Program Simpanan Pelajar (SIMPEL) BPRS Bhakti Sumekar terus diperluas ke sekolah-sekolah di wilayah kepulauan Sumenep. Seperti di Kecamatan Sapeken, program tabungan pelajar tersebut kini telah menjangkau enam sekolah, meningkat dua kali lipat dibandingkan pertengahan 2025 yang baru diterapkan di tiga sekolah.
Kepala Cabang BPRS Bhakti Sumekar Sapeken Tri Yody Afero mengatakan, perkembangan tersebut merupakan hasil sosialisasi dan edukasi yang terus dilakukan pihaknya kepada para pelajar.
“Alhamdulillah, dalam setahun terakhir cakupan Tabungan SIMPEL di Sapeken terus bertambah. Yang paling menggembirakan, sekarang sudah masuk ke jenjang sekolah dasar, tidak hanya SMP dan SMA seperti sebelumnya,” kata Tri Yody, 13 Agustus 2026.
Enam sekolah yang telah mengikuti program tersebut yakni SDN 1 Sapeken, SDN 2 Sapeken, SDN 4 Sapeken, SDN 5 Sapeken, SMPN 1 Sapeken dan SMAN 1 Sapeken.
Menurut Tri Yody, perluasan tersebut belum akan berhenti. BPRS Bhakti Sumekar masih terus melakukan pendekatan kepada sekolah lain agar program SIMPEL semakin luas.
“Tim kami terus melakukan sosialisasi sehingga bisa mengedukasi para siswa. Nanti akan terus diperluas,” ujarnya.
Bagi BPRS Bhakti Sumekar, SIMPEL bukan semata produk tabungan. Program tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan kebiasaan mengelola keuangan kepada anak-anak sejak usia sekolah.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar mengatakan, anak-anak di wilayah kepulauan harus memperoleh kesempatan yang sama dalam mendapatkan edukasi keuangan.
“Kami ingin anak-anak, termasuk yang berada di wilayah kepulauan, memiliki kebiasaan menabung sejak dini. Ini bukan sekadar produk perbankan, tapi juga sarana edukasi agar mereka terbiasa mengelola keuangan untuk mendukung cita-cita mereka ke depan,” kata Hairil.
Perluasan SIMPEL di Sapeken sekaligus menunjukkan bahwa literasi keuangan mulai didorong keluar dari pusat perkotaan.
Pelajar diperkenalkan pada aktivitas sederhana: menyisihkan uang, menabung dan memahami pengelolaan keuangan. BPRS Bhakti Sumekar pun melihat kebiasaan tersebut sebagai investasi jangka panjang. Sebab, kemampuan mengelola uang tidak selalu lahir dari teori. Ia lebih mudah tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan sejak dini. Dan di Sapeken, kebiasaan itu kini mulai diperluas dari tiga sekolah menjadi enam sekolah. (bahri)












