Berita UtamaNasional

Viral Video Roti MBG Berjamur di Sapudi

×

Viral Video Roti MBG Berjamur di Sapudi

Sebarkan artikel ini
Roti MBG
Saat ibu ibu siswa menunjukkan Roti MBG yang viral do medsos TikTok.

matamaduranews.com -SUMENEP – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, Sumenep, menjadi perbincangan hangat di kalangan warga, terutama para orang tua siswa. Sejumlah makanan yang dibagikan dalam program tersebut disebut tidak layak dikonsumsi.

Keluhan itu bermula dari curhatan seorang ibu siswa yang kemudian diunggah dalam bentuk video di TikTok hingga viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, terlihat Roti MBG yang dibagikan kepada siswa dalam kondisi berjamur. Selain itu, ada ibu siswa juga menunjukkan buah manggis yang disebut sangat keras hingga sulit dibuka.

Bahkan si ibu itu memperagakan bagaimana buah manggis tersebut tetap utuh meski beberapa kali dipukulkan ke lantai tegel rumahnya.

Video tersebut memicu gelombang kritik dari masyarakat. Sejumlah warga mempertanyakan kualitas pengawasan dalam pelaksanaan program MBG yang selama ini digadang-gadang sebagai program strategis pemerintah dalam pemenuhan gizi anak.

Di tengah polemik itu, pihak penyuplai lokal Lilik Bakery akhirnya memberikan klarifikasi mengenai kronologi distribusi roti yang menjadi sorotan publik.

Penyuplai: Masalah Bukan di Produksi

Wilda, perwakilan Lilik Bakery, menjelaskan bahwa roti pisang yang diproduksi oleh usahanya untuk Porogram MBG telah dibuat dengan standar kualitas yang baik. Dan masa simpan  cukup lama apabila disimpan dalam kondisi normal.

BACA JUGA :  Selewengkan Dana PKH, Mantan Sekdes dan Pendamping PKH di Bangkalan Masuk Bui

“Roti pisang produksi kami bisa bertahan sekitar lima hari di suhu ruang. Bahkan beberapa jenis roti lainnya bisa sampai tujuh hari,” ujarnya.

Namun, menurut Wilda, persoalan muncul pada proses distribusi di lapangan.

Dijelaskan, pesanan roti diambil Dapur MBG Gayam pada Minggu, 22 Februari 2026, dengan rencana pembagian kepada siswa pada Senin, 23 Februari 2026.

Fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. Salah satu sekolah diketahui baru membagikan roti tersebut pada Rabu, 25 Februari 2026, atau tiga hari setelah pengambilan dari rumah produksi.

Menurut Wilda, penundaan tersebut berpotensi memicu munculnya jamur, terlebih jika roti disimpan dalam kondisi lembap dan ditumpuk.

“Kalau makanan siap saji ditunda pembagiannya selama beberapa hari, apalagi penyimpanannya tidak baik, tentu kualitasnya bisa menurun,” jelasnya.

Pernyataan Kepala Dapur Picu Kritik

Kontroversi semakin memanas setelah muncul pernyataan Kepala SPPG Gayam, Zainul Mujib, yang sempat menyebut roti tersebut masih aman dikonsumsi.

Ia bahkan menyatakan siap bertanggung jawab apabila terjadi keracunan pada siswa.

Pernyataan tersebut menuai kritik dari masyarakat. (*)