Habib Rizieq dan Menghormati Ahlul Bait

Mata Madura - 24/01/2021
Habib Rizieq dan Menghormati Ahlul Bait
Habib Rizieq dan Menghormati Ahlul Bait - ()
Penulis
|
Editor
Link Banner

matamaduranews.com-Sosok Habib Rizieq Shihab tak henti jadi perbincangan publik. Antara keturunan Nabi Muhammad SAW (dzurriyah Rasul atau ahlul bait) yang perlu dihormati atau tidak.

Ketua Lembaga Pencatatan Nasab Maktab Daimi Rabithah Alawiyah, Ustaz Ahmad Alatas, menegaskan bahwa Habib Rizieq Shihab adalah keturunan Nabi Muhammad SAW yang ke-39.

Tak mengherankan, ulama kondang asal Betawi, KH Munawir Aseli mengungkapkan kesedihannya melihat saat Habib Rizieq saat ditahan Polda Metro Jaya pada Minggu, 13 Desember 2020, lalu.

Dia mengaku sangat terpukul dan menangis ketika melihat keturunan Rasulullah SAW diperlakukan seperti itu, pakai baju oranye. Tangannya diborgol.

Begitu Kiai Munawir menyampaikan saat saat memberikan ceramah di Masjid Al Abror, Menteng Dalam Tebet dan diunggah pada kanal Salwa Media Channel di YouTube.

Anjuran Menghormati Ahlul Bait dalam Alquran

Setiap Muslim, dianjurkan untuk memuliakan dan menghormati para ahlul bait atau keturunan Rasulullah SAW.

Ahlul bait merupakan keturunan suci Rasulullah SAW yang memiliki ikatan nasab, mereka adalah keturunan Fathimah sampai hari kiamat. Demikian yang dijelaskan Imam Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab.

Anjuran untuk menghormati ahlul bait ini termaktub dalam Alquran; Allah SWT berfirman:

ذٰلِكَ الَّذِيْ يُبَشِّرُ اللّٰهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Artinya: Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Asy-Syura: 23)

Abdullah ibnu Abbas RA menafsiri, ayat di atas merupakan wasiat (anjuran) serta perintah untuk memperlakukan ahli bait dengan perlakuan yang baik dan menghormati serta memuliakan mereka (ahlul bait).

Karena sesungguhnya mereka berasal dari keturunan yang suci dari ahli bait yang paling mulia di muka bumi ini dipandang dari segi keturunan, kedudukan, dan kebanggaannya.

Terlebih lagi bila mereka benar-benar mengikuti sunnah nabi yang sahih, jelas, dan gamblang; seperti yang telah dilakukan oleh para pendahulu mereka, misalnya Al-Abbas dan kedua putranya, Ali dan ahli bait serta keturunannya.

Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.

Di dalam hadis sahih telah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. dalam khotbahnya di Gadir Khum (nama sebuah mata air) telah bersabda:

“إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي، وَإِنَّهُمَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ”

Sesungguhnya aku menitipkan kepada kalian dua perkara yang berat, yaitu Kitabullah dan keturunanku (ahli baitku), dan sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan sebelum keduanya sampai di telaga (ku).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Abu Khalid, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdullah ibnul Haris, dari Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Quraisy itu apabila sebagian dari mereka bersua dengan sebagian yang lain, mereka menjumpainya dengan wajah, yang cerah dan baik. Tetapi bila mereka bersua dengan kami, maka mereka menjumpai kami dengan wajah yang kami tidak kenal (dengan muka tidak sedap).”

Maka Nabi Saw. marah sekali, lalu bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, iman masih belum meresap ke dalam hati seseorang sebelum dia menyukai kalian karena Allah dan Rasul-Nya. Yakni sebelum mencintai ahli bait Rasulullah Saw demi karena Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdul Muttalib ibnu Rabiah yang menceritakan bahwa Al-Abbas radhiallahu anhu masuk menemui Rasulullah Saw, lalu berkata,

“Sesungguhnya kami benar-benar keluar dan kami lihat orang-orang Quraisy sedang berbicara dengan asyik. Tetapi bila mereka melihat kami, maka mendadak mereka diam.

” Maka Rasulullah Saw marah dan mengernyitkan dahinya, kemudian bersabda: Demi Allah, iman masih belum meresap ke dalam kalbu seseorang muslim sebelum dia mencintai kamu karena Allah dan karena kekerabatanku. Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Abu Bakar As-Siddiq radhiallahu anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu,

“Demi Allah, sesungguhnya hubungan kerabat dengan Rasulullah Saw lebih aku sukai daripada aku menghubungkan persaudaraan dengan kerabatku sendiri.” Umar ibnul Khattab pernah berkata kepada Al-Abbas r.a,

“Demi Allah, sesungguhnya keislamanmu di hari engkau masuk Islam lebih aku sukai ketimbang keislaman Al-Khattab seandainya dia masuk Islam. Karena sesungguhnya keislamanmu lebih disukai oleh rasulullah Saw. daripada keislaman Al-Khattab.”

Demikianlah sikap kedua Syekh (Abu Bakar dan Umar) dan hal ini merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk meniru jejaknya.

Karena itulah maka keduanya merupakan orang mukmin yang paling utama sesudah para nabi dan para rasul; semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada keduanya, juga kepada semua sahabat Rasulullah.

Anjuran menghormati dan tidak menghina ahlul bait juga termaktub dalam Surat Al Ahzab: 33. Allah SWT berfirman:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

Artinya: Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak meng­hilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al Ahzab: 33)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musab, telah menceritakan kepada kami Al-Auzai, telah menceritakan kepada kami Syaddad Abi Ammar yang telah menceritakan bahwa ia masuk ke dalam rumah Wasilah ibnul Asqa ra yang pada saat itu ia sedang berbicara dengan suatu kaum.

Lalu mereka menceritakan perihal Ali ibn Abi Thalib radhialllahu anhu ternyata mereka mencacinya, lalu ia ikut mencacinya pula mengikuti mereka. Setelah mereka bubar meninggalkan Wasilah, lalu Wasilah bertanya kepadaku (perawi),

“Mengapa engkau ikut mencaci Ali?” Aku menjawab, “Aku lihat mereka mencacinya, maka aku ikut mencacinya bersama mereka.” Wasilah bertanya,

“Maukah aku ceritakan kepadamu apa yang pernah kulihat dari Rasulullah Saw.?” Aku menjawab, “Tentu saja aku mau. ” Wasilah menceritakan pengalamannya, bahwa ia pernah datang kepada Fatimah r.a. menanyakan sahabat Ali r.a. Fatimah menjawab bahwa Ali sedang pergi menemui Rasulullah Saw. Aku (perawi) menunggunya hingga Rasulullah Saw. datang dengan ditemani oleh Ali, Hasan, dan Husain radiyallahu anhum; masing-masing dari mereka saling berpegangan tangan.

Kemudian Rasulullah Saw. masuk dan mendekatkan Ali dan Fatimah, lalu mendudukkan keduanya di hadapannya. Nabi SAW lalu memangku Hasan dan Husain, masing-masing pada salah satu pahanya. Sesudah itu beliau Saw. melilitkan kain atau jubahnya kepada mereka dan membaca ayat berikut, yaitu firman Allah Swt:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (Al-Ahzab: 33)

Lalu beliau Saw. berkata dalam doanya: Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku (keluargaku), dan ahli baitku lebih berhak. Wallahu A’lam Bishowab.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Isra dan Al Ahzab.

redaksi

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->