Aksi Borong Istri Bupati Fauzi

matamaduranews.comSUMENEP-Petani di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur lagi pusing, khususnya nasib petani cabai rawit dipertaruhkan.

Pasalnya, harga cabai rawit anjlok di kala ekonomi terhimpit akibat pandemi Covid-19. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga.

Menangani situasi seperti sekarang ini tentu butuh strategi yang inovatif. Tidak sekadar upaya dan rencana semata, yang kadang hilang di ‘atas meja’ penguasa.

Adalah Nia Kurnia, istri Bupati Sumenep Achmad Fauzi, yang bergerak secara spontan melakukan upaya nyata. Mengobati luka hati petani yang tersayat soal harga.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Sumenep itu memborong cabai rawit petani di Desa Basoka, Kecamatan Rubaru.

Aksi borong oleh Nia Kurnia Fauzi yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumenep dilakukan, Kamis (2/9/2021).

Saat itu, Nia yang kebetulan lewat di area pertanian sepulang dari sebuah acara di Kecamatan Rubaru melihat cabai rawit merah dan masih utuh di rantingnya.

Nia yang juga Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Sumenep merasa heran, kenapa cabai rawit itu tidak dipanen.

Akhirnya, dia pun bertanya kepada ibu-ibu pengurus PKK yang ikut mendampingi. Ternyata, cabai rawit itu sengaja dibiarkan oleh pemiliknya lantaran harga jual salah satu komoditas sayuran tersebut anjlok di pasaran.

“Di perjalanan saya melihat kebun cabai dengan buah yang utuh, padahal sudah merah. Terus saya bertanya ke ibu-ibu PKK desa, kenapa itu tidak dipanen. Kata mereka, kalau dipanen itu tidak sebanding dengan harga jual saat ini,” cerita istri Bupati Fauzi.

BACA JUGA :  Bupati Busyro Berharap BUMDes Dikelola Maksimal

“Saya membeli cabai rawit dan bawang merah langsung dari petani, sebagai salah satu upaya membantu menstabilkan harganya,” imbuh Nia Kurnia.

Dia  juga menyampaikan bahwa saat ini harga dua komoditas itu di pasaran sangat murah. Harga cabai rawit sekitar Rp 5.000,00 per kilogram, sedangkan bawang merah kering Rp 14.000,00 per kilogram.

“Tentu saja dengan harga itu petani merugi karena harga penjualan tidak sesuai dengan biaya tanam hingga panennya,” ujar Bu Nia.

Atas dasar itu, dirinya mengajak seluruh pengurus PKK, Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat Sumenep untuk bersama-sama membeli cabai rawit dan bawang merah dari petani.

“Salah satu solusi konkret membantu kesulitan petani saat ini dengan membeli cabai rawit dan bawang merah hasil panen dari petani sebagai konsumsi kebutuhan sehari-hari,” papar Bu Nia.

Nia Kurnia Fauzi memborong cabai rawit sebanyak 3 kwintal dengan harga Rp 7.500,00 per kilogram dan bawang merah 2 kwintal seharga Rp 15.000,00 per kilogram.

Dengan pembelian harga lebih tinggi itu, diharakan petani bisa mendapatkan keuntungan lebih besar dari harga pasar.

“Kami (PPK Kabupaten Sumenep) secara bertahap akan melakukan pembelian cabai rawit dan bawang merah petani, jika harga belum stabil,” tuturnya.

Usai memborong, setiba di rumahnya, Nia Kurnia membungkus ratusan kilogram cabai rawit dan bawang merah segar dalam kemasan plastik.

“Cabai rawit dan bawang merah ini dibagi-bagikan kepada warga di sekitar lingkungan, supaya mereka berkeinginan membeli panen petani,” tutup Bu Nia.

Rusydiyono, Mata Madura

Komentar