Kisah Imam Syafi’i Lahir dan Wafat

Mata Madura - 29/06/2020
Kisah Imam Syafi’i Lahir dan Wafat
 - ()
Penulis
|
Editor
Link Banner

matamaduranews.com-Bagi mayoritas muslim Indonesia, nama Imam al-Syafi’i sudah tak asing. Beliau dikenal sebagai pencetus Madzhab Syafi’i. Sebuah madzhab fikih beraliran suni cukup banyak dianut di Indonesia.

Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas bin ‘Usman bin Syaafi’ bin Saaib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Haasyim bin ‘Abdul Mutthalib bin ‘Abdul Manaf.

Ustaz Teuku Khairul Fazli Lc dalam buku Ushul Fiqih Mazhab Syafi’i yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan biografi singkat Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i merupakan satu-satunya imam mazhab dari keturunan Quraisy. Nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW melalui ‘Abdul Manaf. Rasulullah SAW bersabda, “kepemimpinan itu dari kalangan orang-orang Quraisy.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Fakhrurrazi salah satu ulama besar yang bermazhab Syafi’i berkata, Jurjani merupakan satu ulama dari kalangan mazhab Hanafi yang mencela nasabnya Imam Syafi’i.

Beliau juga berkata bahwa pengikut mazhab Maliki tidak mengakui bahwa nasab Imam Syafi’i berasal dari Quraisy.

Bahkan mereka beranggapan Syaafi’ yakni kakek ketiga Imam Syafi’i adalah budak Abu Lahab. Cerita hoaks ini sudah dibantah oleh mayoritas ulama pengikut mazhab Syafi’i.

Imam Nawawi mengatakan, ulama sepakat bahwa Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 Hijriyah yang bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah.

Imam Yaqut berkata, Imam Syafi’i lahir pada hari wafatnya Imam Abu Hanifah. Walaupun mayoritas ulama tidak memperhitungkan pendapat ini.

Para ulama berselisih pendapat mengenai di mana Imam Syafi’i dilahirkan.

Ada tiga pendapat. Pertama, Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza pada tahun 150 H. Pada umur tiga tahun pindah ke Makkah. Kedua, Imam Syafi’i dilahirkan di ‘Asqalan, jarak antara ‘Asqalan dengan Gaza sekitar 3 Farsakh dan kedua daerah ini masuk dalam wilayah Palestina.

Ketiga, Imam Syafi’i dilahirkan di Yaman, khawatir takut telantar, ibunya membawanya ke Makkah. Ini merupakan pendapat yang paling lemah di antara pendapat yang lainnya.

Mengenai pendapat pertama dan kedua walaupun secara dhahirnya kontradiksi, namun bisa dikompromikan. Perkataan Imam Syafi’i bahwa dirinya lahir di Gaza, maksudnya adalah desa.

Sedangkan perkataan Imam Syafi’i bahwa dirinya lahir di ‘Asqalan, maksudnya adalah kota. Kedua tempat tersebut sama-sama masuk dalam wilayah Palestina.

Imam Syafi’i menderita penyakit Beser yang sangat parah. Hingga menyebabkan beliau meninggal dunia.

Ada juga isu yang tersebar di tengah-tengah masyarakat bahwa beliau meninggal dunia karena pertikaian antara beliau dengan pemuda pengikut mazhab Maliki, karena kalah debat, pemuda ini melaporkan Imam Syafi’i ke Gubernur Mesir.

Akhirnya gubernur mengirim utusan untuk membunuh Imam Syafi’i. Akan tetapi kisah ini tidak bisa dipertanggungjawabkan keotentikannya.

Imam Syafi’i meninggal dunia pada malam Jumat setelah Maghrib. Ada juga yang mengatakan setelah Isya pada akhir bulan Rajab, tepatnya pada tahun 204 H dan beliau di kebumikan di Mesir. (republika)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->