Berita UtamaPemerintahan

Tafsir Bias Netizen dari Lagu Ciptaan Bupati Sumenep

×

Tafsir Bias Netizen dari Lagu Ciptaan Bupati Sumenep

Sebarkan artikel ini
Lagu Bupati Sumenep
Klip Video Lagu Mencintai Tanpa Dicintai

matamaduranews.com-Lagu ciptaan Bupati Sumenep Achmad Fauzi bukan saja viral dari banyak penonton yang membagikan.

Para mufassir. Rata-rata netizen. Juga ikut memberi tafsir atau ikut mengomentari atas isi lagu ciptaan Bupati Fauzi yang berjudul: Mencintai Tanpa Dicintai.

Salah satu netizen memberi komentar begini:

Pasederhana:

Jika menafsiri teks Al-Quran..tergantung siapa yg mau menafsiri..

Skarang:

Kalau Bupati mencipta lagu..itu harus dilihat siapa yng mencipta…bukan lagi yg menafsiri ditanya latarbelakangnya….

Artiny: cipta an lagu seorang politisi itu, ujung ujungnya y politis….

Kan tak mungkin seorang politisi mencipta bait lagu hasil dari musyahadah dan ittihad

Nah…

Redaksi berhasil menemukan penulis kontributor Kompas TV yang biasa dia nulis dan diunggah lewat beranda FB-nya. Nama akunnya NK Gapura.

Nur Kholis-nama lengkapnya berhasil dihubungi redaksi untuk memberi izin jika tulisannya akan dimuat di situs Mata Madura. NK Gapura tak keberatan.

Berikut tulisan yang sarat makna merespon fenomena netizen atas Lagu Ciptaan Bupati Sumenep: Mencintai Tanpa Dicintai.

Kontributor Kompas TV
NK Gapura

Pengembaraan Fakta Dalam Lagu Cinta Bupati Sumenep 

Oleh: NK Gapura

Pada mulanya, fakta adalah seikat rasa yang diterima oleh mata. Ia murni. Dekat dengan hati. Lalu kemurnian itu diasah, diasuh, dipercantik, pun juga dirusak oleh kata-kata. Sejak saat itu, warna dan aroma fakta mulai terasa berbeda.

Fakta bisa menjadi setangkai mawar yang nestapa, juga sebilah celurit yang mempesona. Tergantung hati siapa yang menyurgainya. Dan setangkup niat, akan mempertajam warna dan aromanya.

Umpama hembusan angin, kadang ia rela terjatuh ke relung lembah, pun terpaksa bediding di puncak berantah.

Dia, si fakta yang renta, selalu tak berdaya dikorbankan siapa saja.

Di perjalanan, dengan jerat setangkup niat, fakta harus menghadapi belantara kehidupan manusia. Di situ, mata dan kata beradu. Logika dan anasir saling menggerutu. Sedangkan fakta, hanya pasrah, gigil dan terpaku.

Fakta selalu sendirian dan kesepian. Ia terus-menerus terpenjara dalam tafsir yang makin sesak, penuh teriak di keramaian.

Pasti, fakta ingin dirinya kembali murni. Dekat dengan hati, tanpa campur tangan kata, yang kadang sering mengingkari. Ia ingin Tuhan mengakhiri kisahnya sewajarnya saja. Namun, itu hanya angan semata.

Mungkin saja, fakta selalu ditakdirkan sebagai intrik yang berderik. Ia tak dilahirkan di belantara hampa, seperti muasal dari kebosanan watak manusia. Fakta harus selalu ke belantara. Tempat ego isi kepala, diam-diam ditempa menjadi Arjuna atau Karna.

Dalam pengembaraannya, fakta layaknya cinta. Ia harus berani melukai. Meski semesta tak selalu merestui.

Ganding,
31 Juli 2022

KPU Bangkalan