Menu

Sidogiri, Jalan Para Waliyullah

Sidogiri, Jalan Para Waliyullah
Almarhum KH Nawawi bersama Anwar Sadad

Catatan: Anwar Sadad*

Kepergian Kiai Nawawi Abdul Djalil masih menyisakan perasaan sesak di dada.

Beliau menghembuskan nafas terakhir Ahad 2 Dzulqa’dah 1442 atau 13 Juni 2021. Sore hari.

Seakan tak percaya. Beliau sudah pergi untuk selama-lamanya.

Masih terkenang dalam benak pikiran. Beliau sosok yang bisa bergaul bebas dengan siapapun tanpa membeda-bedakan.

Tak jarang di sela waktu senggangnya. Beliau mengunjungi rumah santri atau alumni.

Rumah yang dikunjungi beliau tak melulu santri atau alumni yang sudah menjadi “orang”.

Tak jarang beliau juga mengunjungi santri atau alumni yang dalam pandangan umum adalah orang biasa.

Jika sedang dalam kondisi tertentu dalam kunjungan itu. Kiai Nawawi bisa bercerita berjam-jam tentang banyak hal.

Dalam cerita-cerita beliau itu kita akan menemukan pelajaran yang sarat nilai.

Bagian paling menyenangkan bagi saya adalah mendengarkan cerita tentang kiai-kiai Sidogiri.

Beliau sering bercerita tentang kedekatannya dengan pamanda tercinta, Kiai Cholil Nawawie, atau tentang kakek beliau, Kiai Nawawie bin Nurhasan. Bahkan tentang cerita tentang kiai-kiai di masa yang lebih terdahulu lagi.

Tema yang diceritakan bisa bermacam-macam. Dari yang paling serius penuh hikmah. Sampai hal yang remeh-temeh.

Suatu saat beliau pernah bercerita tentang kewalian Kiai Mahalli yang disaksikan oleh santri kesayangannya, Kiai Abu Dzarrin.

Kiai Mahalli adalah santri sekaligus menantu Kiai Aminullah.

Kiai Aminullah dalam catatan sebagai pengasuh pertama Ponpes Sidogiri. Kiai Aminullah berasal dari Pulau Bawean, Gresik.

Kiai Aminullah dikenal sebagai kiai yang diajak oleh gurunya, yaitu Sayid Sulaiman untuk mbabat alas hutan Sidogiri, tempat didirikan Pondok Pesantren Sidogiri hingga sekarang.

Dalam sejarah, Sayid Sulaiman adalah pendiri Pondok Pesantren Sidogiri.

Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayid Sulaiman yang diangkat sebagai pengasuh.

Putri Sayid Sulaiman yang dipersunting Kiai Aminullah bernama Nyai Indah, dalam versi lain bernama Nyai Endah.

Tokoh yang diceritakan Kiai Nawawi di atas adalah Kiai Mahalli.

Kiai Mahalli mempersunting Nyai Khofshoh putri Kiai Aminullah.

Kiai Mahalli pada masa berikutnya melanjutkan tugas Kiai Aminullah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Dari Kiai Mahalli dan Nyai Khofshoh inilah lahir kiai-kiai besar yang meneruskan perjuangan pendidikan dan dakwah di Pondok Pesantren Sidogiri hingga saat ini.

Alkisah, suatu hari-Kiai Mahalli meminta santrinya, bernama Abu Dzarrin, untuk mengambil kitab yang tertinggal di kamar beliau.

Kamar yang dimaksud Kiai Mahalli adalah ‘kamar khusus’ (kamar istimewa) sebagai tempat Kiai Mahalli berkhlawat.

‘Kamar khusus’ itu. Tak seorang pun diijinkan masuk ke dalam. Termasuk, sang istri sendiri juga dilarang masuk ke kamar ‘khusus’ itu.

Kiai Mahalli berpesan kepada si santri. Ketika berada di kamar tidak boleh sekali-kali melihat ke atas. Ke langit-langit kamar.

Tapi rasa penasaran sang santri mengalahkan ketaatannya pada sang guru.

Si santri mengabaikan dawuh sang guru. Dia melihat langit-langit ‘kamar khusus’ sang guru.

Alangkah terkejutnya si santri. Dia melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Yaitu pemandangan laksana surga sebagaimana digambarkan dalam berbagai kitab ulama klasik.

Dengan dipenuhi perasaan bersalah. Si santri menundukkan kepala dan bergegas menemui sang kiai seraya memohon ribuan ampun.

Kiai Mahalli, sang guru, berpesan kepada sang murid agar tidak menceritakan apa yang dilihatnya kepada siapapun.
Selama beliau masih ada.

Rahasia itu tersimpan rapi, hingga sang guru menghadap ke hadirat Rabbi.

Cerita Kiai Nawawi Abdul Djalil secara subyektif saya pahami sebagai penegasan bahwa “jalan” Sidogiri adalah jalan para waliyullah. “Jalan” para kekasih Allah swt.

Almarhum Kiai Nawawi seperti ingin menegaskan bahwa pada jalan itulah Sidogiri, pesantren yang sedang beliau asuh, akan dibawa.

Penggambaran tentang Kiai Mahalli yang tinggal di sebuah kamar yang dipenuhi aroma surgawi menegaskan hal itu.

Akan tetapi beliau juga menambahkan suatu nasihat agar orang tidak membanggakan nasabnya.

Almarhum berdawuh, “Halaka al-Nassābûn”, celakalah orang-orang yang membanggakan nasab.

Sampai di sini. Saya sebenarnya tak sepenuhnya paham.

Cerita-cerita beliau membuat saya berpikir keras. Menemukan korelasi antara “kewalian” dan “nasab”.

Tapi lagi-lagi secara subyektif saya memaknai jalan menuju waliyullah sebagai jalan spiritual yang ditempuh secara pribadi.

Secara personal melakukan amaliah secara sungguh-sungguh yang dipandu oleh sang mursyid (guru) melalui etape-etape makrifatullah.

Untuk sampai pada derajat itu, saya baru sadar dawuh Kiai Nawawi.

Beliau menegaskan, “mengandalkan nasab saja tidak cukup. Jika terlalu bertumpu membanggakan nasab akan membuat kita celaka,”.

Wallahu A’lam.

*Anwar Sadad lahir dan dibesarkan di Pondok Pesantren Sidogiri. Kini, Wakil Ketua DPRD Jatim, Plt Ketua DPD Gerindra Jatim.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

matajatim.id

Disway

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: