Menu

Madura Tidak Sakti (Lagi)

Madura Tidak Sakti (Lagi)
Para jamaah bergamis dari Pamekasan saat turun dari mobil yang ditumpangi lalu melantunkan doa di depan petugas pos penyekatan akses Jembatan Suramadu sisi Surabaya, Jumat siang (7/5/2021).(matamadura.syaiful)

matamaduranews.com-Madureh elaben. Dalam Bahasa Indonesia artinya ‘’Madura dilawan’’, maksudnya orang Madura jangan dilawan.

Bukan karena jago berantem sampai carok adu clurit. Tapi orang Madura terkenal cerdas dan punya logika tinggi, sehingga sulit dikalahkan dalam perdebatan.

Orang Madura juga terkenal lucu humoris. Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun punya banyak koleksi humor-humor Madura yang dikumpulkan dalam kumpulan humor ‘’Mati Ketawa ala Madura’’, yang mirip dengan kumpulan humor ‘’Mati Ketawa ala Rusia’’ yang menjadi best seller di zaman Orde Baru.

Almarhum Gus Dur yang jago humor juga punya koleksi segudang mengenai humor Madura.

Gus Dur yang memberi pengantar pada buku ‘’Mati Ketawa ala Rusia’’ (Grafitti, 1986) punya cara sangat khas dalam menuturkan humor ala Madura, hingga membuat audiens ngakak sampai sakit perut.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga kader NU, ternyata punya selera humor ala Gus Dur juga.

Dalam beberapa kesempatan memberi sambutan Khofifah suka mengutip humor ala Madura.

Dalam sebuah kesempatan mengevaluasi perkembangan penanganan pandemi Covid 19 di Jawa Timur, Mei yang lalu, Khofifah mendapat laporan bahwa angka penularan Covid 19 sangat rendah di Madura.

Ketika itu, Khofifah sempat melontarkan komentar sambil bercanda, ‘’Orang Madura sakti-sakti’’. Maksudnya, orang Madura sakti tidak mempan ketularan Covid 19.

Tapi kali ini ternyata orang Madura tidak sakti dan tidak kebal menghadapi penularan pandemi. Angka penularan di Bangkalan tiba-tiba melonjak sampai pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Daerah Bangkalan ditutup selama empat hari kedepan.

Seorang dokter ahli diketahui meninggal akibat Covid 19 dan beberapa tenaga kesehatan di RS itu positif Covid 19.

Karena Bangkalan bersambung langsung dengan Surabaya melalui Jembatan Suramadu, pemerintah Provinsi Jatim langsung menutup akses itu.

Semua orang yang keluar masuk dari dan ke Madura melalui Suramadu dicegat dan diharuskan melakukan tes Antigen.

Sudah puluhan orang yang ketahuan positif. Rumah Sakit darurat untuk isolasi langsung didirikan di kaki jembatan di wilayah Bangkalan.

Kemacetan dan kepanikan terjadi. Banyak protes dari warga Madura yang hendak menuju ke Surabaya atau hendak ‘’toron’’ pulang ke Madura. Tapi, penjagaan gabungan dilakukan dengan ketat dan tanpa kompromi.

Ihwal protes memprotes dengan keras, orang Madura memang jagonya.

Mat Rojak, yang tinggal di sebuah desa di Sampang marah-marah, karena melihat antrean sembako untuk korban Covid 19 sangat panjang sampai puluhan meter. Ia berpikir, ini pasti karena kepala desa tidak becus mengatur warga sampai antrean mengular.

Mat Rojak pun memutuskan untuk protes kepada kepala desa.

Sesampai di kantor kepala desa Rojak kaget, karena antrean orang yang mau protes kepada kepala desa ternyata lebih panjang dari antrean sembako. ‘’Bo abo..kalau begini caranya lebih baik saya antre sembako saja..’’

Serombongan pemudik Madura dari Jakarta menyewa bus untuk mudik ke Madura via Surabaya.

Penumpang marah-marah ketika sopir mengarahkan bus ke arah penyeberangan Merak. Tapi pak sopir yang juga asli Madura menjamin bus akan sampai ke Surabaya. Sesampai di Merak bus dihentikan petugas.

Sopir ditanya dari mana dan mau kemana. Dijawab dari Surabaya mau ke Sumatera. Tidak bisa, harus putar balik ke Surabaya, kata petugas.

Sopir minta surat keterangan dari petugas supaya bisa balik ke Surabaya dan tidak dicegat lagi di tol Cipali. Petugas pun mengeluarkan surat jalan untuk balik ke Surabaya. Bus melaju ke Surabaya dengan lancar jaya. Madura dilawan!

Tapi hari-hari ini perkembangan Covid 19 di Madura tidak ada yang lucu, malah sebaliknya mengkhawatirkan.

Selama beberapa hari ke depan Madura praktis dilock-down karena semua akses menuju Surabaya ditutup dan dijaga dengan ketat.

Selain akses jembatan Suramadu, ada juga akses penyeberangan kapal dari pelabuhan Kamal, Bangkalan, ke Tanjung Perak Surabaya. Akses ini pun dijaga ketat oleh petugas. Ada akses lain lewat laut menuju pelabuhan Probolinggo maupun Banyuwangi, itupun sudah dijaga oleh petugas. Madura praktis terisolasi dari Jawa Timur.

Ungkapan Gubernur Khofifah bahwa orang Madura sakti-sakti memang sekadar bercanda.

Tapi, sebagian masyarakat Madura sepertinya merasa begitu. Mereka merasa kebal dari Covid 19. Kalau di tempat lain orang takut pada Covid, tapi di Madura Covid takut pada orang Madura.

Beberapa video yang viral menunjukkan warga Madura beraktifitas bebas tanpa penerapan prokes. Warga bebas berinteraksi tanpa memakai masker dan tidak menjaga jarak. Fasilitas mencuci tangan dengan air mengalir juga tidak banyak dijumpai.

Sebuah video memperlihatkan seseorang yang memakai masker malah ditegur oleh orang yang tidak bermasker, sambil mengatakan di Madura tidak ada Covid, jadi tidak perlu pakai masker.

Masyarakat Madura adalah perantau yang tangguh dan gigih.

Sebagian besar warganya bermigrasi ke seluruh wilayah Indonesia. Separoh dari warga kabupaten Bangkalan bekerja mencari nafkah di Surabaya.

Pada hari-hari raya Idul Fitri dan Idul Adha warga Madura berbondong-bondong ‘’toron’’ pulang kampung ke Madura.

Selama masa larangan mudik pada Lebaran 2021 berlaku mobilitas bisa dikontrol. Tapi, setelah masa larangan berakhir, mobilitas warga ke Madura menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Sebagaimana diprediksi oleh para ahli epidemiologi, ledakan kenaikan Covid 19 akan terjadi pada masa dua atau tiga minggu setelah Lebaran. Peningkatan kasus penularan di Madura ini membuktikan kebenaran prediksi itu.

Karakter masyarakat Madura yang sangat religius membuat aktifitas silaturrahim selama lebaran sangat tinggi. Hal ini menjadi salah satu pemicu penularan virus yang dibawa pemudik dari luar Madura.

Banyaknya pengajian dan aktivitas keagamaan yang mengumpulkan massa besar, menjadi faktor yang mempercepat penularan.

Ledakan penularan yang terjadi di Kudus, Jawa Tengah, juga terjadi karena aktivitas masyarakat yang tinggi dalam merayakan Lebaran Idul Fitri dan Lebaran Kupatan yang dirayakan seminggu setelah Hari Raya.

Dalam tradisi masyarakat Kudus, perayaan Kupatan justru lebih meriah dan lebih semarak dibanding perayaan Idul Fitri.Kupatan dirayakan pada 7 Syawal seminggu setelah Idul Fitri.

Dalam tradisi Islam, setelah selesai puasa Ramadhan ada puasa sunnah Syawal selama enam hari. Sebagian masyarakat langsung melaksanakan puasa Syawal pada hari kedua Lebaran.

Pada hari ketujuh Syawal itulah masyarakat merayakan Kupatan dengan memasak ketupat dan aneka lauk pauk. Pada kesempatan itulah masyarakat saling berkumpul, bersilaturahim, dan berwisata.

Momen itu yang diperkirakan menjadi salah satu episentrum ledakan kasus di Kudus. Kondisinya berkembang dengan cepat dan mencekam. Layanan kesehatan over load tidak mampu menampung pasien, dan stok oksigen menipis. Antrean pasien terlihat di koridor rumah sakit.

Suasananya jadi mirip kondisi di India, meski tidak setragis itu.

Ledakan kasus di Madura menciptakan kepanikan yang menjalar sampai ke Surabaya.

Rumah sakit di Bangkalan kapasitasnya terbatas sehingga pasien harus dirujuk ke Surabaya. Apalagi rumah sakit lokal harus ditutup sementara karena meninggalnya beberapa nakes.

Penyekatan Jembatan Suramadu tidak efektif karena masih banyak orang yang bisa menerobos penjagaan.

Ada indikasi munculnya varian virus baru yang menyebar di Madura yang diduga mutasi dari virus Afrika Selatan. Hal ini sangat memungkinkan karena warga Madura banyak yang menjadi PMI (pekerja migran Indonesia) di berbagai negara.

Ledakan penularan di Kudus punya pola yang hampir sama dengan kasus Madura. Aktivitas sosial yang tinggi dan sikap abadi terhadap prokes menjadi salah satu penyebabnya.

Menghadapi ledakan pandemi ini orang Kudus tidak kudus, dan orang Madura tidak sakti lagi. (dhimam abror djuraid)

sumber: kempalan

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

matajatim.id

Disway

Budaya

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: