Tradisi Rokat di Pinggirpapas dan Karanganyar

Ada banyak zaman di dunia ini. Setiap jaman ditandai dengan peristiwa paling penting, lantas disebut era baru. Tentunya era baru tersebut tak hanya satu, tapi berjilid-jilid. Mungkin yang paling pas menyebut era baru sekarang dan akan datang itu dengan istilah “Zaman Now”. Sekali lagi, mungkin.

Nelayan melempar jaring. (Ilustrasi/google.com)
Nelayan melempar jaring. (Ilustrasi/google.com)

MataMaduraNews.comSUMENEP – Perubahan zaman merupakan suatu hal yang mesti dan bersifat alamiah. Segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu berubah, karena hidup ibarat roda yang bergerak dinamis. Sehingga kesimpulan yang bisa ditarik ialah tak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri.

Namun, tradisi dan budaya merupakan dua hal yang beda. Tradisi dan budaya justru tidak boleh tergerus dan luntur akibat perubahan. Mereka harus dilestarikan. Mengapa?

Dalam peribahasa kuna Sumenep terdapat kalimat ja’ padhana dangdang (jangan seperti burung gagak). Apa yang dimaksud jangan seperti burung gagak? Gagak atau mano’ dangdang kata orang Sumenep menurut legendanya merupakan burung yang memiliki suara paling bagus dan cara berjalan yang paling baik. Namun dangdang sering meniru suara dan cara berjalan binatang lain. Sehingga pada akhirnya, dangdang pun lupa cara berkicau yang baik dan cara berjalan yang baik. Suara dangdang jadi serak dan menakutkan, serta berjalannyapun berubah menjadi meloncat-loncat.

Melestarikan budaya sejatinya untuk menjaga identitas suatu bangsa. Tentu tidak lucu saat pengetahuan tentang sejarah di kawasan Madura ditulis dan dikuasai oleh orang di luar Madura. Dan yang lebih tidak lucu, saat orang Sumenep mempelajari sejarah ibunya berdasar literatur yang dibuat orang asing. Masyarakat yang seperti ini seperti masyarakat dangdang.

Salah satu tradisi dan budaya di Madura yang kini masih patut mendapat apresiasi ialah tradisi rokat. Rokat pun bermacam-macam, yang paling populer ialah rokat nelayan atau rokat tase’ alias petik laut. Tradisi ini masih memiliki ruang penghormatan yang luas utamanya di kalangan masyarakat pesisir, seperti di wilayah pesisir selatan Sumenep. Yakni di kawasan kecamatan Kalianget dan Saronggi. Khusus di dua kawasan itu, tradisi ini memiliki benang merah dengan sejarah garam, dan budaya Nyadhar.

 

Rokat Pagan dan Rokat Jaring

Kecamatan Kalianget memiliki empat desa serumpun. Serumpun di sini meliputi tradisi dan hubungan kekerabatan sekaligus genealogi. Empat desa itu ialah Desa Marengan, Kertasada, Karanganyar, dan Pinggirpapas. Tidak seperti tradisi rokat di beberapa desa kuna di Sumenep, ada dua istilah rokat di kawasan ini, yakni rokat pagan dan rokat Jaring.

”Cuma waktu pelaksanaannya tidak sama,” kata Salehoddin, salah satu warga di Desa Karanganyar beberapa waktu lalu.

Menurut Salehoddin, tradisi rokat pagan diselenggarakan oleh para nelayan yang  mencari ikan dengan sistem pagan, yakni memancangkan bambu-bambu untuk menjerat ikan. Pagan tersebut menurut Salehoddin tidak dijaga. Namun keesokan harinya baru para nelayan memeriksa hasil tangkapan ikan yang terjerat dalam pagan.

”Jadi, tidak menggunakan perahu,” tambahnya, pada Mata Madura.

Pagan. (Foto/Istimewa)
Pagan. (Foto/Istimewa)

Rokat pagan tersebut biasanya berlangsung dalam sepekan. Rokat juga biasanya akan ditutup dengan acara pertunjukan ludruk dari kelompok-kelompok dari dua kecamatan yang serumpun itu.

Lalu apa saja ritual dari rokat tersebut?

”Secara sederhananya rokat ini ialah sarana doa. Jadi, ini merupakan tradisi sejak dulu kala yang biasa dilakukan para leluhur di sini agar usaha nelayan banyak mendatangkan untung. Sekaligus juga merupakan prosesi bersyukur pada Allah SWT atau segala karuniaNya,” jawab Salehoddin.

Sehingga, sejatinya rokat merupakan ritual pembungkus. Yang dibungkus ialah acara berdoa dan selamatan. Unsur-unsur rokat juga tidak bisa dipisahkan dari agama Islam. Di sana ada pengajian, bacaan dzikir, dan juga memuat kegiatan shadaqah. Namun di Karanganyar juga ada unsur lain yang tidak berdasar tradisi dan ajaran Islam.

”Ada ritual adu ayam. Tapi di sana tidak disisipi taruhan atau judi. Ya, ini tetap berjalan. Karena memang sudah ada sejak dulu, sejak leluhur. Kami juga tidak mengerti maksudnya,” pungkas Salehoddin.

Sementara Desa Pinggirpapas yang merupakan desa tetangga dari Karanganyar juga memiliki tradisi rokat serupa yang bernama Rokat Jaring. ”Ya sama pada hakikatnya dengan yang di Karanganyar. Tapi kalau yang di sini nelayan jaring dan menggunakan perahu,” jelas H Abdul Hayat atau Haji Obet, Kepala Desa Pinggirpapas.

 

Bermula dari Nyadhar

Menurut Haji Obet, secara garis besarnya, tradisi di kawasan empat desa serumpun di Kalianget ini ada tiga. Yakni rokat dhisa (desa: Indonesia), rokat tase’ (petik laut), dan Nyadhar.

”Cuma kalau nyadhar itu pusatnya di Desa Kebundadap, Kecamatan Saronggi,” kata kepala desa dua periode tersebut beberapa waktu lalu.

Berdasar cerita turun-temurun, Nyadhar bercikal bakal pada wejangan Anggasuto, sang penemu garam agar manusia tidak lupa pada Sang Pemberi rejeki. Kata Nyadhar sendiri berawal dari nadzar Anggasuto jika pada tanggal dan bulan panas matahari (musim kemarau) tahun pertama dari berhasilnya usaha garam tetap memberikan hasil, akan melakukan upacara tanda syukur.

Tata cara Nyadhar seperti yang diajarkan Anggasuto sangat bernuansa Islami. Seperti syarat bahwa Nyadhar tidak boleh dilakukan sebelum tanggal 12 Rabi’ul Awwal atau hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Syarat lain, bahwa selamatan Nyadhar tidak boleh melebihi besarnya selamatan Maulid Rasul. Di samping itu juga ada syarat bahwa peserta Nyadhar terlebih dulu diwajibkan untuk merayakan Maulid Nabi SAW sebelum merayakan Nyadhar.

”Jadi, tetap pada koridor agama,” tambah Obet.

Berawal dari Nyadhar ini, tradisi rokat dan petik laut ini muncul. Tradisi ini terus hidup dan melekat dalam rutinitas tahunan masyakarat kawasan ini. ”Makanya dalam tradisi Nyadhar itu, salah satu ritualnya harus dilakukan di Pinggirpapas. Karena memang di sinilah kampung halaman dan kediaman Onggusuto,” pungkas Obet.

| RBM Farhan Muzammily

Tinggalkan Balasan