Camat Rubaru Cerita di Balik Aksi Borong Istri Bupati Fauzi

matamaduranews.comSUMENEP-Camat Rubaru, Arif Susanto memiliki cerita bagaimana Nia Kurnia, istri Bupati Sumenep Achmad Fauzi bisa tiba-tiba memborong cabai rawit dan bawang merah petani pada Kamis (2/9/2021) kemarin.

Aksi borong Nia Kurnia, kata Camat Arif berawal saat istri Bupati Fauzi itu melakukan kunjungan dalam rangka pembinaan TP PKK di Kecamatan Rubaru, Rabu (1/9/2021).

Kebetulan Bu Nia, sapaan akrab Ketua TP PKK Kabupaten Sumenep, menghadiri kegiatan sosialisasi keluarga berencana yang digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A & KB) Kabupaten Sumenep.

Sepulang dari acara itulah, Bu Nia melihat banyak cabai rawit dan bawang merah yang tidak dipanen oleh petani.

Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Sumenep itu pun merasa heran, dan bertanya kepada ibu-ibu PKK yang ikut mendampingi kenapa cabai rawit tersebut tidak dipanen

“Pengurus PKK yang mendampingi memberitahu Ibu Bupati kalau cabai rawit itu sengaja dibiarkan oleh pemiliknya lantaran harga jualnya sekarang lagi anjlok di pasaran,” jelas Camat Rubaru, Jumat (3/9/2021).

BACA JUGA :  1 Januari 2020 Cukai Naik. Berikut Prediksi Harga Rokok di Eceran

Baca Juga: Aksi Borong Istri Bupati Fauzi

Dari situ Bu Nia tergerak untuk membantu meringankan beban petani. Sehingga, istri Bupati Fauzi tersebut memborong cabai rawit dan bawang merah punya petani.

“Ibu Nia Kurnia Fauzi memborong cabai rawit sebanyak 3 kwintal dengan harga Rp 7.500,00 per kilogram. Sedangkan bawang merah diborong sebanyak 2 kwintal seharga Rp 15.000,00 per kilogram” ujar Camat Arif.

Dengan harga tersebut, diharapkan petani mendapatkan keuntungan lebih besar dari harga pasar. Sehingga, para petani tetap semangat untuk terus bertani cabai rawit dan bawang merah di lahan mereka.

“Saya berharap para petani tidak pernah  putus asa untuk selalu menghasilkan produk tani sebaik-baiknya. Insyaallah segala kesulitan akan ada jalan yang terbaik untuk meningkatkan taraf hidup,” pungkasnya.

Wardi, Mata Madura

Komentar