OpiniPolitik

Mas Rio Bupati Situbondo ke Sapudi: Berhasrat Maju ke Pilgub Jatim?

×

Mas Rio Bupati Situbondo ke Sapudi: Berhasrat Maju ke Pilgub Jatim?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gus Dolla*

Mas Rio
Mas Rio saat di atas Kapal TNI menyeberangi laut Madura menuju Pulau Sapudi dengan latar Pulau Sapudi yang dicipta oleh AI.

matamaduranews.com-Kunjungan Bupati Situbondo, Mas Rio, ke Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, melahirkan beragam tafsir. Ia memang datang bersama rombongan kiai tersohor dari Situbondo ke Sapudi. Namun kedatangannya terjadi di tengah situasi yang sedang hangat dibicarakan publik: wacana “Sapudi Gelap.”

Ya, Sapudi tengah mengalami krisis listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sapudi sudah berbulan-bulan bermasalah. Masyarakat menghadapi kondisi listrik yang sering nyala dan padam—seolah menjadi bagian dari rutinitas kehidupan warga di pulau tersebut.

Di tengah persoalan listrik yang belum kunjung tuntas serta keterisolasian wilayah kepulauan, kehadiran kepala daerah dari kabupaten lain justru memunculkan pertanyaan yang lebih politis: apakah ini murni solidaritas antarwilayah, atau bagian dari langkah awal membangun panggung menuju kontestasi yang lebih besar—yakni Pemilihan Gubernur Jawa Timur?

Sapudi, dalam beberapa waktu terakhir, telah menjadi simbol keterbatasan layanan publik di wilayah kepulauan. Krisis air minum saat kemarau, krisis listrik akibat ketergantungan pada mesin diesel, serta minimnya infrastruktur dasar menjadikan pulau ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga isu politik pembangunan.

Dalam konteks seperti itu, setiap kunjungan kepala daerah dari luar wilayah memiliki makna simbolik yang kuat. Ia bisa dibaca sebagai bentuk empati, tetapi juga sebagai investasi citra.

Mas Rio tampak memahami momentum tersebut. Dengan datang langsung ke wilayah yang selama ini terasa jauh dari pusat perhatian, ia menampilkan diri sebagai pemimpin yang responsif terhadap problem masyarakat kepulauan—sebuah isu yang sangat relevan dalam politik Jawa Timur, khususnya di kawasan Tapal Kuda dan Madura.

BACA JUGA: Mas Rio, Setahun Tanpa Banyak Kata

Secara geografis dan elektoral, wilayah kepulauan seperti Sapudi, Raas, Kangean, hingga pulau-pulau kecil lainnya memang tidak selalu menjadi penentu utama dalam peta suara provinsi. Namun secara simbolik, wilayah-wilayah ini sering menjadi panggung moral politik: siapa yang hadir ketika daerah lain abai, dialah yang berpotensi memperoleh legitimasi sosial.

BACA JUGA :  Keajaiban 39 Suara Bisa Duduk di Kursi DPRD Sumenep

Dalam logika politik modern, kunjungan ke daerah yang sedang mengalami krisis bukan hanya soal solusi teknis, tetapi juga soal narasi kepemimpinan. Pemimpin yang terlihat turun langsung ke lapangan akan lebih mudah membangun persepsi sebagai sosok yang peduli, tanggap, dan berani mengambil peran di luar batas administratifnya. Persepsi inilah yang sering menjadi modal awal dalam kontestasi tingkat provinsi.

Jika dilihat dari sudut pandang strategi politik, langkah seperti ini bukan hal baru. Banyak tokoh daerah yang mulai memperluas jangkauan pengaruhnya dengan hadir di wilayah lain, terutama wilayah yang memiliki problem publik yang nyata dan mudah dipahami masyarakat. Dengan kata lain, kunjungan ke Sapudi dapat dibaca sebagai bentuk ekspansi ruang pengenalan publik, bukan sekadar kegiatan pemerintahan biasa.

Namun demikian, publik juga perlu melihatnya secara proporsional. Tidak setiap kunjungan kepala daerah harus dimaknai sebagai manuver politik menuju Pilgub. Bisa jadi, kehadiran tersebut benar-benar dilandasi kepedulian atau kerja sama antardaerah. Tetapi dalam politik, niat dan persepsi sering berjalan beriringan. Apa yang dilakukan hari ini bisa menjadi fondasi citra untuk pertarungan esok hari.

Di sinilah Sapudi menjadi lebih dari sekadar pulau. Ia berubah menjadi panggung politik yang sunyi namun strategis. Siapa pun yang hadir membawa solusi nyata akan dikenang sebagai pemimpin yang peduli. Sebaliknya, siapa yang hanya datang membawa simbol tanpa perubahan akan cepat dilupakan oleh masyarakat.

Maka, pertanyaan tentang apakah kunjungan Mas Rio ke Sapudi berkaitan dengan ambisi menuju Pilgub Jawa Timur mungkin tidak perlu dijawab secara eksplisit sekarang. Politik sering bekerja dalam tanda-tanda kecil yang baru terbaca maknanya setelah waktu berjalan.

Yang jelas, setiap langkah pemimpin di ruang publik selalu memiliki dua dimensi: pelayanan dan pencitraan. Dan dalam dinamika politik daerah, keduanya hampir tidak pernah benar-benar terpisah. (*)

*pemerhati kebijakan publik

Tinggalkan Balasan