BudayaOpiniReligi

Kenapa Banyak Santriwati Menjadi Korban Oknum Pengasuh?

×

Kenapa Banyak Santriwati Menjadi Korban Oknum Pengasuh?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gus Ibad*

Oknum Kiai
Ilustrasi by AI

matamaduranews.com-Ini bukan kasus pertama. Sudah berulang kali muncul peristiwa di mana oknum pengasuh pondok pesantren terseret tindak pidana seksual yang melibatkan santriwati.

Beragam respons bermunculan. Salah satu yang paling sering disorot adalah doktrin kepatuhan absolut santri kepada pengasuh—bahwa santri harus patuh sepenuhnya, tanpa ruang untuk bertanya, apalagi mengkritik.

Tulisan ini mencoba meluruskan: dari mana sebenarnya doktrin itu berasal, bagaimana bisa tumbuh dan lestari dalam tradisi pesantren, dan di titik mana mengalami penyimpangan hingga disalahgunakan untuk kepentingan individu atau kelompok.

Dalam literatur klasik, relasi guru dan murid yang memiliki makna mendalam bisa ditemukan dalam tradisi sufisme. Di Indonesia-tradisi sufi itu identik dengan kehidupan pondok pesantren salafi.

Pada masa awal kelahiran sufisme, hubungan antara murid dan guru diikat dalam kerangka adab. Seorang murid dituntut untuk beradab secara sungguh-sungguh kepada gurunya, sebagai syarat agar ilmu yang diperoleh menjadi bermanfaat.

Makna beradab ini berkaitan erat dengan pentingnya bimbingan seorang guru dalam menempuh ilmu yang haq, yakni ilmu menuju kebenaran hakiki dan pengenalan kepada Allah (ma‘rifatullah).

Seorang murid (salik) pasti membutuhkan bimbingan seorang guru spiritual (mursyid), karena perjalanan menuju maqam makrifat bukanlah jalan yang mudah. Dengan bimbingan sang mursyid, seorang murid (salik) dapat menapaki kedekatan kepada Allah dengan nyata.

Karena itu, adab kepada guru ditekankan—bukan sebagai bentuk kepatuhan buta, melainkan sebagai cara menjaga kemurnian proses belajar dan perjalanan batin, agar ilmu yang diajarkan benar-benar memberi manfaat ketika diamalkan.

Hal ini seperti dawuh Syekh Abdul Wahab asy-Sya’rani dalam Kitab Latha’if al-Minan. Beliau mengakui bahwa dirinya pernah berada pada fase “kering” secara spiritual. Beliau mengaku telah membaca dan menghafal banyak kitab, namun belum merasakan kedekatan hakiki dengan Allah.

Perubahan itu terjadi setelah bertemu dan dibimbing oleh seorang mursyid. Dari bimbingan Sang Mursyid. Syekh Sya’rani memahami perbedaan antara ilmu yang hanya berhenti pada teks dan lisan dengan ilmu yang hidup dalam hati—antara yang haq dan yang semu.

Pernyataan Syekh Sya’rani menegaskan pentingnya adab kepada guru bukanlah bentuk penyerahan diri tanpa nalar, melainkan kebutuhan dalam proses transformasi batin.

Pandangan Syekh Sya’rani sejalan dengan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beliau menegaskan bahwa ilmu tanpa pembinaan ruhani dapat menjerumuskan pada kesombongan dan ilusi kebenaran. Beliau bahkan mengingatkan:

BACA JUGA :  Mengenal Sosok Kiai Daud Barangbang, "Kiai Ali II"

“Barang siapa tidak memiliki guru, maka setanlah gurunya.”

Pernyataan Sang Imam Al Ghazali bukan ajakan pada kepatuhan absolut, melainkan peringatan bahwa tanpa bimbingan, seseorang rentan tersesat dalam memahami dirinya dan Tuhannya.

Hal serupa ditegaskan oleh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam. Beliau mengingatkan bahwa salah satu jebakan terbesar dalam perjalanan spiritual adalah merasa cukup dengan amal dan ilmu sendiri:

“Di antara tanda bersandar pada amal adalah berkurangnya harap ketika terjadi kesalahan.”

Artinya, tanpa bimbingan yang benar, seseorang mudah terjebak dalam penilaian diri yang keliru—merasa sudah benar, padahal belum menyentuh hakikat.

Dari Adab ke Dominasi

Masalah muncul ketika konsep adab mengalami reduksi. Makna spiritual yang semula sakral berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Relasi yang seharusnya berbasis bimbingan bergeser menjadi relasi dominasi.

Di titik inilah penyimpangan bermula.

Ketika kepatuhan dimaknai secara absolut tanpa kesadaran, tanpa ruang kritik, dan tanpa mekanisme kontrol, doktrin tersebut menjadi rentan disalahgunakan. Terutama oleh oknum yang menjadikan posisi pengasuh bukan sebagai amanah, melainkan sebagai alat kuasa.

Kasus-kasus asusila yang menimpa santriwati tidak lahir dari ajaran adab itu sendiri, melainkan dari distorsi terhadap maknanya.

Guru Sejati dan Penyimpangan Makna

Dalam pandangan tasawuf, guru sejati itu—mursyid ‘arif billah—adalah sosok yang telah “selesai” dengan urusan dunia. Pandangannya terhadap dunia menjadi hambar, sementara hati dan ruhnya dipenuhi kedekatan dengan Sang Khalik.

Sebagaimana dawuh yang dinisbatkan kepada Gus Dolla:

“Guru sejati itu tidak lagi terpaut pada dunia. Hati dan ruhnya telah larut dalam kemesraan bersama Allah.”

Mengembalikan Adab ke Maknanya

Dengan demikian, yang perlu dikritisi bukan ajaran adab itu sendiri, melainkan praktik yang menyimpang dari nilai-nilai dasarnya.

Tugas kita bukan menghapus tradisi, tetapi mengembalikan maknanya: bahwa adab adalah jalan pembinaan, bukan alat pembenaran kekuasaan. Bahwa guru adalah pembimbing ruhani, bukan pemilik otoritas absolut atas murid.

Di situlah batas yang harus dijaga—agar ilmu tetap menjadi cahaya, bukan justru membuka ruang bagi kegelapan.

*alumni pesantren salaf tinggal di Sumenep

Tinggalkan Balasan