh jaringan GSM dan internet.

Padahal, kondisi pandemi menuntut mereka untuk tetap melakukan proses belajar, meski tidak bertatap muka. Sehingga, para santri harus bisa mengakses kegiatan belajar mengajar secara daring.

Belajar Daring Menggunakan Frekuensi Radio HT

Karena itulah, pihak Yayasan Az-Zahri Teja Barat bersama RAPI 19 Pamekasan berinisiatif menggunakan frekuensi Radio HT.

Hal tersebut dinilai lebih efisien dan hemat, karena tidak membebankan ratusan wali santri madrasah binaannya dengan biaya membeli kuota internet untuk anaknya.

“Kami siapkan 20 HT operasional, 1 RPU dan 1 Rig Mobile untuk penguatan sinyal HT hingga 2 Km. Jadi, efektifitas guru dan murid dalam belajar terjamin dan murah,” ujar Budi Cahyono, Ketua RAPI 19 Pamekasan, Selasa (11/08/2020) siang kemarin.

Sementara itu, Ach. Zainul Kafi, ustadz pengajar kelas di MI Nurul Ulum II Teja Barat merasa terbantu dengan adanya program RAPI Peduli tersebut.

Sebab, sebelumnya ia harus mendorong para santri untuk mengambil tugas ke Madrasah setiap hari, kemudian menyetorkan hasil tugasnya keesokan harinya.

Meskipun dirasa kurang efektif, hal itu harus dilakukan karena tidak semua santri MI Nurul Ulum II memiliki HP Android.

“Dengan adanya fasilitas HT ini, kami tetap bisa melakukan belajar mengajar dengan jarak jauh dan tanpa biaya kuota juga. Siswa juga cepat beradaptasi untuk teknisnya karena simpel dan mudah,” tandas Zainul.

Rafiqi, Mata Madura

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: